Oleh: Yusuf Blegur
Orasi segunung tak mampu mengusir rasa frustasi.
Berserakan nasi dan gizi, namun tak sanggup mencegah anak bunuh diri.
Pidato berapi-api tapi tanpa nurani.
Betapa miris jadi pemimpin yang tak manusiawi
Presiden tengah mabuk kekuasaan dan lupa diri.
Mengingkari janji-janji dan terus mengejar ambisi.
Bukan memberantas korupsi, malah ikut berpartisipasi dan melindungi.
Gemar orasi mengumbar keberhasilan, namun tanpa rasionalisasi dan bukti.
Presiden entah lupa atau memang tak tahu diri.
Kewajiban kerap dijawab dengan basa-basi, anti kritik dan koreksi.
Realitas selalu dihadapi dengan halusinasi.
Seolah-olah tak sadar diri, ia terus berada di alam mimpi.
Presiden terbiasa hidup dalam kontradiksi.
Tak bisa membedakan mana yang teknis dan mana yang substansi.
Seakan tak mampu menggunakan akal dan sanubari.
Tak sedikitpun tersisa keluhuran budi dan rasa empati.
Presiden kini tak sekedar mabuk kekuasan, ia juga dipenuhi arogansi dan terus terobsesi pada bisnis dan materi.
Seolah-olah mengedepankan konstitusi dan menjunjung demokrasi.
Apa daya, praktiknya hanya manipulasi dan konspirasi di negeri penuh anomali.
Presiden apa adanya, kaya narasi namun miskin prestasi.
Bekasi, Kota Patriot.
28 Sya’ban 1447 H/16 Februari 2026. EDITOR: REYNA
Related Posts

Rumah Radio Bung Tomo dan Jejak Memori Nasionalisme Rakyat Surabaya

Dunia Panik, Bagaimana Indonesia?

Sidang Korupsi LNG: Hari Karyuliarto Sebut Proyek Untung USD 97 Juta, Kuasa Hukum Nilai Kasus Ini Kriminalisasi

Zakat Fitrah: Untuk Kualitas Empati Kemanusiaan

Indonesia Dalam Ancaman Amerika Dan Iran

The Power of Humanity

Kasus Impor LNG: Ahli BPK Sebut Pertamina Untung, Terdakwa Pertanyakan Kerugian Negara

Podcast Ten Ten: Sri Radjasa dan Roy Suryo Soroti Dugaan Kejanggalan Ijazah Jokowi

Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama, Wujud Polsek Bandar Hadir dan Peduli Masyarakat

Urgensi Indonesia Keluar dari Board of Peace (BoP)



No Responses