Muchdi PR, Keteguhan Kader Muhammadiyah Dari Hizbul Wathan Hingga Tapak Suci

Muchdi PR, Keteguhan Kader Muhammadiyah Dari Hizbul Wathan Hingga Tapak Suci
Muchdi PR (kiri) dan Budi Puryanto, Pemred zonasatunews.com (kanan)

Oleh: Achsin El-Qudsy, Jurnalis

 

Tatapannya tajam, ucapannya hemat. Ia bukan tipe tokoh yang gemar tampil dengan retorika panjang atau sorotan berlebih. Namun di balik sikap tenang itu tersimpan keteguhan sikap dan komitmen ideologis yang kuat. Sosok itu adalah Mayjen (Purn) Muchdi Purwoprandjono—lebih dikenal sebagai Muchdi PR—figur yang bagi banyak kalangan Muhammadiyah bukan hanya nama, melainkan bagian dari perjalanan panjang gerakan.

Bagi mereka yang pernah berinteraksi langsung, kesan pertama terhadap Muchdi PR kerap serupa: tegas, disiplin, tetapi hangat dalam nuansa kebapakan. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya terukur. Karakter itu menjadi cerminan perjalanan hidupnya—dibentuk oleh dunia kepanduan, ditempa dalam tradisi organisasi, lalu mengeras melalui pengalaman panjang di lingkungan militer.

Hubungan Muchdi PR dengan Muhammadiyah tumbuh sejak usia muda. Ia bergabung dalam Hizbul Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah, sebagai Pandu Athfal. Dari sinilah fondasi kedisiplinan, kepemimpinan, dan pengabdian mulai terbentuk.

Dalam tradisi Muhammadiyah, kaderisasi bukan proses administratif, melainkan pembentukan watak. Hizbul Wathan menanamkan kemandirian, keberanian, serta tanggung jawab sosial. Nilai-nilai itu tampak jelas dalam perjalanan hidup Muchdi PR—baik saat berkiprah di dunia militer maupun ketika kembali menapaki ruang-ruang pengabdian di lingkungan persyarikatan.

Namanya kemudian kerap disebut sebagai salah satu tokoh penting di balik kebangkitan kembali Hizbul Wathan pada 1999. Momentum tersebut bukan hanya kebangkitan organisasi, tetapi juga simbol bangkitnya semangat kaderisasi Muhammadiyah di era baru Indonesia pascareformasi. Peran tokoh-tokoh yang memahami ruh gerakan—termasuk Muchdi PR—menjadi kunci menjaga kesinambungan sejarah sekaligus menyiapkan masa depan.

Komitmennya terhadap Muhammadiyah juga tampak ketika ia dipercaya memimpin Perguruan Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah. Dalam Muktamar Tapak Suci di Jakarta, 13–16 Juli 2006, Muchdi PR terpilih sebagai Ketua Umum periode 2006–2011.

Tapak Suci bukan hanya perguruan silat. Ia merupakan wadah pembinaan karakter, spiritualitas, dan kedisiplinan kader Muhammadiyah. Kepemimpinan di dalamnya menuntut keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan—dua hal yang melekat pada pribadi Muchdi PR.

Di bawah kepemimpinannya, Tapak Suci tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperluas peran sebagai ruang pembinaan generasi muda. Silat dipahami bukan semata keterampilan bela diri, melainkan jalan pembentukan akhlak dan kepribadian. Dalam kerangka itu, Tapak Suci tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Sebagai perwira tinggi militer yang mencapai pangkat mayor jenderal, Muchdi PR terbiasa dengan dunia yang menuntut ketegasan keputusan dan disiplin tinggi. Namun ketika memasuki ruang sosial dan keagamaan Muhammadiyah, pendekatan yang ia tampilkan justru lebih tenang dan reflektif.

Perpaduan dunia militer dan gerakan sosial-keagamaan membentuk karakter kepemimpinan yang khas. Ia memahami struktur, tetapi juga menghargai musyawarah. Ia tegas, namun tetap menjaga kehangatan relasi. Dalam banyak kesempatan, gaya kepemimpinannya lebih menyerupai pembina daripada komandan.

Karakter kebapakan itu membuatnya mudah diterima di berbagai kalangan. Ia tidak perlu banyak tampil untuk menunjukkan pengaruh. Kehadirannya kerap cukup memberi pesan tentang keteguhan sikap.

Salah satu kontribusi penting Muchdi PR dalam Muhammadiyah terletak pada perhatian terhadap kaderisasi melalui Hizbul Wathan. Gerakan kepanduan ini memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, religius, sekaligus nasionalis.

Sebagai mantan Ketua Kwartir Pusat Pandu Hizbul Wathan, ia memahami bahwa masa depan persyarikatan sangat ditentukan oleh kualitas kader muda. Karena itu, penguatan sistem pembinaan, penanaman nilai, serta kesinambungan organisasi menjadi perhatian utama.

Dalam konteks Indonesia yang terus berubah, keberadaan organisasi kader seperti Hizbul Wathan semakin relevan. Ia bukan hanya ruang aktivitas pemuda, tetapi juga benteng nilai. Di sinilah visi Muchdi PR tentang pentingnya kesinambungan gerakan menemukan maknanya.

Tidak semua tokoh hadir dengan sorotan terang. Ada yang bekerja dalam ketenangan, jauh dari gemuruh panggung. Muchdi PR termasuk di dalamnya. Ia tidak selalu berada di garis depan pemberitaan, tetapi jejaknya terasa dalam struktur, kaderisasi, dan kesinambungan gerakan.

Ketegasan yang ia tampilkan bukan ketegasan keras, melainkan ketegasan sunyi—lahir dari keyakinan dan pengalaman panjang. Ia memahami bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan tepuk tangan. Cukup memastikan nilai tetap hidup dan organisasi terus berjalan.

Dalam tradisi Muhammadiyah yang menekankan kerja nyata daripada simbolisme, karakter seperti ini memiliki tempat tersendiri. Ia menjadi pengingat bahwa kekuatan gerakan sering bertumpu pada mereka yang bekerja tanpa banyak bicara.

Muchdi PR merupakan potret kader Muhammadiyah yang tumbuh dari akar, ditempa disiplin, lalu kembali mengabdi pada gerakan. Dari Hizbul Wathan masa kecil, kepemimpinan di Tapak Suci, hingga peran dalam kebangkitan kaderisasi, seluruh perjalanan itu membentuk satu benang merah: komitmen yang tak berubah.

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh pencitraan, sosok seperti Muchdi PR menghadirkan makna lain tentang kepemimpinan—tenang, tegas, dan setia pada nilai. Keteguhan yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terus bekerja dalam diam menjaga nyala gerakan.

 

DITOR: REYNA

Last Day Views: 26,55 K