Jangan Mati Sendiri Melihat Kondisi Negara

Jangan Mati Sendiri Melihat Kondisi Negara

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Tidak hanya sang psikolog yang terkejut, saya sendiri terkejut – “kok sampai segitunya mikir negara”- begitu dalam hati saya. Di berita yang dilaporkan CNA Indonesia saya pada tanggal 14 Januari 2026 membaca curhatan seorang psikolog klinis bernama Lya Fahmi mendadak viral setelah ia mengungkap pengalaman yang belum pernah ia jumpai sepanjang karier. Ia terkejut ketika dua klien datang berturut-turut dalam kondisi emosional berat, bukan karena urusan pribadi, melainkan beban sosial yang mereka tanggung sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Pengalaman itu memicu percakapan luas tentang kesehatan mental yang tak bisa dilepaskan dari situasi politik dan kondisi sosial yang dirasakan masyarakat saat ini.

“Baru kali ini terjadi selama 7,5 tahun karirku sebagai psikolog, dua klien berturut-turut datang bukan karena masalah pribadi, tapi distress karena negara,” tulis Lya dalam postingannya yang viral dan meraih lebih dari 200 ribu likes. CNA Indonesia sudah meminta izin untuk mengutip pernyataan ini.

Klien yang stress itu dilaporkan mbak Lya Fahmi ini sampai nangis dan marah-marah
melihat apa yang dipertontonkan oleh pejabat negara,” ujarnya.

Saya terkejut karena biasanya seorang itu stress, tertekan jiwanya karena dipicu persoalan pribadi, persoalan keluarga, persolan di tempat kerja dsb. Namun kali ini ada orang yang stress karena melihat kondisi negara saat ini, isu-isu tentang kebijakan negara, pendeknya stress yang bersangkutan itu berasal dari situasi sosial politik.
Lya mengatakan dua klien tersebut masuk sesi dalam kondisi emosional sejak awal.

Salah satunya bahkan langsung menangis sambil mengungkapkan rasa putus asa sebagai warga negara. Kalo ngeliat cara pemerintah menangani korban bencana Sumatra, aku merasa seolah rakyat ini enggak ada harganya. Enggak didengarkan, diabaikan pula. Putus asa banget rasanya jadi WNI,” kata klien tersebut, seperti dituturkan ulang oleh Lya. Psikolog ini mengaku selama ini mengira narasi “menderita sebagai WNI” hanya muncul di dunia maya. Nyatanya, hal tersebut kini memasuki ruang konseling.

Judul tulisan saya diatas adalah penggalan dari nasihat sang psikolog Lya ini kepada pasiennya itu, tepatnya “Jangan jalan sendiri, jangan sakit hati sendiri, dan jangan sampai mati sendiri,” tuturnya.

Saya tidak tahu persis kondisi negara yang seperti apa yang dilihat, dipikir dua pasien jiwa itu sampai-sampai mengaku stress menjadi Warga Negara Indonesia. Apakah masih marak nya korupsi yang dilakukan para pejabat negara, apakah begitu banyaknya harta koruptor yang berupa mobil-mobil mewah, arloji mahal, rumah besar dan mewah, tas-tas nya istri para koruptor tadi yang harganya ratusan juta, apakah melihat ribuan gelondongan kayu yang besar ukuranya diluar ukuran lingkar tangan dan tingginya diatas tiang listrik yang menerjang Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh, apakah mikir berat karena kasus dugaan ijazah palsu mantan Presiden Jokowi yang tidak selesai-selesai dsb dsb.

Kalau saya bertemu dengan pasien yang stress itu mungkin saya nasihati “Ojok gendeng dewe mbak/mas”.

EDITOR: REYNA

Last Day Views: 26,55 K