Pencurian Solar Pertamina 21,5 Ton di Tuban, FORSAK Minta Polisi Lakukan Penyidikan Terbuka Libatkan KPK

Pencurian Solar Pertamina 21,5 Ton di Tuban, FORSAK Minta Polisi Lakukan Penyidikan Terbuka Libatkan KPK




ZONASATUNEWS.COM, TUBAN--Kasus pencurian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar milik Pertamina sebanyak 21,5 ton di wilayah Tuban, Jawa Timur kini ditangani oleh Ditpolairud Korpolairud Baharkam Polri.Tindak pencurian itu diduga melibatkan oknum anggota DPR RI. Gerakan Moral Forum Santri Anti Korupsi (GM FORSAK) meminta dilakukan penyidikannya secara terbuka dan melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi.

”Yang pertama semua sudah cukup jelas dari tempat kejadian peristiwa yang berada diwilayah obyek vital nasional perairan Tuban yang tentu pengamanannya sangat ketat. Dan ini sangat tidak mungkin kalau tidak melibatkan orang dalam serta yang bertanggungjawab atas lokasi obyek vital nasional dalam kuasa Pertamina,” kataTjetjep Mohammad Yasien yang akrab dipanggil Gus Yasien Ketua Pembina GM FORSAK.

Yang kedua, lanjutnya, BBM yang dicuri adalah BBM milik negara yang tentu masuk dalam keuangan negara sehingga sudah seharusnya terhadap pelaku diterapkan pasal korupsi.

Ketiga pelaku dilapangan ada yang tertangkap walaupun ada 4 orang keterangannya melarikan diri namun identitasnya sudah diketahui.

“Ke empat alat dalam hal ini kapal yang dipergunakan untuk melakukan pencurian sudah diamankan dan dari data di Kementerian Perhubungan juga sudah diketahui kapal yang dipergunakan adalah kapal MT Putra Harapan TPK: 1982 HHa No. 527/L, yang terdaftar atas nama PT Hub Maritim dengan No. RPK AL.103/2000/71222/67846/20, yang tentu Polisi dengan sangat mudah mampu melacak pemiliknya yang diduga infonya oknum anggota DPR RI,”kaya Gus Yasin.

Ke lima dari penelusan rekam jejak PT Hub Maritim berhubungan dengan pencurian solar. Polisi sesungguhnya dengan mudah bisa mendapatkan bukti putusan Pengadilan Militer III-12 Surabaya tanggal 4 Juni 2020. Semua sudah sangat cukup jelas.

Sedangkan Ahmad Fahmi Ketua GM FORSAK menduga adanya keterlibatan orang dalam yang bertanggung-jawab dalam obyek vital nasional.

”Menjadi aneh kalau atas kasus pencurian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar milik Pertamina sebanyak 21,5 ton di wilayah Tuban, Jawa Timur, yang mana BBM yang dicuri adalah BBM milik negara yang tentu masuk dalam keuangan Negara tidak diterapkan adanya tindak pidana korupsinya dan sepertinya kami menilai penyidik Ditpolairud Korpolairud Baharkam Polri kurang terbuka akan tindak lanjut perkembangan penyidikannya yang seharusnya secara logika sederhana karena lokasinya berada di obyek vital nasioanl kejahatannya tidak mungkin tidak melibatkan orang dalam dan yang bertanggungjawab terhadap lokasi obyek vital nasional dalam kuasa Pertamina,” ujar Ahmad Fahmi Ketua GM FORSAK menambahkan.

Fahmi juga mendengar pengakuan aneh, ada yang ngomong kapalnya dibajak. Manalah ada kapal dibajak dipergunakan untuk mencuri BBM solar milik Negara dan setelah dibajak dibawa masuk oleh pembajaknya ke obyek vital nasional yang penjagaannya sangat ketat. Kami sudah mendapat info kapal MT Putra Harapan ini sudah berjalan berlayar dari tanggal 3 April 2021 menuju perairan Tuban berdasarkan Surat Persetujuan Berlayar (Port Clearance) dari Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak.

Perlu diketahu kapal itu kalau mau berjalan ada peraturannya tidak asal jalan dan kalaulah sampai dibajak kenapa tidak dilaporkan ke polisi. Mari kita logika dengan logika sederhana, manalah mungkin ada kapal milik swasta yang katanya sedang dibajak, tidak ada hubungan kerja dengan Pertamina bisa masuk dengan mudah ke obyek vital nasional tempat BBM Pertamina yang dijaga dengan ketat karena berhubungan dengan obyek vital nasioanl.

“Lagipula didalamnya ada penampungan BBM yang mudah terbakar dan juga kalau ada bocor bisa menimbulkan dampak yang hebat, dan yang mana kami yakin kapalnya berada diarea obyek vital nasioanal milik Pertamina dengan rentang waktu yang cukup lama, sehingga logikanya tidaklah mungkin bisa terjadi kalaulah tidak ada komunikasi dengan orang dalam dan yang bertanggungjawab terhadap lokasi obyek vital nasional Pertamina yang ada di perairan Tuban. Ini tentu dengan logika sederhana komunikasi permufakatan jahatnya tidak mungkin dilakukan oleh mereka – mereka yang ditangkap dan mereka yang melarikan diri dimana dalam hal ini mereka yang melakukan pencurian BBM jenis solar itu, karena disamping penjagaannya sangat ketat juga tentu permufakatannya dilakukan oleh orang kuat yang memilki koneksi kuat dan modal keuangan kuat puluhan milyar bahkan mungkin ratusan milyar” ujar Ahmad fahmi menegaskan.

”Karena berhubungan dengan obyek vital nasioanal, keuangan Negara, dugaan permufakatan pihak pejabat yang bertanggung jawab dan dugaan adanya keterlibatan oknum anggota DPR RI maka GM FORSAK meminta kepada Bapak Presiden dan Bapak Kapolri untuk melibatkan KPK dalam penanganan perkaranya” kata Gus Yasin menambahkan (ASM/24 – 04 – 2021, Surabaya).










banner 468x60