Jejak Kata : Kuasa dan Iman

Jejak Kata : Kuasa dan Iman
Ilustrasi: Masjid Quba’ di Madinah, saat ini.

Oleh: Gde Siriana Yusuf

Ramadhan seharusnya menjanjikan bulan yang penuh ketenangan. Sebuah waktu ketika suara-suara dunia diturunkan volumenya, dan manusia kembali mendengar dirinya sendiri. Di masjid, doa-doa terdengar khusyuk, mengalir dari bibir yang mungkin letih, tapi jujur.

Barangkali selain memohon ampunan Tuhan, di sela-selanya terselip harapan yang sangat duniawi: semoga harga tak melonjak, semoga pejabat berlaku jujur, semoga negeri ini menemukan kembali jalannya yang lurus, jalan yang lama terasa kabur oleh debu kepentingan.

Puasa hadir sebagai jeda. Ia mengajarkan jarak, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi dari hasrat untuk segera menguasai, mengalahkan, dan membenarkan diri. Dalam jarak itulah iman bekerja.

Kadang iman memang butuh menjauh dari kekuasaan agar tetap jernih. Terlalu dekat, ia mudah diperalat; terlalu akrab, ia kehilangan keberanian untuk mengingatkan.

Sajadah, pada hakikatnya, adalah ruang paling setara. Tak ada pangkat, tak ada pengaruh, tak ada suara yang lebih tinggi dari yang lain. Karena itu, berbahaya jika politik ikut digelar di atasnya. Di sana, doa bisa tergelincir menjadi pembenaran, dan kesalehan berubah menjadi strategi. Yang suci pelan-pelan dipinjam untuk menutupi yang rakus.

Maka puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan menunda kemenangan. Sebab barangkali persoalan terbesar negeri ini bukan kekurangan orang beriman, melainkan kelebihan orang yang ingin menang, bahkan ketika sedang bersujud.

Ramadhan hadir bukan untuk menyucikan politik, melainkan untuk mengingatkan batasnya. Bahwa tidak semua hal perlu dimenangkan, dan tidak semua kuasa layak diperjuangkan dengan mengorbankan kejernihan iman.

Di bulan ini, manusia diajak menundukkan kepala, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan kesadaran bahwa kekuasaan, setinggi apa pun ia dijulang, tetap tak akan pernah pantas duduk di tempat doa.

EDITOR: REYNA

Last Day Views: 26,55 K