Quo Vadis Perkaderan HMI

Quo Vadis Perkaderan HMI




Oleh : Hariyadi

Dari beberapa tahun bahkan mulai reformasi, kualitas kader HMI sudah mulai mengalami penurunan dan marginalisasi calon anggota HMI. Ibarat produk HMI 2 dasa warsa sudah salah orientasi. Akibat dari kesalahan tersebut menggelinding bagai bola salju yang semakin lama semakin besar. Yang dahulunya anggota HMI setelah lulus jadi KAHMI yang juga banyak mewarnai kualitas dari alumni tersebut, ini juga sulit sekali untuk merubah. Pada pemilihan ditingkat organisasi KAHMI juga punya imbas yang sama, tidak ditekankan menjadi organisasi kader.

Kalau HMI ingin menjadi kader bangsa dan ummat harus ada reorientasi yang sangat fundamental dan extreem, tidak bisa mengubah orientasi sumber kader bangsa dan ummat hanya dengan strategy kompromistis. Ini bisa berakibat mandulnya krisis kader kepemimpinan di tingkat nasional,kalaupun ada belum menghasilkan output yang paling optimal.

Gagasan ini sudah beberapa kali saya sampaikan, tapi semua takut karena menyangkut perasaan tidak enak. Dalam strategy yang lebih besar dan bermanfaat bagi generasi yang akan datang harus dilakukan dengan terus menerus dan mendasar. Karena kepentingan penjajah model baru akan turun lewat proxy proxynya dengan menggunakan output kader yang kurang baik serta integritasnya patut dipertanyakan. Perlawanan kader kader HMI di tingkat global, juga sudah jarang didengar gaungnya. Maka penguasaan kekayaan alam di Indonesia ini sudah semakin mudah dan lancar oleh asing atau yang berafiliasi padanya.

Kembali ke permasalah pemilihan kader HMI sebagai bahan baku untuk mencetak kader yang punya integritas, intelektual yang akan memberikan sumbangan output kepemimpinan tingkat nasional dan dunia. Perlu kembalinya HMI ke jati diri reorientasi ke organisasi kader. Kalau fenomena sekarang ini HMI sudah bukan organisasi kader,menjadi organisasi massa dengan tingkat intelektualitas dan integritas yang sangat heterogen.

Ini kalau dilakukan bisa menghemat biaya untuk perkaderan dan bisa meningkatkan marwah organisasi kader islam di tingkat regional,nasional dan internasional. Memang untuk menguasai Indonesia salah satunya dengan memporak porandakan proses pengkaderan di HMI. Karena kalau pasokan calon pemimpin yang punya integritas,intelektual dan bernafaskan islam ya dari HMI.

HMI harus fokus kembali ke perguruan tinggi favorit yang harusnya mengisi calon kader HMI. Fokus pada raw material yang baik akan menghasilkan mutu yang bisa diharapkan lebih baik.

Cabang cabang dari HMI dari perguruan tinggi swasta itu harus dilikuidasi dan hanya digabungkan dengan korkom dari universitas yang baik. Ini akan memudahkan untuk menghilangkan atau mengurangi fenomena jual beli rekom untuk pemilihan di tingkat yang lebih tinggi. Fenomena ini memang juga diawali dari gerakan gerakan kecil kecil,separatis untuk memanfaatkan kader kader HMI untuk kepentingan seniornya.

Karena yang mudah dimanfaatkan ya dari cabang cabang yang gak jelas,dan kuota suara yang sama dengan cabang cabang HMI yang sudah settle. Ini merupakan perusakan secara sistematis dan sangat serius.

Surabaya, 21 Maret 2021.







banner 468x60