Ngathok

Ngathok
Ilustrasi




Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Kata Ngathok dalam judul tulisan saya ini adalah kata khas dari kota kelahiran saya Surabaya yang kalau diterjemahkan secara bebas berarti “Cari Muka”, Pada jaman Orde Baru dulu ada singkatan yang maknanya sama dengan Ngatok tersebut yaitu ABS atau “Asal Bapak Senang”, apa yang dilakukan seseorang untuk menyenangkan pimpinan itu adalah. Dalam bahasa Inggrisnya “How to Please the Boss”.

Ngathok yang merupakan kata kerja atau Verb itu biasanya dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki keahlian artinya “mediocre” saja demi upayanya untuk mendapatkan promosi jabatan yang lebih tinggi. Ada berbagai macam cara Ngatok ini antara lain dengan ucapan “hanya bapak yang bisa memimpin lembaga ini”, “saya baru tahu ternyata bapak ini sangat visioner”, “saya dapat kesan dari rakyat bahwa bapak sangat perhatian pada rakyat” dsb dsb, kalau dalam sebuah percintaan seseorang yang mengatakan pada pasangannya “you are the only one” perlu diselidiki apakah itu hanya rayuan gombal, atau Ngatok atau memang perkataan yang jujur. Bentuk Ngatok lainnya adalah dengan perbuatan misalnya antara lain “selalu membawakan tasnya pimpinan padahal tidak disuruh”, selalu “munduk-munduk” – bahasa Jawanya menunduk-nunduk kalau berhadapan dengan pimpinan dsb. Orang semacam ini kalau dalam sebuah perusahaan berusaha menampakkan dirinya kalau dia adalah orang yang aktif, misalkan dalam sebuah event orang ini tidak pernah datang dalam setiap rapat panitia yang membahas pelaksanaan event, namun pada hari H nya dia muncul didepan pimpinan dan hadirin – riwa riwi membawa kamera kayaknya orang yang paling sibuk.

Budaya Ngatok atau cari muka ini tentu tidak didominasi dibudaya kita di Indonesia ini, karena pengalaman saya di luar negeri sering menyaksikan ada bawahan yang memuji-muji seorang pimpinan baik secara pribadi tatap muka tapi juga didepan umum. Kejadian ini saya saksikan di Amerika Serikat.

Dari sisi pemimpin, menurut saya ada dua kategori yakni pertama ada seorang pimpinan yang tidak sadar bahwa dia itu “Di Katoki” atau diperlakukan setinggi langit baik dengan puji-pujian atau tindakan dan dia menikmati sikap bawahannya yang Ngatok tadi. Kedua, ada seorang pimpinnan yang dia sadar dan tahu kalau bawahannya yang Ngatok itu tidak “sincere” atau ikhlas mengeluarkan kata-kata pujian, namun sang pimpinan ini malah senang dan menikmati tindakan Ngatok bawahannya itu. Saya bukan seorang psikolog – namun nampaknya sikap pimpinan seperti itu menandakan bahwa dia memiliki “sakit jiwa”.

Budaya Ngatok ini tentu sangat tidak baik bila terjadi disuatu institusi baik pemerintahan maupun non pemerintahan baik dibidang pendidikan, bisnis, militer, maupun dibidang organisasi kemasyarakatan. Hal ini disebabkan karena budaya Ngatok ini sering mem-bypass orang-orang yang sebenarnya pandai, memiliki kecakapan dalam bidangnya, punya integritas, sangat religious dsb untuk naik di jenjang kepangkatan selanjutnya- disebabkan yang bersangkutan tidak bisa melakukan tindakan Ngatok itu. Pimpinan perusahaan atau lembaga bila tidak sadar akan hal ini akan menyebabkan manajemen lembaganya tidak professional disebabkan tidak memanfaatkan SDM nya yang berkualitas. Pimpinan lembaga harus menyadari bahwa kelangsungan lembaganya dipertaruhkan kelangsungannya dimasa depan bila “memelihara” SDM yang punya karakter Ngatok itu.

Didalam dunia politik, kita sampai saat ini sering menyaksikan budaya Ngatok yang berkeliaran disekitar pimpinan baika itu presiden, menteri, gubernur, walikota, bupati dsb. Ada seorang tokoh politik yang dulunya sangat anti terhadap proyek pembangunan mercusuar yang digagas presiden misalnya, begitu dijadikan menteri atau komisaris utama perusahaan dengan gaji Rp 400 juta perbulan ditambah berbagai fasilitas negara, maka orang ini dimana-mana berkata “ternyata baru tahu saya bahwa presiden kita ini sangat visioner”, “agak sulit mencari sosok seorang pemimpin seperti beliau” dsb.

Bagi seorang pemimpin negara dalam berbagai jabatan yang tidak memahami budaya Ngatok ini sangat rentan menerima “serangan Ngatok” dari para bawahannya ini mengambil keuntungan atau “take advantage” dari kelemahan pemimpinannya, yaitu kelemahan “senang menerima pujian”.

Indonesia yang negara besar ini, yang panjangnya sama dengan jarak London Inggris ke Mokow Rusia, yang memiliki kekayaan keragamaan hayati terbesar didunia, yang memiliki budaya luhur, yang memiliki sumber daya alam melimpah, yang warga negaranya memiliki potensi tinggi – sangat sayang bila dipimpin orang yang suka menerima budaya Ngatok itu; dan negara sebesar ini bisa pecah berkeping-keping bila para tokoh negara memiliki budaya suka memuji-muji – Asal Bapak Senang.

Naudzubillah.

Editor : Reyna

Artikel sama dimuat di Optika.id




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=