Kisah Suro Nginggil : Dukun PKI, Kebal Senjata, Dan Diyakini Masih Hidup Pasca Penyergapan Militer

Kisah Suro Nginggil : Dukun PKI, Kebal Senjata, Dan Diyakini Masih Hidup Pasca Penyergapan Militer
foto : Lukisan Eyang Suro Nginggil milik Sariman Lawantiran (sumber bloranews.com)




Pentung, Kolor, dan Iket

Pada upacara resmi, menurut dokumentasi ABRI, Suro Nginggil kerap digunakan untuk pertemuan beragam orang. Di situ kerap dibacakan pidato yang pokok-pokok isinya ditetapkan PKI.

Pada Februari 1967, dokumentasi ABRI menyebut ada pasukan yang dibentuk di padepokan Suro Nginggil, mereka diberi nama ‘Banteng Ulung’ dan ‘Banteng Sarinah’ (untuk wanitanya). Pasukan ini berseragam hitam-hitam sejak ujung rambut hingga mata kaki, dilengkapi dengan bendera, mars perjuangan, senjata tajam dan senjata api.

Bagi yang tidak bersenjata api, senjata yang terkenal dipakai oleh pasukan banteng ulung dan banteng sarinah adalah pentung, kolor, dan iket (singkatan dari PKI). Senjata tersebut telah diberi mantra atau jampi oleh Suro Nginggil dan tidak ketinggalan para anggota pasukan diberi kekebalan, sehingga mereka benar-benar yakin bahwa dirinya telah menjadi digdaya dan kebal terhadap berbagai senjata.

Menurut penuturan warga Ngawi yang hidup dimasa itu, Penthung, Kolor, dan Iket, (inisial PKI) menjadi syarat yang harus dibawa oleh orang yang ingin bertemu Suro Nginggil

Berdasarkan itu, kelihatan bahwa padepokan Nginggil yang dipimpin Suro Nginggil makin lama makin menyeleweng. Semakin banyak orang datang kesana dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang PKI atau simpatisan-simpatisannya, dan mencapai puncaknya pada bulan-bulan awal 1967.

Pembangkangan 

Tentunya kejadian ini membuat petugas resah. Kala itu, tindakan pertama yang diambil Pangdam VII Diponegoro pada 22 Oktober 1966 adalah perintah penutupan terhadap padepokan Nginggil. Perintah tersebut segera dilaksanakan oleh Mayor Srinardi Dandim 0721 Blora selaku pepekuper (pembantu pelaksana kuasa perang) Kabupaten Blora.

Tetapi perintah itu sama sekali tidak dihiraukan. Suro Nginggil akhirnya dipanggil yang berwajib di Blora, melalui seorang utusan bernama Sersan Salim. Utusan ini dikeroyok dan dipukuli oleh kaki tangannya hingga babak belur.

Selanjutnya dicoba lagi mengirim dua orang anggota Kodim 0721 Blora yaitu Peltu Achmat Tego dan Sersan Prapto. Kedua orang ini meski dikenal baik dengan Suro Nginggil, namun kembali dengan tangan hampa. Begitu pula dengan utusan ketiga yang terdiri dari Inspektuf I Darsono, Brig. Pol. Widodo dan Brig.Pol. Satam, yang juga tidak membawa hasil.

Pembangkangan semakin menjadi-jadi dan mencapai klimaknya pada awal Februari 1967. Dimana sejumlah orang dibunuh dan yang meninggal dua orang karena berani memasuki wilayah kekusaan Suro Nginggil tanpa izin. Kala itu, pemerintah masih tetap sabar dan mengirim surat peringatan kepada Suro Nginggil agar mau bertaubat.

Setelah Suro Nginggil tidak dapat berunding untuk menyelesaikan persoalan padepokannya, antara lain tentang perdukunan klenik, pembunuhan yang dilakukan cantrik-cantriknya, pembentukan pasukan “Banteng Ulung” dan “Banteng Sarinah”, serta adanya konsolidasi kembali partai terlarang PKI, maka tidak ada jalan lain lagi, selain harus ditindak tegas.

Operasi Militer

Kemudian keluarlah perintah operasi Pangdam VII Diponegoro pada 5 Maret 1967 untuk menangkap Suro Nginggil dan pengikutnya yang mengadakan petualangan dan pembangkangan. Padepokannya lalu dikepung oleh Yon 410, sebagian Yon 408 dan 409, RPKAD serta tidak ketinggalan pula Ki Hansip Bamunas Kabupaten Blora.

Dalam operasi ini, sebetulnya petugas dilarang melakukan tembakan kalau tidak terpaksa. Tetapi pasukan banteng ulung dan banteng Sarinah, yang begitu percaya bahwa pertahanan mereka kuat dan menganggap kebal senjata, kemudian menyerang dan melakukan penembakan.

Ada tiga petugas yang gugur dalam peristiwa ini, dua petugas yang luka berat, dan dua petugas yang luka ringan. Melihat situasi kritis ini, kemudian terjadilah pertempuran hebat berlangsung mulai jam 05.00 WIB sampai dengan jam 15.00 WIB.

Dengan taktik operasi penyerbuan yang dilakukan petugas, akhirnya pada jam 16.00 WIB seluruh Desa Nginggil sudah dapat dikuasai. Dalam pertempuran ini, Suro Nginggil dan 80 orang pengikutnya mati (semua dalam padepokan), dan ada 1500 orang pengikutnya Suro Nginggil menyerah/menjadi tawanan, serta 113 rumah terbakar.

Jatuhnya korban ini membuat Suro Nginggil menyerah. Dalam kondisi tertawan,Suro Nginggil berdialog dengan Letnan Feisal. Dalam dialog itu, Letnan Feisal mencecar Eyang Suro Nginggil dengan pertanyaan tentang kesaktian sang Lurah. Pengagum Soekarno tersebut dengan rendah hati menjawab bahwa dia sama sekali bukan orang sakti.

Dijelaskan oleh pemerhati sejarah Blora, RNgt Widyasintha Himayanti, dari 1500 orang tawananan setelah disergap dan discreen, mereka yang tidak tersangkut dan tidak perlu ditahan lebih lama lagi karena konsekwensi perawatan dan lain-lain, kemudian dikembalikan ke tempat masing-masing.

“Dari sumber sejarah yang pernah saya pelajari, setelah diadakan penelitian ternyata pengikut-pengikut Suro Nginggil beberapa diantaranya adalah anggota ABRI,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, pada waktu terjadi insiden pertempuran itu, petugas tidak bisa membedakan mana yang anggota ABRI dan mana yang bukan.

“Karena semua yang ada di padepokan Suro Nginggil memakai pakaian hitam-hitam, ikat kepala hitam, sebagian berambut panjang, memakai tanda gambar banteng, dan komandan-komandan memegang stok komando,” pungkas Widyasintha seperti dikutip  Liputan6.com, Rabu (30/9/2020).

Sumber : Liputan6.com, Bloranews.com, Tirto.id, dan sumber-sumber lain

Penulis : Budi Puryanto

EDITOR : SETYANEGARA







Tags: ,
banner 468x60