Oleh: M. Shoim Haris
Founder ADCENT (Advisory Center for Development)
Di penghujung tahun 2025, Indonesia berdiri di persimpangan sejarah. Di satu sisi, kita memiliki pencapaian yang patut dibanggakan: stabilitas makroekonomi yang terjaga, status sebagai negara berpendapatan menengah atas, dan posisi geopolitik yang semakin penting di kawasan. Di sisi lain, kita menghadapi tantangan struktural yang serius: produktivitas yang mandek, transformasi struktural yang lambat, dan kesenjangan yang persisten.
Data menunjukkan bahwa kita memiliki semua prasyarat untuk sukses: sumber daya alam yang melimpah, populasi muda yang besar, stabilitas politik yang terjaga, dan modal sosial yang kuat. Yang kurang bukanlah sumber daya, tetapi model pembangunan yang kontekstual—model yang memanfaatkan kekuatan unik Indonesia sambil mengatasi kelemahan strukturalnya.
Techno-Spiritual Based Development menawarkan kerangka yang realistis dan kontekstual. Bukan sebagai ideologi baru yang menggantikan semua yang lama, melainkan sebagai sintesis pragmatis yang mengintegrasikan elemen-elemen terbaik dari berbagai pendekatan: efisiensi dari pasar, keadilan dari negara, dan nilai dari masyarakat.
TSD mengakui kompleksitas Indonesia: negara dengan ekonomi modern yang terintegrasi dengan global namun masyarakat yang tetap memegang nilai-nilai tradisional; teknologi canggih yang diadopsi dengan cepat namun digunakan dalam konteks sosial-budaya yang spesifik; institusi negara yang berkembang namun tetap bersanding dengan kelembagaan komunitas yang kuat.
Tahun 2026 akan menjadi tahun kritis. Bonus demografi mencapai puncaknya pada 2030—tinggal 5 tahun lagi untuk memanfaatkan momentum ini. Perubahan iklim semakin nyata dampaknya. Revolusi teknologi terus berakselerasi. Dalam konteks ini, status quo bukan pilihan.
Pilihan kita hari ini akan menentukan apakah Indonesia 2045—tepat seabad setelah kemerdekaan—menjadi negara maju yang bermartabat dengan pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan, atau negara menengah yang terjebak dengan pertumbuhan yang rapuh dan tidak transformatif.
Jawabannya tidak terletak pada teori ekonomi manapun, tetapi pada keberanian kita untuk mencari jalan sendiri—jalan yang menghormati masa lalu, mengelola masa kini, dan membangun masa depan dengan integritas.
Seperti kata bijak dari leluhur kita: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Pembangunan yang sejati adalah yang mengakar pada realitas lokal, sekaligus membuka jendela ke dunia global. Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan untuk menulis babak baru dalam sejarah pembangunannya. Tinggal satu pertanyaan: apakah kita memiliki visi yang jernih dan keberanian untuk mengeksekusinya?
Di ujung tahun 2025, mata kita tertuju ke depan. Bukan dengan kekhawatiran, tetapi dengan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik mungkin dicapai—jika kita memiliki keberanian untuk memilih jalan yang tepat dan konsistensi untuk menempuhnya sampai akhir.
TAMAT
EDITOR: REYNA
Related Posts

Nikita, Cermin KejujuranYang Ditolak

Eks Menpora Dito Diperiksa KPK Terkait Kunjungan Kerja ke Arab Saudi dalam Kasus Haji

Sekolah Ramah Anak Surabaya dan Fenomena Gunung Es Kekerasan Simbolik

Tim Perusahaan Segera Melakukan Penanggulangan Minyak Tumpah Di Laut Untuk Cegah Pencemaran

Elite Berpesta Mengeruk Anggaran Negara

Dia Yang Merusak, Dia Yang Memperbaiki?

Harga emas mencapai rekor tertinggi di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi

Geopolitik Membentuk Ulang Prakiraan Ekonomi Seiring Meningkatnya Risiko Rantai Pasokan

Kedaulatan Rakyat Telah Dirampas Dan Dibajak Parpol Dan DPR

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, Usul Guru Honorer Diprioritaskan Diangkat PPPK Sebelum Pegawai SPPG


No Responses