Oleh: Ahmad Cholis Hamzah
Mungkin karena organisasi Nahdlatul Ulama (BU) itu merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia dan konflik internal di PBNU sekarang ini terjadi karena menyangkut soal Israel maka beberapa media asing tertarik untuk mewartakan. Salah satunya media Reuter tanggal 23, 22025 menurunkan laporan tentang desakan mundur dari organisasi kepada ketua umum PBNU Yayhya Cholil Staquf mengundurkan diri karena mengundang seorang cendekiawan AS yang dikenal karena dukungannya terhadap Israel selama perang Gaza ke sebuah acara internal pada bulan Agustus, menurut risalah pertemuan yang ditinjau oleh Reuters. Media Al-Jazeera juga menurunkan berita yang sama.
Media internasional mungkin tidak tertarik memberitakan isu perpecahan di PBNU itu salah satunya juga diduga dikarenakan adanya pertarungan kepentingan para pejabat PBNU tentang pengurusan tambang yang didapat dari pemerintah. Mereka juga tidak tertarik menurunkan berita Gus Ipul dicopot jabatannya sebagai Sekjen PBNU akibat dari konflik internal ini. Nampaknya bagi media asing, isu soal Israel di pusaran konflik PBNU itu lebih menarik untuk dilaporkan.
Menurut Reuter Kepemimpinan NU, yang juga merupakan organisasi Islam terbesar di dunia dengan sekitar 100 juta anggota dan afiliasi, telah memberi Ketua Yahya Cholil Staquf tiga hari untuk menawarkan pengunduran dirinya atau dicopot dari jabatannya, menurut risalah dari pertemuan pada hari Kamis. NU mengutip undangan Staquf kepada seseorang yang “berafiliasi dengan jaringan Zionisme Internasional” untuk acara internal dan dugaan salah urus keuangan sebagai alasan penggulingannya.
Wakil Sekretaris Jenderal NU Najib Azca mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan itu terkait dengan undangan Staquf kepada mantan pejabat AS dan cendekiawan Peter Berkowitz untuk acara pelatihan Agustus.
Berkowitz sering menulis untuk mendukung kampanye Israel di Gaza, menurut situs webnya, termasuk sebuah artikel pada bulan September yang bertujuan untuk membantah tuduhan genosida terhadap Israel.
Dalam sebuah opini pada bulan Oktober, Berkowitz mengatakan bahwa “pengakuan formal atas negara Palestina imajiner memundurkan keamanan, stabilitas dan perdamaian” dan “membebani populasi Muslim yang tumbuh di demokrasi Barat”.
“Ini memperkuat fantasi progresif bahwa hambatan utama untuk solusi yang adil dan langgeng untuk konflik Israel-Palestina adalah perang Israel daripada ketegasan Palestina dan haus darah Hamas,” katanya.
Media Time of Israel melaporkan bahwa meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Indonesia sebelumnya telah berkoordinasi dengan Israel untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan dikatakan tahun lalu sedang mempertimbangkan normalisasi untuk bergabung dengan OECD.
Media Israel ini bahkan melaporkan bahwa Presiden Indonesia Prabowo Subianto secara luas dilaporkan pada bulan Oktober telah berencana untuk mengunjungi Israel, meskipun Jakarta membantah kunjungan apa pun direncanakan. Seorang sumber yang akrab dengan masalah ini mengatakan kepada The Times of Israel bahwa dia awalnya menyetujui perjalanan tetapi mundur setelah rencana itu bocor ke pers, karena khawatir tentang penolakan domestik.
Beberapa media melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu memuji pidato pak Prabowo di Sidang Umum PBB bulan September 2025 lalu yang menyingggung perlunya menghormati dan memberi jaminan keamanan pada Israel selain pengakuan terhadap Palestina.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Sri Radjasa, Ketahanan Energi, Dan Pertahanan Negara (4-Tamat): Menata Ulang Ketahanan Energi Nasional

Sri Radjasa, Ketahanan Energi, Dan Pertahanan Negara (3): Tambang Dan Regulasi Yang Lemah

Sri Radjasa, Ketahanan Energi, Dan Pertahanan Negara (2): Negara Dalam Negara dan Mandeknya Penegakan Hukum

Sri Radjasa, Ketahanan Energi, Dan Pertahanan Negara (1): Morowali Bukti Lemahnya Kontrol Negara

Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini Minta Kemenkes Cegah Penyakit Dampak Banjir Aceh-Sumut-Sumbar

Kejahatan Dan Penipuan Mantan Presiden Jokowi

Melawan Krisis Kualitas Lingkungan dari Tangan Mungil di Hari Menanam Pohon Indonesia

Hak Presiden Atau Cawe-Cawe?

Ketika Jati Diri Bangsa Diretas dari Dalam

Habib Umar Alhamid Sebut 212 Simbol Kekuatan Bangsa, Dorong Presiden Prabowo Hadir di Reuni 212


No Responses