Oleh: Ariyana
Dosen dan Aktivis Muslimah
Masih bisakah rakyat bersuara?. Saat ini kita disuruh diam dalam menyaksikan berbagai hal ketimpangan yang terjadi. Masyarakat seoalah hanya sebagai pengamat tanpa harus bersuara. Mengeluarkan pendapat secara bebas bearti harus bersiap menghadapi berbagai ketidakadilan terhadap kritik yang kita bicarakan. Rakyat tidak buta dan tuli dalam menghadapi berbagai persolaan yang ada di negeri demokrasi yang katanya memihak pada kepentingan bersama. Apapun yang disuarakan akan menjadi ancaman bagi kita, kritik terhadap penguasa menjadi ancaman bagi kelompok tertentu. Upaya untuk memperbaiki negeri ini melalui kritik tidak berlaku pada golongan tertentu, karena akan membahayakan kedudukan dalam pemerintahan.
Beberapa konten kreator dan influencer kritis terhadap kebijakan rezim diteror dan diintimidasi. Hal ini membuktikan betapa ketakutanya mereka jika suara kebenaran diungkap. Menyuarakan kritik pedas terhadap pemerintah mengenai penangan pascabencana Sumatera dianggap perbuatan yang berbahaya bagi penguasa. Pemerintah dinilai abai dalam memperbaiki infrastruktur pascabencana dan kurangnya perhatian terhadap warga yang berdampak. Akhirnya para anak muda menyuarakan ketidakadilan tersebut dalam bentuk kritik terhadap pemerintah. Namun, sangat disayangkan hal tersebut menjadi ancaman bagi para konten kreator. Bentuk teror yang dilaporkan beragam, mulai dari ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital, bom molotov, kiriman bangkai ayam, hingga intimidasi yang menyasar keluarga korban (mediaindonesia.com, 31/12/2025). Perbuatan keji tersebut menuai komentar beragam bahwa pemerintah tidak tegas dalam melindungi rakyat, kebebasan berekspresi harusnya menjadi hak warga negara.
Teror dan intimidasi terhadap aktivis dan influencer kritis adalah bentuk kekerasan negara untuk membungkam suara rakyat. Pelaku teror tentunya orang suruhan yang diminta untuk membungkam suara kebenaran yang disuarakan para influencer, tindakan pengecut tersebut makin menguatakan dugaan dalang dibalik teror tersebut para penguasa rezim. Teror dilakukan untuk menciptakan rasa takut rakyat pada rezim yang berkuasa. Rezim anti kritik menjadi bukti bahwa sistem yang berjalan adalah demokrasi otoriter. Kezaliman sangat nyata dipertontonkan, berbagai pencitraan diperlihatkan pejabat seolah-olah merasakan penderitaan korban bencana Sumatera padahal mereka hanya mencari pupularitas. Melaporkan pada atasan bahwa mereka sudah bekerja dengan maksimal, Asal Bapak Senang (ABS).
Sistem demokrasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, sudah banyak hal yang merusak tatanan di negeri ini. Keberpihakan bukan ditangan rakyat lagi namun ditangan pemilik modal. Demokrasi mempunyai slogan suara rakyat suara Tuhan, asumsi ini sangat menyesatkan. Faktanya suara terbanyak belum tentu dapat membawa kemaslahatan bagi umat. Justru sistem yang ada saat ini membawa penderitaan rakyat disemua sektor kehidupan. Kritik yang dilayangkan pada pemerintah melalui influencer sudah mewakali rakyat, namun hal tersebut justru menjadi ancaman bagi para konten kreator. Teruslah bersuara, sampaikanlah kebenaran.
Penguasa dalam Islam adalah junnah (pelindung) rakyat, bukan peneror dan pengancam rakyat. Kekuasaaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, Islam sudah jelas mempertegas hal demikian. Untuk itu semua yang berada dalam pemerintahan haruslah orang yang bertaqwa yang dapat menegakan syariat Islam secara kafah. Hubungan penguasa dan rakyat diatur syari’at: penguasa wajib menjalankan peran ra’in dan junnah, rakyat wajib muhasabah lil hukam. Kekuasaan harus diberikan pada orang yang tepat dalam menjalankan amanah dan takut kepada Allah Swt.
Para khalifah sangat menghargai kritik dari warganya. Pemimpin dalam Islam membuka kritik dan saran yang diberikan rakyat secara terbuka, tanpa adanya intimidasi. Dengan demikian, kezaliman dan kesengsaraan harus diakhiri untuk untuk mencapai kesejahteraan yang hakiki. Sudah saatnya kita menerapkan hukum-hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Al-Quran Tentang Keluarga, Desa, Kota, Dan Negara

Misinformasi dan Ancaman Pertahanan

Kemenangan Seorang Pejuang Sejati Bukan Pada Standar Manusia, Tetapi Pada Posisi Istiqomah Dan Ridlo Allah SWT.

Menjadi Wali Nikah Seorang Muallaf

Bank BJB Dari Perspektif Ekonomi Politik

Sufmi Dasco, Senopati Politik Prabowo Subianto (78): Saya Laporkan Apa Adanya, Presiden yang Menentukan Arah

Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur

Pendidikan Bukan Persekolahan

Isra’ Mi’raj Rasulullah: Perjalanan Suci Penuh Hikmah – Bagian 2

Al-Quran Kitab Segala



No Responses