Oleh: Sutoyo Abadi
Orang – orang disekeliling Presiden Prabowo banyak yang bersikap licik yang hanya mengejar kekuasaan, ABS, tidak peduli apa akibatnya sebagai penjilat akan menjadi manusia sampah.
“…. Orang yang berpikiran jernih naik ke atas, orang yang bergairah tetap di tengah – tengah, orang yang diliputi inersia gelap terperangkap dalam cara-cara lalim, terperosok dalam.” (Bhagawat Gita)
Anomali dalam tata kelola pemerintahan negara oleh manusia licik penuh inersia gelap hanya mengejar kekuasaan di pastikan akan terus terjadinya kekacauan sebagai energi awal yang akan memicu kudeta politik.
“Menyiapkan diri setelah bahaya datang adalah sia – sia” (Fabel Aesop)
Nietzsche menyebut sebagai Apollonian ideal (Hanya orang yang tidak sanggup melihat lebih jauh dari hidungnya sendiri pasti akan ditelan petaka).
Paska berlakunya UUD 2002 Presiden dan para pejabat negara berkerja tanpa arah, hanya mengejar kekuasaan. Bukan karena lupa bahkan sudah tidak mengenali tujuan negara sesuai amanat dalam Pembukaan UUD 45.
“Tersisa pejuang sejati, menghadapi realita pecundang dan penghianat negara ada dimana mana. Untuk menyingkirkan dan membersihkan mereka peluangnya hanya dengan tindakan melawan. Persis seperti yang dikatakan Menhan lawan terhadap kekuatan yang akan merusak kedaulatan negara. Artinya jangan takut untuk bersikap berani.”
“Setiap bangsa mempunyai tujuan untuk ketentraman, kesejahteraan, kemakmuran, harus diwujudkan melalui politik, namun kalau ada bangsa lain atau kekuatan internal menghambatnya melalui politik, perang adalah hasil alaminya.”
Perang tidak sekedar kemenangan tetapi upaya mengejar kebijakan yang tidak mungkin diwujudkan dengan cara lain selain melalui kekuatan (perang).
Cara paling ideal untuk mengatasi kekacauan di Indonesia dimana kekuatan negara baik politik dan ekonomi terasa sudah di kendalikan oleh kapitalis hitam, Presiden Prabowo harus introspeksi diri pasti ada kesalahan pada kebijakan presiden.
Tidak ada ketegasan sikap, cuap – cuap pidato di atas mimbar, begitu turun dari podium nyali kembali mengecil.
“Kalau dalam sebuah Kabinet pemerintahan, seorang menteri sebagai pembantu Presiden mulai melawan kebijakan Presiden apalagi hanya seorang Kapolri berkali kali menerabas kebijakan Presiden, pasti ada kekuatan yang lebih besar dan kuat di luar kekuasaan Presiden yang mengendalikannya.”
Ternyata nyali Presiden Prabowo begitu kecil, kedaulatan dan keselamatan negara tetap dipertaruhkan, tidak punya nyali ambil tindakan tegas, putus akar – akar mereka dan hancurkan mereka sebelum bahaya lebih besar, sebelum menjadi terlalu besar untuk ditangani atau kekuatan tersebut akan memangsa dan menelan Presiden Prabowo sendiri. Strategi besar mengenali nilai tindakan dini.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Al-Quran Tentang Keluarga, Desa, Kota, Dan Negara

Misinformasi dan Ancaman Pertahanan

Kemenangan Seorang Pejuang Sejati Bukan Pada Standar Manusia, Tetapi Pada Posisi Istiqomah Dan Ridlo Allah SWT.

Menjadi Wali Nikah Seorang Muallaf

Bank BJB Dari Perspektif Ekonomi Politik

Sufmi Dasco, Senopati Politik Prabowo Subianto (78): Saya Laporkan Apa Adanya, Presiden yang Menentukan Arah

Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur

Pendidikan Bukan Persekolahan

Isra’ Mi’raj Rasulullah: Perjalanan Suci Penuh Hikmah – Bagian 2

Al-Quran Kitab Segala



No Responses