Oleh: Budi Puryanto
Di luar perannya di Asia Tenggara, Soeharto memiliki kontribusi besar dalam diplomasi dunia Islam. Banyak ahli sejarah politik internasional mencatat bahwa Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, baru memiliki posisi terhormat di antara negara-negara Islam justru pada masa kepemimpinan Soeharto.
Indonesia Naik Kelas di Dunia Islam
Awalnya, negara-negara Timur Tengah memandang Indonesia dengan jarak tertentu. Namun lewat diplomasi konsisten, tenang, dan tidak konfrontatif, Soeharto berhasil mengangkat profil Indonesia dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI).
Prof. Azyumardi Azra, pakar sejarah Islam, pernah menulis bahwa peran Soeharto dalam OKI adalah salah satu yang paling signifikan karena Indonesia menjadi “jembatan diplomatik” antara negara-negara Muslim moderat dan kelompok negara yang terjebak konflik. Ia menyebut Soeharto sebagai pemimpin yang “tidak banyak berpidato, tetapi bekerja dalam sunyi untuk menjaga persatuan dunia Islam.”
Di bawah Soeharto:Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi OKI tahun 1993. Indonesia dipercaya sebagai salah satu mediator dalam konflik internal dunia Islam. Indonesia dilihat sebagai kekuatan moderat, stabil, dan bisa diandalkan.
Posisi ini membawa Indonesia masuk dalam lingkaran strategis diplomasi global di Timur Tengah.
Membantu Bosnia: Solidaritas Yang Tak Banyak Diungkap
Di balik layar diplomasi, terdapat satu cerita yang jarang dibahas tetapi sangat penting: peran Soeharto dalam membantu Muslim Bosnia yang tengah menghadapi pembersihan etnis (ethnic cleansing) pada awal 1990-an.
Saat perang Balkan berkecamuk, umat Muslim Bosnia menjadi target pembantaian oleh kelompok ultranasionalis Serbia. Dunia internasional lambat merespons, tetapi Indonesia—di bawah Soeharto—mengambil posisi tegas.
Pertama, Dukungan Politik dan Diplomatik
Indonesia menjadi salah satu negara Muslim yang paling aktif menyuarakan penderitaan Bosnia di sidang-sidang PBB dan OKI.
Dr. Agus Widjojo, analis hubungan internasional, menyebut bahwa Indonesia adalah “salah satu suara moral paling kuat dari Asia” dalam mendorong intervensi internasional untuk menghentikan kekejaman itu.
Kedua, Bantuan Kemanusiaan dan Hubungan Langsung dengan Sarajevo
Soeharto memerintahkan penyaluran bantuan kemanusiaan besar-besaran, termasuk logistik dan obat-obatan. Indonesia juga mengirim sejumlah relawan yang bekerja bersama lembaga internasional di Bosnia.
Presiden Bosnia saat itu, Alija Izetbegović, menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung kepada pemerintah Indonesia. Dalam beberapa arsip diplomatik, disebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang paling konsisten bersuara membela rakyat Bosnia.
Ketiga, Bantuan Senjata untuk Bosnia: Kontroversi yang Diakui Banyak Sejarawan
Beberapa peneliti, termasuk sejarawan militer Dr. Salim Said, menyebut bahwa Indonesia dalam tingkat tertentu terlibat dalam dukungan yang sifatnya lebih strategis.
Ada catatan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang berupaya memastikan rakyat Bosnia dapat mempertahankan diri ketika embargo senjata membuat mereka tak berdaya.
Seorang ahli intelijen Soeripto (alm), pernah bercerita bahwa dirinyalah yang ditugasi secara khusus memberikan bentuan senjata untuk Bosnia. Tak seorang pun pejabat tahu, termasuk Mensesneg Moerdiono.
Moerdiono kaget waktu mendampingi Presiden Soeharto ke Bosnia, Presiden Bosnia mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Presiden Soeharto atas bantuan sosial dan bantuan senjata yang memang sangat dibutuhkan Bosnia.
“Pak Presiden, kita tidak pernah memberi bantuan senjata,” kata Moerdiono kepada Presiden Soeharto.
“Wis, wis menengo wae (sudah, sudha diam saja),” jawab Presiden Soeharto kepada Moerdiono.
Tindakan ini memang tidak pernah dipublikasikan secara resmi, tetapi disebut oleh Salim Said sebagai “solidaritas antar sesama Muslim yang bergerak dalam ruang diplomasi sunyi”.
Di Sarajevo, ibukota Bosnia pak Harto membangun masjid yang besar, paling besar d kota itu. Awalnya dulu bernama “Masjid Soeharto”, namun di kemudian hari berganti nama manjadi “Masjid Istiqlal”.
Soeharto, Indonesia, dan Martabat Umat
Banyak ahli meyakini, bila berbicara tentang kontribusi dalam skala global, Soeharto adalah salah satu tokoh yang berhasil menempatkan Indonesia sebagai suara penting dunia Islam, menjaga posisi Indonesia sebagai negara besar yang moderat, dan membela kelompok rentan yang mengalami genosida.
Bahkan sejarawan Eropa Timur, Dr. Michael Sells, menyebut Indonesia di era Soeharto sebagai “partner yang berani mengambil posisi moral ketika banyak negara ragu”.
Tulisan ini ingin menegaskan bahwa kontribusi Soeharto bukan hanya domestik, tetapi juga global. Ia memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin bisa menjaga martabat bangsanya dan sekaligus membela kemanusiaan di panggung dunia.
BERSAMBUNG
EDITOR: REYNA
Baca juga:
Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (5) : Pelopor Swasembada Pangan Yang Diakui Dunia
Related Posts

Djohermansyah Djohan: Perlu Kategori Baru, “Bencana Regional”

Sri Radjasa Kritik Seruan Perayaan HUT GAM di Tengah Aceh Dilanda Bencana

Kekuatan Negara Sudah Dikendalikan Kapitalis Hitam, Presiden Prabowo Harus Introspeksi Diri

Sri Radjasa: Telat Mendapat Kabar Bencana Sumatera, Prabowo Perlu Radical Break

Sri Radjasa: Lemahnya Kontrol Negara Terhadap Kawasan Industri Strategis

Tongkat Bambu Kuning Almarhum Mbah KH. Hasym Asy’ari Bergetar, Pertanda Apa??

Bukan Pada Mata, Tetapi Pada Pandangan!

Tolong Menolong Itu DNA Bangsa

China Memblokir Penggunaan Chip Nvidia oleh ByteDance

Aparat Penegak Hukum Lumajang Tak Boleh Ragu Terapkan Sanksi Berat Pemilik Gudang Yang Diduga Menimbun Solar Subsidi


Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (8) : Penghargaan Dunia Dan Jejak Diplomasi Global Indonesia - Berita TerbaruNovember 26, 2025 at 8:19 am
[…] Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (7): Diplomat Dunia Islam dan Pembela Bosnia Dari Genoside S… […]