Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki
Direktur, Jamaica Muslim Center & Presiden, Nusantara Foundation
Mungkin Anda bertanya-tanya: bagaimana Allah akan memulihkan hak-hak saya? Atau mungkin Anda bahkan lebih marah, bertanya: bagaimana Allah akan membalaskan dendam saya?
Tampaknya Anda berfokus pada keadaan karena semuanya tampak tidak pasti dan sulit bagi Anda.
Jangan memikirkan dan melemahkan keadaan sulit Anda. Sebaliknya, pikirkan tentang kekuatan Yang Mahakuasa yang Anda seru!
Dan sejak kapan kita mempertanyakan Allah tentang “bagaimana?”
“Bagaimana” adalah hak prerogatif Allah semata.
Kita harus melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya dan berdoa kepada-Nya dengan keyakinan. Itu saja!
Strategi pertempuran dan senjata pembalasan adalah wilayah Allah. Dia, Yang Mahakuasa, mengaturnya dengan kekuatan dan kebijaksanaan-Nya!
Ingatlah, Allah selalu mengejutkan kita dengan cara yang Dia pilih.
Ketika Nabi Nuh mengangkat tangannya, berdoa: “Aku telah dikalahkan, maka tolonglah aku!” (QS. 54:10), tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa pembalasan Allah akan begitu dahsyat, dan melalui air.
Perintah ilahi kepada langit untuk menurunkan hujan, kepada bumi untuk melepaskan airnya, dan kepada laut untuk meluap, tidak memberikan perlindungan kecuali pada kekuasaan-Nya.
Kisah-kisah Al-Quran bukanlah hiburan, melainkan pelajaran iman. Orang-orang yang tertindas hanya dapat menyuarakan permohonan mereka, tetapi detail pertempuran berada di tangan Yang Mahakuasa.
Jika Anda hidup di zaman Nabi Nuh, melihatnya memerintahkan orang-orang untuk bersujud kepadanya, dengan sombong berdebat dengan Nabi Ibrahim: “Aku dapat memberi hidup dan mati!” (QS. 2:258), Anda akan bertanya: “Bagaimana Allah akan membalikkan keadaan ini? Senjata apa yang akan Dia gunakan?”.
Dan Anda tidak akan pernah menduga Allah akan mengirimkan seorang prajurit kecil dari pasukan-Nya, seekor nyamuk. Ya, seekor nyamuk masuk ke hidungnya dan bersarang di otaknya. Namrud tidak bisa tenang sampai orang-orang menendang kepalanya dengan sepatu.
Begitulah cara Allah bekerja, membuat kita takjub dengan cara-cara-Nya.
Jika Anda melihat Ibrahim dilemparkan ke dalam api, Anda akan berpikir: Mungkin Allah akan memadamkannya dengan air. Tetapi api itu hanya menyala atas perintah-Nya, dan Dia memerintahkan api itu untuk “dingin dan aman bagi Ibrahim”. Dia dapat mengubah sifat segala sesuatu.
Pisau tajam itu tidak memotong tenggorokan Ismail. Ikan paus tidak menelan Yunus. Segala sesuatu menaati perintah Allah.
Jadi jangan fokus pada keadaan dan sebab. Tetap fokus pada Pencipta segala sebab. Dia akan mencukupi Anda: “hasbuna Allah wa ni’ma al-Wakeel, ni’ma al-Mawlaa wa ni’ma an-Naseer”.
Selamat Senin, warga New York!
EDITOR: REYNA
Related Posts

Evolusi Solusi?

Suara Pilu Dari Bangkingan : Peringatan Sunyi, Saatnya SPARTA Hadir di Setiap RT

Sambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H, Walikota Tebingtinggi Ikuti Pawai Obor

Kaya Narasi, Miskin Prestasi

Ridwan Hisjam Nilai Gentengisasi Perlu Disesuaikan dengan Kemajuan Teknologi dan Industri

Ridwan Hisjam: Bangsa Ini Terlalu Lama Sibuk Berpolitik, Ekonomi Jalan di Tempat

Hilirisasi Ekonomi, Menjaga Kedaulatan dan Keadilan Sosial.

Modal Besar Gagal (MBG)

LINGLUNG

Nama Trump Disebut Lebih Dari Satu Juta Kali !!!



No Responses