Tere Liye : Deritamu adalah deritaku, PLN

Tere Liye : Deritamu adalah deritaku, PLN
Tere Liye (Darwis)




Oleh : Tere Liye, penulis novel “Negeri Para Bedebah”

Seorang akuntan, alumni ekonomi UI

 

Kita masuk ronde ke-2, membahas tentang laporan keuangan semester 1/2020. Kali ini yang akan kita bahas adalah: PLN.

Saya lagi mengamat-amati laporan keuangan PLN ini. Sebagai pemilik, tentu hal itu harus saya lakukan. Paman Gober saja rajin nge-cek tinggi tumpukan uangnya. Bedanya, meski sebagai pemilik PLN, atau Pertamina, saya tidak bisa berenang di uangnya. Yang ada, ehem, pemilik malah disuruh beli pertamax lebih mahal dibanding Malaysia, beli listrik lebih mahal, eh, ini belum tentu sih. Tergantung dari sisi mana lihatnya.

Kalian harus tahu, laporan keuangan itu bisa merangkum banyak hal. Itulah gunanya disiapkan tiap kuartal, semester, tahun. Di tangan orang yang paham bisnisnya, laporan keuangan sangat powerful. Tapi buat yang tidak paham, bahkan sekelas direksi BUMN, dia tidak tahu membacanya. Sebentar, jangan marah kalau dibilang begini. Karena yang bilang begini adalah Menteri BUMN sendiri.

13 April 2020, dalam siaran live instagram Kementerian BUMN, dia bilang sendiri, ‘banyak direksi BUMN tidak bisa membaca laporan keuangan’. Tuh, dia yang bilang. Itulah kenapa, sst, pernah ada rapat direksi BUMN dengan DPR, oh my God, ada direktur BUMN besar yang bilang jika tantiem dan bonus ratusan milyar untuk direksi-direksi dan komisaris-komisaris itu hoax. Ya amplop, dia sama saja mau bilang, laporan keuangan yang disiapkan perusahaannya adalah hoax, karena data itu ada semua di dalam sana, tinggal buka sistem yang menyusun laporan keuangan tersebut. Kan ambyar. Tapi mau bagaimana lagi, direksi ini mungkin lebih bisa membaca ‘laporan slip gaji dan bonus tahunan’ saja. Bukan baca laporan keuangan secara detail.

Nah, ada apa dengan laporan keuangan PLN semester 1/2020. Lumayan. Dari tahun lalu yang bottom line untung 7,3 trilyun, sekarang menjadi untung 273 milyar. Turun 90% lebih. Tapi lumayan toh? Nggak ambyar rugi 11 trilyun kayak Pertamina.

Sayangnya, meski banyak hal menarik dari laporan PLN, tulisan ini tidak akan sempat dan tidak akan muat kalau harus menganalisis satu persatu jeroannya. Mari kita cek yang penting2 saja.

1. Kalian berharap harga listrik turun?

Ngimpi. Karena dari tahun ke tahun, PLN itu adalah ‘bisnis rugi’. Mudah melihatnya. Bandingkan antara ‘pendapatan usaha’ vs ‘ beban usaha’ di dalam laporan. Mereka sukses jual listrik 139 trilyun enam bulan terakhir. Itu dari token yang kalian beli, iuran pasca bayar, dll. Disebut pendapatan usaha. Tapi untuk menjual listrik senilai tsb, mereka harus mengeluarkan biaya, disebut ‘beban usaha’. Mulai dari bahan bakar, perawatan, pegawai, dll, hingga pembelian listrik. Totalnya 149 trilyun. Pendapatan 139 T versus beban 149 T, rugi sudah 10 Trilyun.

Kok bisa beban usaha lebih tinggi dibanding pendapatan? Wah ini kalau didetailkan, dianalisis, bisa tiga hari tiga malam debatnya. Soal harga batubara, soal harga pembelian listrik, dll. PLN itu beli listrik dari pembangkit milik swasta, lantas dijual ke masyarakat. Kontrak-kontrak ini menarik kalau mau dianalisis lebih detail. Apalagi kalau sudah nyenggol tentang efisiensi, dll. Tapi “mbuhlah” (tidak tahu,red), saya tidak akan bahas itu.

