Serangan Umum 1 Maret 1949 Di Yogya Dalam Liputan Media Belanda

Serangan Umum 1 Maret 1949 Di Yogya Dalam Liputan Media Belanda
Foto Serangan Umum 1 Maret 1949

', layer: '

SUHARTO 4

Foto Serangan Umum 1 Maret 1949

'} ];




Oleh: Prof. Surya Suryadi, Leiden

 

Selamat siang waktu Leiden.

Tampaknya di Tanah Air sedang heboh dan menjadi polemik di ruang publik soal Serangan Umum 1 Maret 1949 Terhadap Kedudukan Belanda di Yogyakarta.

Oleh sebab itu, kita belokkan napaktilas sejarah kita dari Kerajaan Sikka di Pulau Flores ke Yogyakarta pada masa yang kurang lebih sama: Akhir 1940an.

Polemik yang muncul konon dipicu Keputusan Presiden No. 2/2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang baru-baru ini dikeluarkan dimana nama SOEHARTO tidak tercantum. Narasi dalam Kepres tersebut hanya menyebutkan bahwa ide serangan itu datang dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, diperintahkan oleh Jendral Sudirman, serta disetujui dan digerakkan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan didukung oleh TNI dan laskar-laskar rakyat lainnya (lihat: https://www.youtube.com/watch?v=W1pfxYQG8ko).

Lepas dari polemik yang sedang terjadi, sebenarnya cukup lucu juga bahwa apa yang terjadi baru terjadi 73 tahun lalu itu seolah merupakan peristiwa yang tidak ada datanya, diutak atik semau gue, padahal tahun 1940an adalah zaman yang sudah cukup modern dengan teknologi perekaman peristiwa yang sudah cukup canggih (kamera, film, mesin ketik, mesin cetak, dll.). Bagaimana ini bisa terjadi pada sebuah bangsa?

Dalam kesempatan ini, saya postingkan beberapa guntingan koran berbahasa Belanda yang terbit pada bulan Maret 1949 dan bulan-bulan sesudahnya, sampai Presiden Soekarno kembali ke Yogya dari tempat beliau diasingkan oleh Belanda di Prapat/Bangka pada 5 Juli 1949.

Foto Serangan Umum 1 Maret 1949

Koran-koran berbahasa Belanda ini merujuk kepada kantor berita Aneta dan juga koran-koran vernakular berbahasa Indonesia yang terbit pada waktu itu, seperti NASIONAL, KEDAULATAN RAKJAT, MATARAM, SOERJA TJANDRA, PEDOMAN, dan lain-lain. Banyak lagi guntingan koran yang memberitakan Serangan Umum 1 Maret ini 1949 ini, dan situasi selepas serangan itu, yang tidak mungkin saya postingkan semuanya di sini. Namun, secara umum situasi yang digambarkan oleh media kurang lebih sebagai berikut.

Tanggal 3 Maret, dua hari setelah serangan, beberapa media melaporkan apa yang mereka sebut sebagai “serangan kaum ekstrimis terhadap Djogja”.

“Pukul 6 pagi tanggal hari Senin 1 Maret 1949, kelompok ekstrimis yang sangat kuat di berbagai tempat di Yogya melancarkan serangan”, demikian laporan koran ‘Provinciale Drentsche en Asser courant’ (Assen) Kamis 03-03-1949, misalnya. Dikatakan bahwa menurut seorang koresponden khusus mereka dari Aneta Yogya yang mewawancarai Kolonel Van Langen, komandan tentara Belanda di Yogyakarta, para ‘ekstrimis’ ini , menurut sang Kolonel, memiliki peluang untuk meraih kesuksesan yang langgeng.

Selanjutnya dilaporkan, setelah para pejuang Republik Indonesia mundur, situasi Yogya terkendali lagi.

Kerugian di pihak Belanda: enam orang tewas (3 di antaranya polisi) dan empat belas orang luka-luka.

Dilaporkan bahwa gangguan telah benar-benar berakhir sekitar jam 11 pagi. Diperkirakan sekitar 2.000 orang, yang tergabung dalam kelompok-kelompok pejuang di sekitar kota, telah ikut ambil bagian dalam serangan bersama itu (Ibid., 04-03-1949)

“Hari Rabu kembali damai di Djogja, pemandangan kota kembali normal, pasar ramai dan bioskop kembali beroperasi”, demikian ulasan koran ini.

