Kisah Suro Nginggil : Dukun PKI, Kebal Senjata, Dan Diyakini Masih Hidup Pasca Penyergapan Militer

Kisah Suro Nginggil : Dukun PKI, Kebal Senjata, Dan Diyakini Masih Hidup Pasca Penyergapan Militer
foto : Lukisan Eyang Suro Nginggil milik Sariman Lawantiran (sumber bloranews.com)




ZONASATUNEWS.COM – Nama Mbah Suro Nginggil sangat populer, khususnya di Blora dan sekitarnya, termasuk Ngawi, Bojonegoro, Madiun, Sragen, dll. Popularitasnya ternyata tidak sirna hingga kini, seperti legenda.

Penulis pernah naik taksi di Surabaya, sekitar tahun 1997. Sopir taksi masih muda. Begitu tahu saya dari Ngawi, spontan dia mengajak saya bertemu Mbah Suro Nginggil. Dia meyakini Mbah Suro masih hidup. Saya tidak percaya. Tentu saja saya tidak mau diajak bertemu. Bagiku itu hanya mitos. Karena saya membaca sejarahnya. 

Nginggil adalah sebuah desa ditengah hutan jati. Masuk dalam wilayah kabupaten Blora, bagian selatan. Berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten Ngawi.

Desa Nginggil ini, tidak jauh dari Kalikakak, Sonde, Ngawi, tempat dimana Gubernur Soeryo menghembuskan nafas terakhir, dikubur ala kadarnya oleh PKI. Dikuburkan dipinggir kali (sungai kecil ditengah hutan). Namanya Kalikakak. Pak Soeryo dibunuh oleh PKI yang memberontak di Madiun tahun 1948, setelah sebelumnya disiksa dan diseret sepanjang 4-5 kilometer. Lain kali akan penulis ulas tersendiri mengenai pembunuhan Gubernur Jatim pertama ini.

Kembali ke Mbah Suro Nginggil

Moelyono Soeradihardjo atau lebih dikenal dengan sebutan Suro Nginggil merupakan tokoh fenomenal dari Blora. Dia dukun atau paranormal asal Desa Nginggil, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Konon, Suro Nginggil menjadi rujukan para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) mencari kesaktian, terutama ilmu kebal senjata.

Suro Nginggil menurut riwayatnya lahir 17 Maret 1921, dari orangtua bernama Reksosumito dan Saripah. Dia selama 10 tahunan pernah menjabat Kepala Desa Nginggil. Yakni, mulai 1952 hingga dirinya mengundurkan diri dari pada 1962.

Berdasarkan guntingan literatur terbitan Dinas Dokumentasi Pusat Sejarah ABRI, Suro Nginggil namanya santer disebut-sebut saat pemberontakan antipancasila meletus di Blora, sekitar Januari 1966. Memiliki kelebihan ilmu pengobatan dan pengetahuan supranatural, membuatnya jadi tujuan banyak orang yang sedang berkesusahan.

Tak pelak, pada pertengahan Februari 1966, banyak anggota ABRI yang berdatangan meminta jamu-jamu dan ilmu kekebalan. Tak hanya itu, banyak juga yang datang untuk alasan persoalan asmara dan nasib. Sejak itulah, terlihat adanya tokoh-tokoh cantrik seperti Suradi Letda B.T., Legi Letda B.T., Kobra ex K.K.O., Sunjoto ex. K.K.O., Camat Menden yang dipergunakan oleh Suro Nginggil untuk mengatur ketata tertiban para pengunjung pertapaan padepokannya serta melayani para tamu yang akan minta berkah.

Bulan berikutnya, yakni pada Maret 1966, tiap hari terlihat ribuan pendatang, sehingga dalam padepokan Suro Nginggil terlihat perubahan-perubahan baru. Antara lain cantrik mulai memakai pakaian seragam hitam dan menggunakan badge dengan gambar gapuro Modjopahit dengan tulisan ‘Pertapaan Gunung Kendeng’.

Foto Suro Nginggil (Sumber Tirto.id)




Sejak inilah disinyalir adanya unsur-unsur eks G-30 S PKI banyak mendatangi tempat padepokan Suro Nginggil. Dan terlihat kegiatan-kegiatan aliran atau pengaruh pembentukan barisan Sukarno dengan menggunakan badge bertuliskan “AKU PENDUKUNG SOEKARNO”.

Kala itu, Suro Nginggil ajaran kleniknya makin menjadi-jadi. Padepokannnya digunakan untuk menampung pelarian-pelarian PKI. Tidak hanya warga masyarakat awam saja yang datang untuk sungkem dan mengabdi kepadanya, tetapi terdapat juga pelarian dari berbagai kesatuan tertentu ikut menyatu bersama-sama sisa-sisa pengikut PKI.

Tidak sembarang orang begitu saja dapat menemui Suro Nginggil karena sudah dinobatkan menjadi pimpinan tertinggi dan kedudukannya seperti raja di tempat itu. Kalaupun sekali-kali muncul, dirinya memakai upaya kebesaran dan disambut oleh rakyat dengan teriakan-teriakan ‘Hidup Mbah Suro’.

Ramainya padepokan Eyang Suro Nginggil membuat desa Nginggil tampak seperti kota di tengah hutan. Terangnya pencahayaan malam membuat desa itu tampak semarak di tengah gelapnya malam. Gambaran tentang desa Nginggil dan Eyang Suro Nginggil pada awal dekade ’60-an ini dipublikasikan oleh seorang wartawan bernama Ramelan dalam bukunya “Mbah Suro Nginggil” pada tahun 1967.







Tags: ,
banner 468x60