Politik Riang Gembira Anies Baswedan

Politik Riang Gembira Anies Baswedan
Isa Ansori




Oleh: Isa Ansori

Kolumnis

 

Dalam sebuah diskusi yang dilaksanakan di kantor DPW Nasdem Jatim, saya kebetulan diajak untuk mendengarkan paparan beberapa relawan Anies dan ketua DPW Nasdem serta beberapa narasumber kompeten, Selasa, 21 November 2022.

Yang menarik adalah paparan bunda Janet, yang akrab dipanggil kakak Janet dalam mengikuti alur paparan yang disampaikan oleh para relawan Anies di Jatim dari berbagai simpul. Beliau catat satu persatu, beliau rumuskan langkah apa yang akan dilakukan dan solusi apa yang akan diberikan. Terlihat sikap matang dalam berpolitik dan menghargai orang.

Karakter yang sama ditampilkan oleh Anies Baswedan dalam merespon setiap persoalan yang ada. Anies selalu tampil senyum, santun dan tidak meledak ledak. Inilah yang kemudian menimbulkan kesan berpoltik itu indah dan menyenangkan.

Rasanya kita sudah jenuh dan muak dengan politik kotor, licik dan marah – marah dan bahkan memecah belah. Pertunjukan politik busuk oleh perilaku para politisi kotor. Para Machiavilian ini tak segan membunuh lawan politiknya dengan cara cara kotor dan licik. Mereka sebarkan berita bohong, fitnah dan segala upaya yang penting kekuasaan bisa direbutnya.

Politik gembira adalah politik yang memberi suasana yang sehat dan menyenangkan, semua dijalankan dengan aturan dan norma demokrasi yang baik dan benar. Sehingga politik bermakna sebagai sebuah jalan untuk menjalankan sesuatu yang benar bagi kepentingan rakyat.

Kontestasi pilpres 2024 nampaknya memberi catatan bahwa tidak semua pihak yang bersaing dan berkompetisi betul – betul memahami makna demokrasi dan berpolitik yang riang gembira.

Masih ada yang memandang politik adalah pertarungan yang menumpahkan dara, sebagaimana Mao Tse Tung katakan bahwa perang adalah politik dengan pertumpahan darah dan politik adalah perang tanpa pertumpahan darah. Pernyataan Stalin soal pemilu bahwa yang harus diperhitungkan bukanlah orang yang memberikan suara, melainkan orang yang menghitung suara, menunjukkan betapa kerasnya politik.

Niccolo Machiavelli selama berabad-abad memberikan nama buruk bagi politik. Bukunya Il Principe atau Sang Penguasa dilarang dibaca dan diedarkan dalam komunitas gereja Katolik.

Ajaran-ajarannya dianggap memisahkan politik dari moralitas, sehingga mengesankan politik sebagai sesuatu yang keras dan serius. Belum lagi sejumlah tokoh politik kontroversial seperti Mussolini, Hitler, Napoleon, dan Stalin terang-terangan menyatakan kekagumannya terhadap Machiavelli.

Machiavellisme yang salah kaprah ini membuat rakyat apatis dan takut bersentuhan dengan politik. Kegembiraan ada di mana saja di seluruh dunia, kecuali mungkin di politik. Keriangan tak ada dalam proses politik. Kebahagiaan hanya milik pemenang sebagaimana kesedihan milik pecundang. Politik dipahami sebagai kemenangan dan kekalahan, bukan proses untuk mengambil kebijakan yang membahagiakan publik. Perbedaan tajam melahirkan sebutan ‘kampret’ dan ‘cebong’, atau yang terbaru ‘kadrun’.

Untuk memulai menyemai sikap politik yang riang gembira nampaknya tak mudah untuk dilakukan, karena pihak yang merasa nyaman dengan situasi keterbelahan, menjarah dan menikmati kekuasaan, tentu akan merasa terganggu, sehingga mereka akan dengan segala daya dan upaya berusaha menghalangi.

Anies nampaknya memberi contoh baik dalam mempraktikkan politik riang gembira, politik yang tidak mencela, politik yang tidak menjatuhkan, politik yang “menang tanpo ngasorake”, politik yang bermartabat.

Pesan Anies kepada seluruh relawan bahwa jangan sampai mencela dan menjatuhkan lawan, karena baginya lawan dalam politik bukanlah lawan yang harus diperangi dan dihilangkan, lawan politik adalah kawan dalam berpikir, lawan politik adalah buku lain yang memberi khasanah keluasan perspektif dalam membangun negara, mereka semua adalah kekayaan bangsa.

Sikap riang gembira inilah yang saya lihat mulai banyak dimunculkan oleh beberapa relawan Anies di Surabaya dari kalangan aktifis tahun 90 an, misalkan mereka memunculkan istilah Kagama bagi alumni Airlangga, yang mengakronimkan Keluarga Airlangga Untuk Mas Anies, ada lagi Kalingga Manies, akronim Keluarga Airlangga Untuk Mas Anies. Istilah ini muncul sebagai respon dari adanya klaim bahwa alumni Airlangga adalah pendukung Ganjar. Joke – joke intelektual seperti inilah yang akan semakin dibutuhkan untuk membangun demokrasi sehat dan riang gembira. Saya yakin mereka yang memunculkan istilah istilah tersebut dalam diskusinya tidak terlalu serius dalam memunculkan istilahnya, pastilah saat diskusi dan merumuskan mereka ketawa ketawa dan bersenda gurau. Tak usahlah politik dibawah sampai keubun ubun, agar tak mengalami gangguan syaraf yang berujung pada gangguan jiwa.

Perilaku seperti inilah yang harus selalu dikembangkan bagi mereka yang mencintai NKRI. Relawan Anies dan pendukung Anies harus menjadi contoh baik yang lain dalam mensosialisasikan gagasan gagasan baik Anies kepada masyarakat. Sehingga akan semakin banyak masyarakat Indonesia menjadi bagian membangun demokrasi yang baik dan berpolitik yang santun dan riang gembira.

Surabaya, 24 November 2022

EDITOR: REYNA







banner 468x60