Walau bagaimanapun, serangan ini tampaknya amat mengejutkan Belanda. Jenderal Spoor segera mengunjungi Yogya pada hari Rabu, 2 Maret (sehari setelah serangan). Ia tiba pukul 11 pagi dengan pesawatnya sendiri dan berangkat sore hari dengan mobil via Magelang menuju Semarang. Sebelum kedatangan Jenderal Spoor, komisaris pemerintah Angenent, komandan teritorial, Jenderal Meyer dan perwira senior lainnya telah tiba dari Semarang dengan pesawat tambahan untuk membahas situasi tersebut.

Jenderal Meyer dan Komisaris Pemerintah Angenent dan Residen Yogya Stok mengunjungi Keraton Sultan Yogya pada hari Rabu (2 Maret) pukul 12.00. Kunjungan berlangsung selama setengah jam. Disertai dengan pasukan Belanda, mereka memeriksa Istana Sultan Yogya, karena ada isu bahwa Jendral Sudirman bersembunyi di dalam Istana. Mereka bertemu sendiri dengan Sultan Hamengku Buwono IX. Sultan mengatakan bahwa tidak ada anggota kelompok penyerang bersembunyi dalam lingkungan kraton (Ibid., 04-03-1949).

Foto Serangan Umum 1 Maret 1949

Laporan media ini mengesankan bahwa Sultan Hamengku Buwono IX berada di Istana/dalam kota Yogya sehari setelah serangan 1 Maret terjadi. Artinya, beliau tampaknya tetap berada di dalam kota ketika serangan itu terjadi.

Kolonel Soeharto sendiri tampaknya tidak berada di dalam kota Yogya. Dari laporan berbagai media sepanjang bulan itu dan bulan-bulan selanjutnya dapat dikesan bahwa hubungan antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan Kolonel Soeharto sangat rapat.

Sudah sejak sebelum Belanda melancarkan agresi ke-2, Sultan sudah memerintahkan Kolonel Soeharto pada bulan Februari 1949 untuk menata keamanan kota Yogyakarta. Menurut Sri Sultan, Yogya saat itu memiliki 2.000 pasukan terpilih dan berdisiplin, terdiri dari 600 T.N.I. dan sisanya polisi.

Kolonel Soeharto diminta untuk dapat mengendalikan kelompok-kelompok yang berpotensi menimbulkan kerusuhan dan untuk tidak melakukan kontak senjata dengan pihak Belanda.

Jenderal Sudirman, yang tidak berhasil ditangkap oleh Belanda, terus melanjutkan perang gerilya bersama pasukan TNI dan kelompok-kelompok laskar rakyat lainnya. “Tuhan bersama kita”, ungkapnya, sebagaimana dikutip oleh ‘Nieuwe Apeldoornsche courant’ (Apeldoorn), Senin 14-03-1949.

Pada bulan Juni 1949, menyusul disepakatinya Perjanjian Rum-Royen oleh kedua pihak yang bertikai, Sultan Hamengku Buwono IX, setelah berkonsultasi dengan Jendral Sudirman, menetapkan Yogya sebagai daerah dengan memerintahan semi militer.

Eksekusi di lapangan dipercayakan kepada Letnan Kolonel Soeharto (‘Nijmeegsch dagblad’ [Nijmegen], Selasa, 21-06-1949; De Locomotief [Semarang], Rabu, 22-06-1949).

Perjanjian Rum-Royen mengharuskan Belanda mundur dari Keresidenan Yogyakarta. Penarikan pasukan Belanda berjalan lancar, demikian dilamporkan oleh harian ‘Maasbode’ (Rotterdam) edisi Sabtu 25 Juni 1949 di bawah judul: “Troepen trokken uit Wonosari. Nederlanders gedeprimeerd” (Pasukan mundur dari Wonosari. Belandan tertekan).

Pasukan gerilya Republik dengan tertib mengambil alih Wonosari di selatan Yogyakarta dari pasukan Belanda. Administrasi kota diambil alih di bawah pengawasan pengamat militer PBB.

Pada pukul 10 waktu setempat garnisun Belanda, yang terdiri dari 150 orang, meninggalkan markasnya dan lima belas menit kemudian kota itu berada di tangan Republik.

Evakuasi dipimpin oleh komandan Belanda, Kolonel Van Langen, yang mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada insiden yang terjadi. Sultan Hamengku Buwono IX, Gubernur Militer Republik Yogyakarta, hadir pada saat keberangkatan pasukan Belanda itu.

Kolonel Van Langen mengatakan bahwa penduduk setempat terus bekerja di ladang mereka selama penarikan pasukan Belanda dilakukan, dan aktivitas di pasar berjalan normal.

Bersambung ke halaman berikutnya




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=