16 Tahun Pengabdian ITS di Aceh : Saat Tsunami Menghancurkan Kehidupan Di Aceh

16 Tahun Pengabdian ITS di Aceh : Saat Tsunami Menghancurkan Kehidupan Di Aceh
Dr. Ir. Machsus, ST., MT




Oleh : Machsus F (Catatan kenangan tsunami Aceh, 26 Desember 2004)

Realisasi RIA Di Lokasi Bencana Ternyata Tidak Mudah, Mengapa?

RI-A (Rumah ITS untuk Aceh) dirancang dengan konsep serba cepat, serba bisa dan serba guna. Dengan konsep tersebut realisasi pembangunan RI-A di lokasi bencana gempa dan tsunami diharapkan bisa cepat selesai karena siapapun bisa mengerjakan. Selain itu, juga bisa gunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk rumah tinggal, masjid, sekolah dan fasilitas publik lainnya.

Harapan itu tampaknya akan sesuai dengan kenyataan bila melihat hasil simulasi pembangunan RI-A yang dilakukan di Surabaya berjalan dengan sukses. Target satu rumah untuk tipe-36 selesai dalam sehari (8 jam???) tampaknya juga bisa dipenuhi. Bahkan tidak sampai seharipun satu rumah sudah bisa dirampungkan oleh satu grup perkerja yang beranggotakan 5 orang (10???), meski tentu saja belum dilakuan finishing.

Berbekal hasil simulasi itulah, lalu dilakukan kalkulasi kasar berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Program Pembangunan 1000 Rumah Bantuan dari Masyarakat dan Pemprov Jatim (Pemerintah Propinsi Jawa Timur). Dari hasilnya estimasi tersebut didapat dalam kurun waktu sebulan sudah akan terbangun sebuah kompleks pemukiman baru di Kota Calang dengan 1000 rumah.




Akankah realisasi dari program seribu rumah tersebut berjalan lancar? Jawabanya ternyata tidak. Mengapa demikian? Untuk itu, pada tulisan ini akan dijelaskan beberapa kendala dilapangan yang berdampak terhadap molornya waktu penyelesaian program yang lebih populer dengan sebutan Rumah RIA tersebut.

Pertama, mobilisasi material, peralatan dan tenaga kerja. Berdasarkan hasil survei dari Tim Pendahuluan, yang beranggotan perwakilan dari Dinas Kimpraswil (Pemukiman dan Prasarana Wilayah) Pemprov Jatim dan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya), direkomendasikan bahwa material, peralatan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk membangun 1000 rumah di Calang Aceh harus dibawa dari Jatim atau dari luar daerah bencana. Sebab, di lokasi bencana gempa dan tsunami (baca: Calang Aceh) tidak tersedia material dan peralatan yang bisa dimanfaatkan, kecuali pasir pantai.

Seandainya yang dibangun hanya satu rumah saja problemnya tentu sederhana dan mungkin tidak akan ada masalah. Namun, ketika yang dibangun 1000 unit rumah maka problemnya menjadi sangat kompleks, apalagi hampir seluruh material, peralatan dan tenaga kerja harus dimobilisasi dari Jatim. Sementara satu-satunya jenis angkutan yang paling mungkin untuk membawa material, peralatan dan tenaga kerja dalam jumlah besar dari Surabaya menuju Calang Aceh hanyalah melalui kapal laut, yang perjalanannya membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Kedua, bongkar-muat material dan peralatan. Setelah sampai di Pelabuhan Calang pombongkaran atau penurunan muatan menjadi agenda krusial. Hal ini terjadi karena kondisi pelabuhan pasca tsunami sudah porak-poranda. Untuk lebih jelasnya marilah kita simak ilustrasi berikut ini.

Bersambung ke halaman 2







banner 468x60