Eko Setiadi : Strategi Menggenjot Produksi Minyak 1 Juta Barel Per Hari

Eko Setiadi : Strategi Menggenjot Produksi Minyak 1 Juta Barel Per Hari
Foto Ilustrasi : Blok Cepu (Exxon Mobile)




Oleh : Eko Setiadi, Alumnus MBA Energy – Institut Teknologi Bandung

Eko Setiadi




Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif buka-bukaan mengenai data produksi minyak dan gas (migas) Indonesia. Ia mengakui bahwa produksinya terus merosot. Oleh karena itu, menurutnya perlu diperlukan eksplorasi yang masif agar produksi migas kembali meningkat. “Eksplorasi yang sangat masif masih sangat diperlukan. Saat ini produksi migas kita terus mengalami penurunan,” ujarnya dalam peluncuran buku berjudul ‘An Introduction into the Geology of Indonesia’ karya Prof. Koesoemadinata, Senin (16/11/2020).

Padahal, Indonesia memiliki sumber daya energi, termasuk minyak dan gas bumi yang sangat banyak. Hanya saja sejauh ini, sumber daya tersebut belum sepenuhnya dapat dikonversi menjadi cadangan. Indonesia membutuhkan tambahan cadangan minyak lebih dari 1 juta barel per hari. Hal ini menurutnya menjadi tantangan ke depan, agar Indonesia bisa melakukan discovery (temuan cadangan) terhadap potensi cekungan yang ada, khususnya giant discovery.

Dalam konferensi pers secara virtual tentang Kinerja Hulu Migas Kuartal III Tahun 2020 yang digelar hari Jumat (23/10/2020), Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan cadangan minyak Indonesia saat ini sebesar 3,8 miliar barel minyak dan gas sebesar 77 triliun kaki kubik (TCF). Dengan produksi per hari sekitar 705 ribu barel per hari (bph), maka dalam setahun akan memproduksi sekitar 257 juta barel.

Kalau dihitung cadangan dari posisi 3,8 miliar barel ini, kira-kira cukup untuk 15 tahun produksi dan dengan cadangan gas sebesar 77 TCF dan tingkat produksi sekitar 6.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), maka diperkirakan cadangannya masih bisa untuk 35 tahun produksi.

Pemerintah, melalui Menko Bidang Kemaritiman & Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan percepatan realisasi produksi minyak 1 juta barel per hari (bph), dari semula di tahun 2030 untuk dicapai di tahun 2025. Apabila target ini segera terealisasi, tentu akan mengurangi beban impor minyak yang menjadi faktor utama defisit neraca perdagangan sektor migas selama ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan sepanjang tahun 2019 mengalami defisit sebesar US$ 3,2 miliar. Defisitnya neraca dagang tahun 2019 disebabkan oleh sektor migas yang masih defisit sebesar US$ 9,3 miliar.

Adapun neraca dagang nonmigas masih tercatat surplus (Kontan, 15/01). Defisit migas menjadi topik yang hangat setelah presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan mengungkapkan kekesalannya. Dia menyebut berulangnya defisit tersebut lantaran ada pihak-pihak yang lebih senang mengimpor dan menghambat transformasi ekonomi dalam negeri, khususnya di sektor energi. Dalam acara Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional RPJMN 2020-2024, Jokowi menyoroti impor minyak yang mencapai 700-800 ribu barel per hari dan impor avtur untuk keperluan dalam negeri. Padahal crude palm oil (CPO) dalam negeri bisa dimanfaatkan untuk produksi avtur. Jokowi juga mempertanyakan upaya menggenjot produksi minyak dari sumur-sumur yang ada.

Kondisi Sektor Migas Nasional

Defisit antara produksi dan konsumsi minyak mentah Indonesia makin membesar dari tahun ke tahun. Berdasarkan publikasi BP Statistical Review 2019, surplus minyak mentah Indonesia terakhir terjadi sebesar 100 ribu bph pada tahun 2002, yakni dengan produksi 1,3 juta bph dan konsumsi 1,2 juta bph. Pada tahun 2005, Indonesia defisit 200 ribu bph, meningkat menjadi 400 ribu bph pada tahun 2010 dan terus meningkat hingga defisit 1 juta bph di akhir 2018.

Faktanya, sejak tahun 1990 laju penurunan alamiah (decline rate) sebesar 5% per tahun. Di tahun 2010, produksi minyak sempat mencapai 945 ribu bph, namun terus menurun. Realisasi lifting minyak pada 2019 mencapai 746 ribu bph atau 96,3 persen dari APBN 2019 sebesar 775 ribu bph dan realisasi lifting gas mencapai 5.934 mmscfd atau hanya 84,8 persen dari target APBN 2019 sebesar 7.000 mscfd (data ESDM). Dari kemampuan produksi 746 ribu bph di akhir tahun 2019 menuju 1 juta bph di tahun 2025, berarti mutlak membutuhkan pertumbuhan produksi sebesar 6% per tahun.

Langkah selanjutnya adalah merumuskan strategi apa dan bagaimana langkah konkrit untuk menggenjot pertumbuhan produksi seperti yang ditargetkan presiden. Ini sungguh tantangan yang tidak mudah sekaligus menarik. Mengapa? Karena tren produksi selama 30 tahun terakhir terus menurun, namun kemudian dituntut untuk rebound. Itu pun dalam waktu yang amat singkat, 5 tahun!

Sesungguhnya, performance menurunnya produksi minyak saat ini merefleksikan kondisi sektor hulu migas nasional. SKK Migas mencatat rasio penggantian cadangan migas atau Reserve Replacement Ratio (RRR) di Indonesia mencapai 354 persen pada 2019, naik dari tahun 2018 yang mencapai 106% – sedangkan sejak tahun 2012, RRR migas selalu di bawah 100%. Lebih dari 70 persen produksi migas di Indonesia yang dihasilkan saat ini berasal dari lapangan tua (mature) berusia di atas 20 tahun. Selain itu, jeda waktu yang diperlukan dari tahap eksplorasi sampai produksi (discovery to commercial) dapat mencapai 10 hingga 15 tahun.

Dari potret sektor hulu migas di atas, maka dapat dirumuskan beberapa tantangan utama yang harus diselesaikan, yaitu: penurunan laju tingkat produksi migas, naik turunnya harga minyak yang mempengaruhi keekonomian proyek hulu migas, risiko menurunnya investasi terkait perubahan fiscal term (gross split), urgensinya teknologi baru, kapabilitas dan infrastuktur, dan kebutuhan investasi yang sangat besar sampai tahun 2025.

Dari outlook produksi minyak (baseline) di 453 ribu bph, yang dibandingkan dengan target 1 juta bph di tahun 2025, terdapat selisih 547 ribu bph. Poin yang menarik adalah, dengan asumsi pertumbuhan konsumsi sekitar 5%, maka di tahun 2025, kebutuhan minyak mentah nasional mencapai 2.3 juta bph. Meskipun target produksi 1 juta bph tercapai, masih memerlukan 1.3 juta bph lagi. Di sinilah peran pemerintah mendorong berbagai terobosan seperti substitusi dan konversi bbm berbasis fosil seperti program B20, B30 dan B100, penggunaan kendaraan listik dan menggenjot implementasi energy baru dan terbarukan.

Halaman berikutnya







banner 468x60