Oleh: Budi Puryanto
Di saat pertarungan maut antara Seno dan Bram berkecamuk di rumah Maya, di sudut kota yang berbeda, sebuah operasi lain tengah berlangsung. Rumah sakit kota yang biasanya tenang, malam itu menjadi arena senyap yang menegangkan.
Anak Maya, seorang bocah sepuluh tahun, masih terbaring di ruang perawatan lantai tiga. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat. Dua perawat berjaga, sementara lampu lorong hanya menyala setengah, membuat bayangan panjang menghiasi dinding putih.
Pasukan khusus yang loyal pada Presiden Pradipa, bergerak diam-diam. Tugas mereka sederhana tapi berbahaya: mengamankan bocah itu, karena informasi menyebutkan kelompok Operasi Bayangan dari Garuda Hitam juga menargetkannya malam ini. Jika anak Maya jatuh ke tangan mereka, maka Bram akan punya senjata psikologis mematikan untuk menundukkan Maya.
Letnan Aditya, komandan tim pasukan khusus malam itu, memberi aba-aba dengan isyarat tangan. Lima prajurit menyebar ke koridor, senapan laras pendek dengan peredam siap digunakan. Mereka bergerak senyap, langkah kaki nyaris tak terdengar.
Namun di sisi lain gedung, pasukan Operasi Bayangan sudah lebih dulu menyusup. Empat orang berseragam hitam pekat, wajah mereka tertutup balaclava. Mereka bergerak dengan disiplin militer, mematikan kamera CCTV dengan alat pemutus sinyal.
Benturan senyap tak terelakkan.
Di lorong lantai dua, seorang anggota Pasukan Khusus nyaris berpapasan dengan Pasukan Bayangan yang merayap dari tangga darurat. Tanpa aba-aba, keduanya bertarung cepat. Pisau beradu dengan bayonet kecil. Suara desis napas dan benturan logam menggema samar, tanpa satupun peluru dilepaskan. Akhirnya, tubuh seorang prajurit Pasukan Bayangan jatuh tak bersuara, diseret ke balik kursi roda rusak.
Di lantai tiga, Aditya sudah mencapai pintu ruang perawatan. Ia memberi kode kepada dua anak buahnya untuk berjaga di depan, sementara ia masuk bersama satu prajurit lain. Bocah itu masih terlelap, tak tahu bahwa dunia di sekitarnya tengah runtuh.
“Pastikan dia tetap aman. Kalau perlu, bawa turun lewat jalur evakuasi darurat,” bisik Aditya.
Namun tiba-tiba, lampu lorong padam. Gelap gulita menyelimuti rumah sakit. Hanya suara tetesan infus dan derap langkah samar yang terdengar.
“Kontak visual hilang!” suara lirih salah satu prajurit Pasukan Khusus terdengar di radio internal.
Dari kegelapan, Operasi Bayangan mulai menyerang. Suara teredam peluru menembus pintu, membuat kaca pecah berhamburan. Aditya merunduk, menutupi tubuh bocah dengan tameng balistik.
Pertarungan berubah menjadi duel senyap di kegelapan. Senjata api digunakan dengan hemat, hanya ketika benar-benar perlu. Lorong rumah sakit menjadi ladang perburuan, setiap sudut menyembunyikan ancaman.
Salah satu prajurit Pasukan Khusus berhasil menyergap musuh di ruang obat, mengunci lehernya hingga tak bernapas. Tapi di sisi lain, dua anggota Pasukan Khusus tumbang setelah disergap oleh Pasukan Bayangan yang muncul dari lift darurat.
Aditya merasakan tekanan waktu. “Ekstraksi sekarang!” serunya pelan. Ia menggendong anak Maya, tubuh mungil itu terasa ringan namun begitu berharga.
Mereka bergerak menuju tangga darurat, namun di sanalah puncak duel terjadi. Seorang komandan Pasukan Bayangan, bermata dingin dan bersenjata pisau panjang, menghadang jalan keluar. “Serahkan anak itu, Aditya. Kau tahu ini bukan lagi urusanmu.”
Aditya menatapnya tajam. “Selama aku masih bernapas, kau takkan pernah menyentuhnya.”
Pertarungan sengit pun pecah di tangga sempit. Pisau melawan bayonet, pukulan melawan tendangan. Suara benturan logam bercampur teriakan tertahan. Bocah itu nyaris terlepas dari gendongan Aditya, namun seorang prajurit Pasukan Khusus cepat-cepat menangkapnya.
Akhirnya, dengan sisa tenaga, Aditya menghantam lawannya ke dinding besi tangga, membuat pria itu terjerembab. Namun sebelum ia memastikan kemenangan, sirene rumah sakit meraung—alarm darurat aktif. Seluruh bangunan kini dipenuhi cahaya merah yang berputar.
Pasukan Khusus terpaksa mempercepat langkah. Mereka berhasil membawa bocah itu keluar lewat pintu belakang rumah sakit, naik ke kendaraan taktis yang sudah menunggu. Namun di balik kaca jendela, mata-mata Pasukan Bayangan masih mengintai, menandakan duel ini belum berakhir.
Di dua tempat berbeda, malam itu menjadi saksi dua medan pertempuran: Seno yang mempertaruhkan nyawa demi keluarga Maya, dan Pasukan Khusus yang mempertaruhkan segalanya untuk melindungi anak Maya. Dua garis perlawanan yang akhirnya akan bertemu di titik takdir yang sama.
BERSAMBUNG
EDITOR: REYNA
Baca juga:
Api di Ujung Agustus (Seri 21) – Baku Hantam di Dua Pintu
Api Di Ujung Agustus (Seri 20) – Jejak Bayangan di Rumah Maya
Api Diujung Agustus (Seri 19) – Pembersihan Internal Garuda Hitam
Related Posts

Kapolri dan Kritik Anton Permana: Antara Kekuatan Negara dan Bahaya Kekuasaan yang Tak Terkontrol

Pesta Demokrasi 2029: Yang Maju Gibran Atau Joko Oey?

Ngerumpi Kapolri

Ketika Negara Tak Mau Lagi Memeluk Warganya

Utang Negara, Proyek Raksasa, dan Masa Depan Generasi Muda

Jejak Kata : Kuasa dan Iman

Pak Prabowo Bumihanguskan Penggarong Kekayaan dan Uang Negara, Ali Mahsun: Bisa Bubarkan Indonesia

Menunggu Godot

Rekonstruksi Pemikiran Prabowo dan Tantangan Ke Depan

Pengujian Atomistik Tidak Memadai Untuk UU KUHP/KUHAP


Api di Ujung Agustus (Seri 23) – Dua Api, Satu Malam - Berita TerbaruOctober 4, 2025 at 9:40 am
[…] Api di Ujung Agustus (Seri 22) – Duel Senyap di Rumah Sakit […]
Api di Ujung Agustus (Seri 25) – Garuda Hitam Membara - Berita TerbaruOctober 6, 2025 at 7:43 am
[…] Api di Ujung Agustus (Seri 22) – Duel Senyap di Rumah Sakit […]