Siauw Tik Kwie dan penyebaran ajaran Kiageng Suryomentaram

Siauw Tik Kwie dan penyebaran ajaran Kiageng Suryomentaram
Suryomentaram adalah putra Hamengkubuwana VII yang memilih keluar dari istana dan hidup sebagai rakyat jelata. Ia mendalami spiritualitas.




ZONASATUNEWS.COM –Penyebaran ajaran Kiageng Suryo Mentaram tak bisa dilepaskan dari peran Siauw Tik Kwie. Dia  menerjemahkan ajaran Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) ke dalam bahasa Indonesia. Membuat pemikiran tokoh spiritual itu dikenal luas.

Dr Gransang Suryomentaram, 82 tahun, putra Ki Ageng Suryomentaram, menyodorkan sebuah foto. “Yang ambil foto ini Pak Siauw Tik Kwie”—foto sang ayah bertemu dengan Presiden Sukarno di Istana. Foto lusuh itu bertanggal 24 Januari 1957.

Ki Ageng Suryomentaram tampak bersahaja. Di depan Presiden, ia mengenakan pakaian seperti seorang warga desa kebanyakan. Ia mengalungkan kain batik di leher. Menurut Gransang, di zaman Orde Baru, foto itu ia sembunyikan. “Waktu itu, Siauw ikut Suryomentaram ke Istana.”

Memang Siauw Tik Kwie akrab dengan Ki Ageng Suryomentaram. Pada 1950-an, Siauw sering mengundang Suryomentaram berceramah di Jakarta. Ia aktif mendampingi langsung Suryomentaram dan bertindak sebagai penerjemah. Suryomentaram saat berceramah selalu menggunakan bahasa Jawa.

Siauw, yang kelahiran Solo dan memahami bahasa Jawa halus, meneruskan ceramah itu ke hadirin dalam bahasa Indonesia. Ia kemudian berinisiatif membukukan ceramah-ceramah Suryomentaram. Di buku-buku yang dihimpun itu, ia menggunakan nama Ki Otto Swastika.

Ki Ageng Suryomentaram adalah sosok unik dalam dunia pemikiran Jawa. Ia putra Sultan Hamengku Buwono VII. Di usianya yang muda, ia berusaha meninggalkan kepangeranannya dan mengembara serabutan sebagai pedagang batik. Ketika utusan Sultan mencarinya, ia ditemukan di Kroya, sebagai penggali sumur.

Bersama Ki Hajar Dewantara, pada 1922, ia mendirikan Taman Siswa, tapi kemudian memilih hidup sebagai petani di Desa Beringin, Salatiga.

Selama tinggal di Salatiga itulah Suryomentaram mengajarkan sebuah ilmu jiwa yang lain daripada yang lain. Ia mengembangkan suatu metode untuk mengamati berbagai macam perasaan dalam diri manusia. Suryomentaram menjadikan dirinya sendiri eksperimen. Suatu kali, ia menyeberangi sungai yang tengah meluap dan mengalir deras. Ia terseret dan hampir mati.

Tapi karena pengalaman itulah ia kemudian bisa mendefinisikan rasa orang yang nyaris mati. Bagi Suryomentaram, manusia harus selalu menjadi juru catat, mencatat segala macam rasanya. Tujuannya agar manusia bisa mawas diri.

Suryomentaram, yang sampai akhir hayatnya hanya memiliki tiga setel pakaian, memilah rasa yang merasakan dan rasa yang dirasakan. Rasa yang merasa sakit, misalnya, berbeda dengan rasa sakit yang dirasakan. Ketidakmampuan membedakan rasa yang merasakan dengan rasa yang dirasakan inilah menurut Suryomentaram yang membuat manusia bingung.

Menurut dia, manusia perlu meneliti dan memeriksa rasa senang dan susahnya sendiri, rasa celaka dan bahagianya sendiri. Bila orang telah mawas diri, orang itu akan bisa menuju manusia ukuran keempat: manusia tanpa ciri. Selama tinggal di Salatiga, Suryomentaram banyak naik-turun gunung, bertemu dengan penduduk desa, mengajarkan metodenya itu, yang disebut metode Kawruh Jiwa.

“Kawruh Jiwa itu bukan agama, bukan klenik, bukan ajaran baik-buruk, bukan nasihat moral, melainkan pengetahuan tentang diri sendiri,” ujar Dr Gransang.

Yang diteliti adalah perasaan-perasaan diri sendiri sekarang ini, bukan masa lalu atau masa datang.

“Wejangan Ki Ageng lebih mirip diskursus psikologi atau antropologi. Ajarannya rasional dan sama sekali tidak berkaitan dengan takhayul. Sementara pelaku dunia kebatinan Jawa biasanya bermeditasi ingin menerima pencerahan dalam bentuk ilham atau wahyu, ajaran Ki Ageng justru menjauhi hal-hal semacam itu. Ajaran Ki Ageng Suryomentaram berbeda sekali dengan ajaran kebatinan Jawa umumnya,” kata Gransang.

Siauw Tik Kwie mengenal Ki Ageng Suryomentaram ketika mendengarkan ceramah Suryomentaram di Solo pada 1942. Saat itu, ia sudah menggeluti pemikiran Krishnamurti.

“Siauw Tik Kwie tertarik pada wejangan ayah saya, karena menurut dia aplikatif,” ujar Gransang.

Siauw, menurut Gransang, memang menganggap ajaran Suryomentaram sama dengan Krishnamurti.

“Hanya, Krishnamurti itu audiensnya orang-orang intelek, sementara pendengar ayah saya adalah orang-orang lereng gunung yang buta huruf.”

