Yudian Wahyudi harus bertobat, dia gagal menjaga marwah Pancasila

Yudian Wahyudi harus bertobat, dia gagal menjaga marwah Pancasila
Prof Yudian Wahyudi, kepala BPIP




Oleh : Bagus Taruno Legowo, Sekretaris Rumah Pancasila

Yudian Wahyudi, Ketua BPIP yang baru dilantik Presidan, membuat heboh jagad Indonesia dengan pernyataannya bahwa musuh terbesar Panca Sila adalah agama. Entah, itu plesetan dengan maksud tertentu atau benar-benar pandangan yang diyakininya, sungguh pernyataan tersebut sangat tidak layak diucapkan oleh seorang Ketua BPIP yang ditugasi oleh Presiden sebagai lembaga yang menjaga marwah Panca Sila.

Seperti kita tahu, Panca Sila digali oleh Ir. Soekarno berdasar keadaan nyata yang ada d bumi Nusantara. Bung Karno menggali sejarah dan belajar dari agama-agama yang telah hadir di bumi Nusantara dari kurun ke kurun waktu yang sangat panjang.

Bung Karno dalam Kursus Panca Sila di tahu n 1958 menjelaskan pada peserta kursus yang adalah para mahasiswa Indonesia masa itu, bahwa Panca Sila, utamanya sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, telah mewarnai sejarah negeri ini, dari satu lapis ke lapis berikutnya, mulai dari lapis masa pra-agama, lapis masa Hindu, lapis masa Budha, hingga ke lapis masa Islam.

Itu sebab, menjadi sangat aneh bagaimana bisa agama kemudian dibenturkan sebagai musuh terbesar Panca Sila? Sungguh menimbulkan pertanyaan yang sangat besar, apakah Yudian ini mengerti Panca Sila atau tidak? Atau jangan-jangan Yudian dipasang di BPIP justru untuk mengerdilkan Panca Sila sehingga banyak orang Indonesia sendiri menjadi benci, dan akhirnya keberadaannya dipertanyakan dan kemudian dihapuskan. Sempurna sudah, jika seperti itu.

Mengapa seorang akademisi, bahkan mantan rektor tidak bisa membedakan antara agama di satu sisi, dan pemikiran agama di sisi lain. Bahwa dalam perkembangan pemikiran agama dari umat beragama sangat mungkin salah dan keliru dalam menafsirkan teks-teks agama, sehingga karenanya memang menjadi sangat mungkin berbenturan dengan Panca Sila.

Teks agama, tidak bisa tidak akan tetap sebagaimana adanya. Agama diturunkan oleh Tuhan tentu untuk kebaikan bagi manusia sendiri. Namun dengan berjalannya waktu hingga jauh dari masa dimana agama itu diturunkan, pemahaman manusia terhadap ajaran agamanya sangat mungkin mengalami bias dari yang dimaksudkan oleh teks agama itu.

Pada akhirnya secara umum, akan ada dua aliran pemikiran, yakni aliran yang bersifat moderat, yakni yang masih memberi ruang kebenaran terhadap adanya pemikiran di luar yang lazim dikenal, seperti halnya Panca Sila karena dinilai sinkron dan tidak bertentangan dengan teks agama. Tetapi juga akan ada aliran yang menolak semua kebenaran di luar pemahaman pemikiran agama seperti dirinya.

Yudian agaknya tidak mengindahkan aliran yang moderat dan mengeneralisir semua umat beragama sama, sehingga menempatkannya sebagai ‘musuh’ bagi Panca Sila. Jika demikian, Yudian hendaknya harus memperjelas statementnya, bahwa yang berpotensi berbenturan dengan Panca Sila adalah bukanlah agama, tetapi PEMIKIRAN AGAMA dari sebagian umat beragama. Benturan antara Panca Sila dengan sebagaian umat beragama, tidak berarti agama bertentangan dan musuh dari Panca Sila.

Panca Sila itu pada dasarnya sinkron (sesuai dan sejalan) dengan semua agama, karena itu menjadikan Panca Sila sebagai satu-satunya azas (Azas Tunggal) di negeri ini bagi seluruh organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dan bahkan organisasi profesi dan partai politik (malah harus memelopori) akan menjadi sebuah tonggak bagi kemajuan Indonesia ke depan.

Ideologi-ideologi seperti liberalisme maupun komunisme, sekalipun sekarang sudah ditambahi neo- (neo-liberalisme dan neo-komunisme) itu ideologi yang sudah kuno. Indonesia dengan Panca Sila dari segi pemikiran filsafati dan ideologis jauh lebih maju dari ideologi-ideologi itu, bahkan lebih maju dari ideologi apapun yang ada di dunia. Panca Sila adalah ideologi modern, dan sesuai dengan kemajuan jaman.

Jadi, bukan Panca Silanya yang harus diotak-atik dan atau diganti, tetapi pemahaman manusianya yang harus disegarkan dan diluruskan kembali.

Masalahnya, mau atau tidak kita sebagai bangsa pemilik sah Panca Sila berpikir untuk itu, dan menyandarkan pemikirannya pada Panca Sila?

Yudian Wahyudi harus bertobat dan memperbaiki statement-nya. Jika tidak mau, sebaiknya Presiden Jokowi mencabut kembali posisinya sebagai Ketua BPIP.







Tags: , , ,
banner 468x60