Misi bisnis blusukan Jokowi :Tanya obat Covid Oseltamivir, pesanan siapa? Obat ini dilarang WHO

Misi bisnis blusukan Jokowi :Tanya obat Covid Oseltamivir, pesanan siapa? Obat ini dilarang WHO
Foto: Oseltamivir,




ZONASATUNEWS.COM, JAKARTA— Presiden Jokowi Jumat (3/7/2021) melakukan blusukan ke apotik di Bogor, Jabar. Dia mencari obat Covid-19 Oseltamivir. Tapi obat ini telah dilarang oleh WHO dan 5 organisasi dokter di Indoensai. Aneh bukan?

Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi ini berbahaya sekaligus menimbulkan tanda tanya besar. ada pesan bisnis dinalik blusukan itu.

Berbahaya sekaligus menyesatkan, karena obat ini bukan untuk mengobati pasien Covid-19. Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengatakan oseltaivir yang dicari Jokowi sudah tidak direkomendasikan oleh tenaga kesehatan. “Karena obat ini antivirus untuk influenza,” katanya, seperti dilansir Tempo.co, Sabtu (24/7/2021).

Salah kaprah itu harus dihentikan, kata Pandu. WHO telah melarangnya. “Apalgi penggunaan antivirus, antibiotik,” ungkapnya.

Beberapa obat yang dicari Presiden diantaranya oseltamivir, favipiravir, vitamin D3 5000IU, multivitamin yang mengandung Zinc, dan Becom Zet.

Presiden Jokowi blusukan di apotik di Bogor .Jumat (23/7/2021)




Pandu mengatakan obat yang disebutkan Presiden merupakan obat keras. Pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Sednagkan, menurut Pandu, Presiden Jokowi menanyakan obat-obat tersebut tanpa resep dokter.

“Itu nggak boleh, tidak mendidik publik untuk jangan melakukan pengobatan sendiri, itu obat keras,” ungkapnya.

Pesanan bisnis

Blusukan yang dilakukan Presiden Jokowi juga bisa dipersepsi publik sebagai “pesanan bisnis” kelompok tertentu dilingkaran istana. Hal itu mudah sekai dibaca. Tindakan Presiden itu pasti akan membawa pengaruh dan pesan kepada masyarakat. Publik akan mempersepsi, terutama yang awam tentang obat, dan ini jumlahnya sangat besar, bahwa obat yang dicari Presiden itu sebagai obat yang dapat digunakan menyembuhkan Covid-19.

Tentu, Presiden hanya membaca jenis-jenis obat yang dicari tersebut dari catatan yang dibawa atau disediakan oleh timnya. Pihak yang telah memanfaatkan Presiden Jokowi atau mendisain acara blusukan tersebut, pantas dicurigai sebagai pihak yang memainkan bisnis obat tersebut. Apalagi sebelumnya, obat ivermectin yang diledakkan ke publik dan dipromosikan secara besar-besarn atas keberhasilannya menyembuhkan pasien Covid-19, telah ditarik dari pasaran atas permintaan BPOM.

Publik bisa menarik kesimpulan, ada pelaku bisnis disekitar istana, atau memanfaatkan istana, dalam hal ini langsung memanfaatkan Presiden Jokowi, untuk mempromosikan obat pengganti ivermectin, yang laku keras di pasaran.

Kesan diatas tidak bisa begitu saja dihilangkan, disebabkan oleh terbukanya lingkaran istana dalam bisnis ivermectin, seperti yang diungkap oleh ICW. Dalam investigasi ICW diduga kuat melibatkan Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko, dan putra politisi PDIP Ribka Tjiptaning. Menteri BUMN sendiri juga terlibat dalam mempromosikan ivermectin kepada publik. Belakangan Moeldoko membantahnya. Ribka menolak disebut kenal produsen ivermectin, tetapi tidak membantah kemungkinan anaknya mengenalnya.

Dari kasus ivermectin diduga kuat ada pemain Oseltamivir disekitar istana yang memanfaatkan kunjungan Presiden Jokowi, atau mungkin juga mendisain blusukan Jokowi sebagai promosi yang disengaja untuk menarik perhatian publik. Bila ini benar, maka akan segera diikuti produksi oseltamivir besar-besaran, lalu memanfattkan jejaring pasar “yang tidak biasa” untuk mempercepat distribusi ke masyarakat.

Kuncinya ada di BPOM. Bila terhadap ivermectin BPOM berani menekan dengan mengeluarkan instruksi untuk menarik dari pasaran, apakah terhadap Oseltamivir dan obat-bat yang disebut Presiden juga berani melakkan hal sama terhadap Ivermectin?

Ini persoalan bisnis yang menggunakan jalur kekuasaan. Jadi jangan terlalu berharap dulu kepada kebijakan BPOM. Apalagi akan berhadapan dengan Presiden. Lebih baik kita menunggu.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60