Hubungan Siauw dan Suryomentaram makin intens ketika Siauw kerap mengundang Suryomentaram berbicara di Jakarta. Pada 1950-an, Siauw menerbitkan majalah Berita Bahagia. Majalah gratis ini membahas masalah-masalah kebatinan. Ia menjadi redaktur sekaligus ilustratornya. Ia juga aktif menulis.

Pada edisi nomor 14 tahun 1957, ia menulis artikel berjudul “Revolusi Batin”. Dalam edisi itu, ia juga menampilkan tulisan Suryomentaram, “Filsafat Rasa Hidup”, dan tulisan temannya, Tjoa Han Tjong, “Hidup Benar”. “Pada waktu itu yang mensponsori majalah itu teman Papi. Namanya Phang Tiam Liong,” ujar Susanti, putri Siauw Tik Kwie.

Bersamaan dengan itu, Siauw alias Otto Swastika rajin mengumpulkan ceramah perjalanan Suryomentaram, yang berkeliling ke hampir seluruh Pulau Jawa untuk menyebarkan Kawruh Jiwa. Gransang masih ingat bagaimana ia diajak ayahnya.

“Saya diajak ke Jawa Timur, ke Madiun, Mojokerto, Surabaya, Malang. Pulang sebentar ke Yogya, lalu naik kereta api bumel menuju Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga, Wonosobo, Temanggung.”

Gransang ingat perjalanan itu dan akomodasinya biasanya diongkosi anggota perkumpulan. Yang terjadi dalam pertemuan adalah latihan mawas diri dan diskusi-diskusi memecahkan persoalan.

“Sampai pagi, Bapak saya tak ada habis-habisnya melayani tanya-jawab pribadi,” ia mengenang.

Dalam setiap kunjungan itu, Gransang ingat ayahnya selalu menyebarkan “traktat” yang berisi pemikirannya dalam bahasa Jawa. Traktat itu dicetak dan diterbitkan sendiri. Seluruh traktat itulah yang kemudian dikumpulkan Siauw. Siauw kemudian bertemu dengan pengusaha Haji Masagung, meminta Masagung menerbitkannya.

“Waktu itu pertemuan melalui Hartadji, saudara Siauw, yang bekerja di Yayasan Idayu milik Masagung,” kata Gransang.

Akhirnya, melalui Yayasan Idayu, Masagung mencetak tulisan-tulisan Ki Ageng Suryomentaram. Total ada 14 jilid seri pemikiran Suryomentaram yang diterbitkan, antara lain Filsafat Rasa Hidup, Ukuran Keempat, Wejangan Pokok Ilmu Bahagia, Ilmu Jiwa Kramadangsa, Rasa Bebas, Mawas Diri, Tanggapan, Jimat Perang, Kesempurnaan, dan Rasa Takut.

“Sebulan Yayasan Idayu mencetak 3.000 eksemplar dan itu cepat habis. Masagung sampai memerintahkan terus mencetak ulang. Sampai 21 tahun, buku itu terus dicetak ulang,” ujar Gransang.

Gransang ingat, saat Siauw Tik Kwie menerjemahkan dan mengedit tulisan-tulisan ayahnya ke dalam bahasa Indonesia, mereka saling mengoreksi. Menurut Gransang, menerjemahkan pemikiran ayahnya sukar sekali karena yang dibicarakan adalah rasa.

“Sering kita susah mencari padanan sebuah kata dalam bahasa Indonesia,” katanya. Misalnya, konsep “aku kramadangsa” dalam psikologi modern yang dekat adalah ego, tapi itu menurut dia belum kena betul.

“Contoh lain adalah kata karep. Karep sering diterjemahkan keinginan, tapi itu enggak cocok. Sebab, keinginan itu sesaat, sementara karep dalam pengertian Suryomentaram adalah abadi. Karep itu langgeng. Sebelum kita lahir, darah misalnya telah memiliki karep menjadi manusia. Orang meninggal pun masih mempunyai karep,” ujar Gransang.

Dalam pengantar terjemahannya, Otto Swastika menulis kesulitan lain, yakni banyaknya istilah dan susunan kalimat Jawa lisan yang digunakan Suryomentaram.

Pada 1974, Gransang dan Siauw Tik Kwie membuat forum Suryomentaram di rumah Poppy Sjahrir di Jalan Cokroaminoto Nomor 61.

“Bu Poppy pernah bertemu dengan Krishnamurti di London. Ia tertarik pada dunia kebatinan,” kata Gransang.

Pertemuan sebulan sekali itu, menurut Gransang, diikuti sekitar 15 orang. Dalam setiap pertemuan, mereka menguraikan dan memecahkan masalah-masalah pribadi menggunakan metode kejiwaan Suryomentaram.

“Misalnya, pernah ada seorang ibu yang suaminya sudah meninggal, tapi dia masih terikat terus. Kami bahas. Saya bilang ibu ini keedanan orang mati. Ketergantungan….”

Menurut Gransang, forum itu sama sekali tak membicarakan masalah politik.

“Tapi ini kan politik tingkat tinggi,” kata dokter yang pernah bertugas di Angkatan Laut dengan pangkat terakhir kolonel itu seraya tertawa.

Sampai kini, Gransang tetap memiliki komunitas demikian. Di Jalan Barito Nomor 21, tiap minggu ketiga, misalnya, ia bersama sesama “penghayat” ajaran Suryomentaram selalu berkumpul. Ia mengakui hal itu tak akan terjadi bila Siauw tak pernah menerjemahkan pemikiran-pemikiran ayahnya.

“Kontribusi Siauw Tik Kwie terhadap penyebarluasan wejangan Suryomentaram luar biasa sekali,” jelasnya.

Editor : Setyanegara 

 







Tags:
banner 468x60