Oleh: Muhammad Chirzin
Kapolri Listyo Sigit Prabowo adalah seorang perwira tinggi Polri yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sejak 27 Januari 2021. Lahir di Ambon, Maluku, 5 Mei 1969, dan merupakan Kapolri beragama Kristen Protestan kedua dalam sejarah Polri setelah Widodo Budidarmo (1974-1978).
Listyo Sigit Prabowo memiliki latar belakang pendidikan Akademi Kepolisian (1991), Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (1998), dan S-2 Kajian Ilmu Kepolisian dari Universitas Indonesia (2005). Ia juga pernah menjabat sebagai ajudan Presiden Joko Widodo (2014), Kapolda Banten (2016), Kadiv Propam Polri (2018), dan Kabareskrim Polri (2019) sebelum menjadi Kapolri.
Selama menjabat sebagai Kapolri, Listyo Sigit Prabowo menghadapi beberapa kasus besar, termasuk pembunuhan Brigadir J, kerusuhan Stadion Kanjuruhan, dan jaringan narkoba yang melibatkan perwira tinggi kepolisian. Ia juga dikenal karena visinya “PRESISI” (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan) yang menjadi arah kebijakan Polri.
Beberapa pengamat menilai bahwa relasi antara Kapolri dan Presiden dapat mempengaruhi kinerja Polri, terutama dalam hal netralitas dan profesionalisme.
Dalam beberapa kesempatan, Presiden telah memberikan arahan kepada Kapolri untuk memberantas judi daring dan jaringan narkoba, serta meningkatkan kepercayaan publik kepada Polri.
Ironisnya, judi daring dan jaringan narkoba masih terus berlanjut, bahkan ada rumor bahwa beberapa oknum polisi menerima setoran dari bandar narkoba dan judi.
Kesalahan Kapolri yang sering disebutkan adalah pengangkatan Jenderal Tito Karnavian sebagai Kapolri pada 2015, yang dianggap sebagai “kesalahan fatal” oleh mantan Wakapolri Oegroseno. Beberapa alasan yang disebutkan adalah, pertama, Melompati Senioritas. Pengangkatan Tito Karnavian dianggap melompati beberapa perwira senior, menimbulkan rasa ketidakadilan dan kekecewaan di kalangan perwira senior.
Kedua, Politisasi Lembaga. Pengangkatan ini juga dianggap memicu politisasi lembaga kepolisian dan merusak tatanan senioritas internal.
Ketiga, Mengabaikan Hierarki. Keputusan ini dianggap mengabaikan prinsip hierarki dan keadilan karier dalam institusi Polri.
Menurut Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto, Listyo Sigit merupakan Kapolri terburuk sepanjang era reformasi dan telah gagal dalam menjalankan tugasnya memimpin institusi Polri.
Listyo Sigit Prabowo menjabat sebagai Kapolri sejak 27 Januari 2021, menggantikan Jenderal Idham Azis. Walaupun relatif belum lama menjabat Kapolri, tetapi kesalahan-kesalahannnya mengalahkan Kapolri terdahulu.
Madiun-Jogja, 8 Februari 2026
EDITOR: REYNA
Related Posts

Rumah Radio Bung Tomo dan Jejak Memori Nasionalisme Rakyat Surabaya

Dunia Panik, Bagaimana Indonesia?

Sidang Korupsi LNG: Hari Karyuliarto Sebut Proyek Untung USD 97 Juta, Kuasa Hukum Nilai Kasus Ini Kriminalisasi

Zakat Fitrah: Untuk Kualitas Empati Kemanusiaan

Indonesia Dalam Ancaman Amerika Dan Iran

The Power of Humanity

Kasus Impor LNG: Ahli BPK Sebut Pertamina Untung, Terdakwa Pertanyakan Kerugian Negara

Podcast Ten Ten: Sri Radjasa dan Roy Suryo Soroti Dugaan Kejanggalan Ijazah Jokowi

Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama, Wujud Polsek Bandar Hadir dan Peduli Masyarakat

Urgensi Indonesia Keluar dari Board of Peace (BoP)



No Responses