Diponegoro Dalam Perang Iran

Diponegoro Dalam Perang Iran
Radhar Tribaskoro, Anggota Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Oleh: Radhar Tribaskoro

Setiap konflik besar selalu melahirkan dilema yang tak simetris. Bagi pihak yang lebih lemah secara material, pilihan-pilihan yang tersedia jarang bersih. Dilema itulah yang hari ini dihadapi Iran dalam konfliknya dengan Amerika Serikat. Iran dihadapkan pada dua opsi yang sama-sama mahal: melakukan deal yang dapat meredakan tekanan tetapi berisiko menjatuhkan harga diri dan legitimasi internal, atau bertahan dengan risiko eskalasi perang yang kekuatannya sendiri sulit menandingi Amerika secara konvensional.

Dilema ini sering disederhanakan oleh para pengamat: Iran dianggap rasional bila memilih kompromi, dan irasional bila memilih bertahan. Namun penyederhanaan semacam itu mengabaikan satu premis penting. Bagi Iran, bila perang benar-benar terjadi, ia tidak cukup hanya bertahan. Ia harus menang—atau, lebih tepatnya, ia harus memastikan bahwa lawan tidak bisa memenangkan perang itu dengan murah dan bersih. Tanpa kemungkinan itu, perlawanan akan berakhir sebagai bunuh diri politik.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar: bisakah Iran menang secara militer? Melainkan: apa arti “menang” dalam konflik asimetris?

Dilema semacam ini sesungguhnya bukan hal baru. Dua ratus tahun lalu, dalam konteks yang sama sekali berbeda, dilema serupa dihadapi Sentot Ali Basah dalam Perang Jawa. Sentot melihat realitas perang dengan mata seorang panglima modern. Ia menilai kekuatan Belanda secara langsung di medan tempur: benteng stelsel yang efektif, logistik yang kian rapi, dan pasukan yang mampu menutup ruang gerilya Diponegoro. Dari sudut pandang itu, kesimpulan Sentot rasional: perang telah kalah.

Keputusan Sentot untuk menghentikan perlawanan bukan lahir dari kepengecutan, melainkan dari pembacaan yang tampak objektif atas situasi militer. Namun justru di situlah letak tragedinya. Sentot membaca perang dengan horizon yang terlalu sempit: ia membaca perang sebagai persoalan Jawa, bukan sebagai persoalan imperium Belanda. Ia menilai kekuatan lawan berdasarkan efektivitas taktik di lapangan, bukan berdasarkan daya tahan negara kolonial secara keseluruhan.

Sementara itu Diponegoro membaca dengan cara yang berbeda. Cara membaca itu sering dianggap mistis, simbolik, bahkan irasional. Namun pembacaan Diponegoro sesungguhnya bergerak pada horizon yang lebih panjang. Ia tidak menilai perang dari siapa yang menguasai desa hari ini atau bukit esok hari, melainkan dari seberapa jauh perang itu menguras dan meretakkan tatanan kolonial yang menopangnya.

Sejarah kemudian menunjukkan bahwa pembacaan Diponegoro tidak sepenuhnya keliru. Perang Jawa hampir melumpuhkan keuangan dan kapasitas politik Belanda. Negara itu menang di Jawa justru pada saat ia berada di ambang kehancuran struktural. Pada tahun 1830 Belanda kehilangan Belgia karena ia tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mempertahankannya. Sumberdaya Kerajaan Belanda telah habis tersedot dalam Perang Jawa. Andai saja Sentot melihat keretakan struktural ini niscaya ia akan menolak tawaran damai itu.

Andai Sentot mengetahui keadaan Belanda yang sesungguhnya—utang yang menumpuk, stabilitas politik yang rapuh, dan ketergantungan total pada hasil eksploitasi kolonial—mungkin ia tidak akan membaca situasi sebagai kekalahan final. Mungkin ia akan menyadari bahwa Belanda hanya bisa menang dengan memeras dirinya sendiri sampai batas yang nyaris fatal. Dalam arti ini, Sentot tidak salah membaca medan, tetapi salah membaca waktu sejarah.

Di titik inilah analogi dengan Iran menjadi relevan. Amerika Serikat, seperti Belanda abad ke-19, memiliki kemampuan untuk menang secara taktis hampir di setiap konfrontasi. Namun setiap kemenangan semacam itu membawa biaya yang semakin berat: biaya fiskal, biaya legitimasi internasional, biaya stabilitas kawasan, dan biaya politik domestik. Seperti Belanda dahulu, Amerika sering kali harus memenangkan konflik dengan cara yang memperpendek napas strategisnya sendiri.
Iran, di sisi lain, tampak menyadari bahwa ia tidak mungkin mengalahkan Amerika dalam pengertian militer konvensional. Tetapi ia juga sadar bahwa tujuan utamanya bukanlah kemenangan bersih, melainkan ketahanan jangka panjang. Dengan memperpanjang konflik, menaikkan ongkos geopolitik, dan menolak kekalahan simbolik, Iran berusaha memastikan bahwa konflik dengan dirinya menjadi beban struktural bagi hegemoni Amerika.

Di sinilah dilema “harga diri” Iran menjadi lebih dari sekadar isu emosional. Harga diri bukan hanya soal simbol kehormatan, melainkan instrumen strategis. Menyerah terlalu cepat—seperti yang dilakukan Sentot—dapat mengakhiri penderitaan jangka pendek, tetapi sekaligus mengunci kekalahan historis. Bertahan—seperti Diponegoro—berisiko secara langsung, tetapi membuka kemungkinan bahwa lawan justru kalah oleh kelelahan dan biaya.

Sejarah jarang berpihak pada siapa yang paling kuat secara kasatmata. Ia lebih sering berpihak pada siapa yang mampu menahan waktu. Perang Jawa mengajarkan bahwa imperium tidak runtuh karena satu kekalahan telak, melainkan karena kemenangan-kemenangan yang terlalu mahal. Amerika hari ini mungkin tidak akan runtuh karena Iran. Namun konflik dengan Iran memperlihatkan dengan jelas bahwa kemenangan hegemonik di era modern semakin mahal, semakin rapuh, dan semakin sulit dipertahankan.

Dalam terang itu, dilema Iran dan tragedi Sentot berbagi satu pelajaran yang sama: kalah secara taktis tidak selalu berarti kalah secara historis, dan merasa kalah terlalu cepat bisa lebih fatal daripada bertahan dalam keadaan serba terbatas. Diponegoro kalah di medan perang, tetapi benar dalam membaca arah sejarah. Sentot hidup lebih lama, tetapi hidup di dalam struktur kekuasaan yang akhirnya menyingkirkannya juga.

Konflik Iran–Amerika belum mencapai akhirnya. Namun bila kita belajar dari Perang Jawa, maka pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah Iran bisa menang hari ini, melainkan apakah Amerika sanggup terus menang tanpa menghancurkan fondasi kekuatannya sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa di situlah, sering kali, kekalahan yang sesungguhnya bermula.

CIMAHI, 4 FEBRUARI 2026

 

EDITOR:  REYNA

Last Day Views: 26,55 K