Intinya adalah, kalian berharap harga listrik turun? Ngimpi. Bahkan untuk menutup beban usaha saja tidak bisa. Nah, PLN itu masih ‘sehat’, karena pemerintah ngasih uang yang disebut subsidi listrik pemerintah. Welcome ke dunia nyata. Tahun 2019, total subsidi pemerintah ke PLN sebesar 51,7 trilyun. Dan itu belum menghitung pendapatan kompensasi, 22 trilyun. Total jenderal, subsidi+kompensasi dari pemerintah sebesar 73 trilyun ke PLN.

Pun sama, semester 1/2020, ada 25 tilyun subsidi pemerintah ke PLN. Dengan angka inilah, bottom line-nya jadi positif. Yang tadinya rugi operasionalnya 10 trilyun, ditutup sama subsidi pemerintah 25 trilyun. Seharusnya sih bottom line bisa positif 15 trilyun, tapi PLN dihajar oleh kerugian kurs mata uang asing dan beban keuangan, jadilah bottom line tinggal 273 milyar.

Jadi, masih berharap tarif PLN turun? 5-10 tahun ke depan, ngimpi! Kalau harganya turun, tambah tekor itu operasionalnya. Sekarang saja tekor 10 trilyun. Maka, siap-siaplah kapanpun tarif naik.

2. Utang PLN.

Per 30 Juni 2020, utang PLN itu 684 trilyun. Terdiri dari utang jangka pendek 156 tilyun, utang jangka panjang 528 trilyun. Banyak? Tergantung. Tapi adalah fakta: utang jangka panjang PLN setara 10% dari total utang negara Indonesia sendiri. 187 triliyun utang ke Bank, 205 trilyun obligasi+sukuk, sisanya dll. Dan lebih crazy lagi, enam bulan terakhir, utang jangka panjang PLN bertambah 32 trilyun. Alias tiap bulan, nambah 5 trilyun.

Apakah angka-angka ini serius? Kalau kamu tanyakan ke bos PLN, mereka akan menjawab: ‘kami selalu hati-hati, menjaga sustainability, bla-bla-bla’. Itu jawaban paling diplomatis. Karena come on, nggak mungkin mereka menjawab: ‘gimana ya, kami itu rugi operasional 10 trilyun enam bulan terakhir. duuh, kalau pemerintah nggak ngasih dana subsidi PLN, bisa ambyar cicilan, tekooor, bocoooor’.

Tapi terlepas dari manapun kalian melihat angka-angka ini, mau pakai rasio silahkan, mau pakai analisis cashflow, silahkan, adalah fakta utang PLN ini massif, besar. Jika PLN ini kena ‘demam’, seluruh Indonesia bisa merasakan panasnya.

Tapi masih ada kabar baiknya, jika Pertamina mengalami penurunan pendapatan. PLN tentu menikmati naiknya pendapatan di era pandemi. Tidak banyak, naik 2 trilyun. Lumayan. Nggak kebayang kalau mendadak rakyat Indonesia ngambek nggak mau nyalain listrik. Turun 20% pendapatan PLN, waduh, bisa demam betulan.

Kurang lebih demikianlah analisis singkat dua aspek ini.

Intinya, ayo, sebagai pemilik PLN, kalian harus peduli dengan BUMN ini. Minimal sesekali intip2lah laporan keuangannya. Karena kalau besok-besok PLN ini kenapa-kenapa, itu salah kalian semua. Iya, kalian. Pemilik kok nggak peduli. Dan kalau besok-besok tarif PLN naik, aduh, jangan protes, sebagai pemilik, kita semua harus peduli dan bertanggung-jawab. Meskipun nasib memang, kita tidak pernah sekalipun berenang di tumpukan ‘gudang uang’ BUMN ini. Pas jadwal bagi-bagi jabatan direksi, komisaris, kita semua dicuekin saja. Apalagi pas bagi-bagi bonus, tantiem, kalian harus tahu, BUMN-BUMN top ini bisa total membagikan ratusan milyar utk total direksi+komisaris setiap tahun. Padahal itu, ehem, untung dari subsidi.

Kalau ada yang salah-salah, mohon maaf. saya dulu waktu kuliah, hanyalah mahasiswa bandel, suka bolos, dan tidur di kelas.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60