Wahyu Triono: LaNyalla, Situasi Menang-Kalah

Wahyu Triono: LaNyalla, Situasi Menang-Kalah
Ketua DPD RI, AA LaNyalla M Mattalitti




Oleh: Wahyu Triono C.S.

Di sudut jalan yang ramai dengan lalu-lalang orang dan kendaraan dari Jakarta menuju Kota Depok atau sebaliknya dari Kota Depok menuju Jakarta berkali-kali saya disuguhi oleh baliho besar dengan foto AA LaNyalla Mahmud Mattalitti (AALNMM), Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).

Sontak saja dua hari belakangan ini pikiran saya dipenuhi oleh suatu anggapan dan menduga-duga bahwa sepertinya AALNMM sedang sosialisasi tentang DPD RI dan figurnya sebagai Ketua DPD RI.

Selanjutnya yang terlintas dalam pemikiran saya adalah, apa AALNMM sedang bersiap untuk sosialisasi sebagai Bakal Calon Presiden atau Wakil Presiden?

Drama Politik

Begitulah panggung politik, selalu ramai dengan berbagai drama yang menyuguhkan tontonan yang terkadang kita menjadi asyik masyuk dengan sangat khusuk menikmati alur demi alur dan skuel-skuelnya dengan sangat detil, rapi dan apik.

Karenanya orang sering mendefinisikan dan mempresentasikan politik sebagai seni. Saya bersepakat dengan politik sebagai seni untuk melakukan kajian dan pendekatan terhadap fenomena AALNMM sebagai Ketua DPD RI.

Politik sebagai seni dalam konteks ini dimaksudkan bukan saja sebagai seni mempengaruhi dan menggerakkan orang lain, akan tetapi politik diibaratkan sebagai sebuah pertunjukan drama sebagaimana teori peran atau teori Dramaturgi yang dikemukakan sosiolog ternama Erving Goffman (1959), dalam bukunya yang berjudul “The Presentational of Self in Everyday Life”.

Menurut Goffman, bahwa kehidupan sosial ini mirip pertunjukan drama di atas panggung, menampilkan peran-peran seperti yang dimainkan para aktor. Seperti aktor dalam drama, dalam interaksi sosial, kita akan berperan ganda, dua wajah yang berbeda, saat berada di panggung depan (front stage) dan di panggung belakang (back stage).

Konsep yang digunakan Goffman berasal dari gagasan-gagasan Burke, dengan demikian pendekatan dramaturgi sebagai salah satu varian interaksionisme simbolik yang sering menggunakan konsep “peran sosial” dalam menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater.

Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang suatu situasi untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir.

Bagaimana sang aktor berperilaku bergantung kepada peran sosialnya dalam situasi tertentu.

Fokus dramaturgi bukan konsep diri yang dibawa sang aktor dari situasi ke situasi lainnya atau keseluruhan jumlah pengalaman individu, melainkan diri yang tersituasikan secara sosial yang berkembang dan mengatur interaksi-interaksi spesifik.

Menurut Goffman diri adalah “suatu hasil kerjasama” (collaborative manufacture) yang harus diproduksi baru dalam setiap peristiwa interaksi sosial.

Menurut interaksi simbolik, manusia belajar memainkan berbagai peran dan mengasumsikan identitas yang relevan dengan peran-peran ini, terlibat dalam kegiatan menunjukkan kepada satu sama lainnya siapa dan apa mereka.

Dalam konteks demikian, mereka menandai satu sama lain dan situasi-situasi yang mereka masuki, dan perilaku-perilaku berlangsung dalam konteks identitas sosial, makna dan definisi situasi.

Presentasi diri seperti yang ditunjukan Goffman, bertujuan memproduksi definisi situasi dan identitas sosial bagi para aktor, dan definisi situasi tersebut mempengaruhi ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang ada.

Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan” (impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam perspektif dramaturgi, untuk memainkan peran, biasanya sang aktor menggunakan bahasa verbal dan menampilkan perilaku nonverbal tertentu serta mengenakan atribut-atribut tertentu, misalnya kendaraan, pakaian dan asesoris lainnya yang sesuai dengan perannya dalam situasi tertentu.

Aktor harus memusatkan pikiran agar dia tidak keseleo lidah, menjaga kendali diri, melakukan gerak-gerik, menjaga nada suara dan mengekspresikan wajah yang sesuai dengan situasi.

Situasi Menang Kalah

Bila mempelajari dan mengkaji Teori Dramaturgi, Erving Goffman ini dan mengumpulkan sejumlah komunikasi politik AALNMM setelah memperhatikan kemunculannya di baliho berbagai sudut kota-kota di Indonesia, maka kesimpulan awal yang dapat kita kemukakan adalah:

Pertama, AALNMM bukan sebagai aktor politik yang sedang memainkan peran politik sebagai seni atau politik bagaikan suatu pertunjukan drama atau memainkan peran Teori Dramaturgi.

Dari berbagai pernyataan politik AALNMM tentang tanggapannya terhadap adanya upaya pemakzulan presiden Jokowi, tuntutan Presidential Threshold nol persen, dan pendapatnya tentang oligarki terang benderang mempresentasikan AALNMM sebagai aktor politik yang lugas.

AALNMM tampaknya bukanlah aktor politik umumnya, yang mampu memainkan peran ganda, dua wajah yang berbeda, saat berada di panggung depan (front stage) dan di panggung belakang (back stage).

Kedua, pada situasi sebagai aktor politik yang lugas dan tegas itu, AALNMM tampak sebagai figur dan aktor politik yang dalam analisis manajemen kampanye sering disebut situasi menang-kalah.

Kelugasan dan ketegasan AALNMM sebagai aktor politik yang berkarakter dan unik dapat menjadikannya sebagai faktor kuat dalam situasi menang-kalah untuk siapa pun sebagai kandidat presiden dan wakil presiden.

Bahkan boleh jadi AALNMM sebagai aktor politik yang justru bisa tampil menjadi kuda hitam dan kandidat alternatif untuk presiden dan wakil presiden di tengah para kandidat yang hadir di panggung politik secara normatif dan dengan karakter yang tidak kuat, tidak lugas dan tidak apa adanya (masih simbolis dan bernuansa citra).

Penutup

Tampaknya hari-hari ke depan ini kita membutuhkan para kandidat presiden dan wakil presiden yang lugas dan tegas yang apa adanya.

Bukan kandidat yang membuat para pemilih mabuk dengan candu karena drama politik yang dibungkus dengan karisma, citra, dan pesona yang ada di panggung depan (front stage), padahal senyatanya di panggung belakang (back stage) penuh tipu daya yang membuat rakyat bakal sengsara.

AALNMM tampaknya tinggal menambah satu keberanian yang tak akan diragukan untuk tampil sebagai seorang kandidat dalam situasi menang-kalah.

Meminjam istilah Gus Dur bahwa politik itu ibarat “keplek” laga atau adu burung dara, terkadang menang dan terkadang kalah.

Kita menunggu apakah dengan suatu kelugasan dan ketegasan AALNMM akan mengambil peran dalam situasi menang-kalah itu. [WT, 21/6/2022]

Wahyu Trion C.S adalah Dosen AP FISIP Universitas Nasional, Campaign Assistance pada McLeader Campaign Consultant dan Direktur Operasional Blora Center SBY Running Presiden RI 2004. Konsultan Gubernur, Bupati dan Walikota di Berbagai Daerah.

EDITOR: REYNA







banner 468x60