Novel “Imperium Tiga Samudra” (21) – Auto Cloce, Pintu Yang Tidak Boleh Dibuka Lagi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (21) – Auto Cloce, Pintu Yang Tidak Boleh Dibuka Lagi

Oleh: Budi Puryanto

 

Di Tempat Dunia Berakhir dan Dimulai

Langit di atas Laut Banda berwarna perak pucat, seolah fajar menolak naik. Angin laut bertiup dingin.

Namun jauh di bawah sana — jauh melampaui cahaya, di kedalaman yang bisa meremukkan baja — sebuah pintu purba tanpa bentuk mulai menutup diri.

Bukan besi.Bukan batu.Bukan ciptaan manusia.

Melainkan energi murni, lebih tua dari benua mana pun.

Energi yang tidak ingin ditemukan.

Palung Wallace: Jantung yang menyembunyikan Logam Purba

Tak pernah ada yang benar-benar mengerti mengapa Morowali, Halmahera, dan Kepulauan Banda kaya nikel dan tanah jarang. Penjelasan geologi selalu terasa tak cukup.

Baru setelah Seno turun ke Palung Wallace, rahasianya terbuka:

“Laterit Indonesia itu bukan hanya mengandung nikel,” kata Seno kepada para ahli.

“Di dalamnya ada scandium, yttrium, lanthanum, neodymium. Itu bukan kebetulan. Itu rembesan dari sesuatu yang jauh lebih besar.”

Para ilmuwan menatapnya.

Seno menambahkan:

“Tanah jarang hanyalah sisa dari energi purba yang merembes ke kerak bumi.”

“Rembesannya saja bisa membuat logam.Jadi bayangkan apa yang ada di pusatnya.”

Mereka terdiam.

Reservoar Energi Purba

Itulah istilah yang dipakai Seno: sebuah kantong energi yang “punya kesadaran”, tekanannya menembus kerak bumi,  muncul sebagai logam tanah jarang. Istilah itu, seperti kata Seno sendiri tidak benar-benar mewakili entitas energi itu secara tepat. Hanya istilah yang mungkin juga tidak sepenuhnya benar.

Energi sebanyak itu — dalam hitungan manusia — tak terbatas.

“Dapat meruntuhkan kendali energi yang ada di seluruh dunia. Itulah mengapa sangat berbahaya bila dimiliki oleh satu negara, apalagi negara yang berambisi dapat mengendlaikan dunia,” kata Seno.

Namun kini, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, reservoir itu menutup dirinya sendiri.

Seno di Timur: Pulau Damar – Maluku Tenggara Barat

Setelah berbulan-bulan menghilang, Seno akhirnya muncul. Tubuhnya lemah, gemetar, namun matanya menyala.

Kapal cepat TNI AL menjemputnya, tanpa tanda pangkat. Di dalamnya sudah menunggu orang yang paling ingin menemuinya: Laksamana Madya Surya Prakoso.

“Kau akhirnya keluar,” ucap Surya lirih.

Seno mengangguk.

“Kita tidak punya banyak waktu, Pak Laksamana.”

“Apa yang terjadi di bawah sana?” tanya Surya.

Seno menatap Laut Banda yang datar.

“Pintu itu terbuka. Dan kalau tidak segera kututup, dunia tidak akan punya sistem energi dalam lima tahun ke depan.”

Surya membeku.

“Sebahaya itu?”

Seno menatapnya lurus.

“Palung Wallace adalah jantung planet ini…bukan untuk dimiliki manusia.”

Sementara itu Kapal Riset ‘Hai Long 07’, 60 Km dari Palung Wallace

China frustrasi. Drone-dronenya gagal menembus palung. Mereka mengerahkan kartu terakhir: Drone Generasi OMEGA. Kulit adaptif tekanan ekstrem, sensor retina siput laut purba, AI tanpa satelit, pendorong akustik frekuensi rendah.

Prof. Liao Xue memimpin operasi.

“Kalau Omega gagal,” katanya, “tidak ada teknologi bumi yang bisa masuk.”

Omega dilepas.

6.000 meter.
6.500 meter.
7.000 meter.

Cahaya terlihat.

7.200 meter.
Omega berhenti total.

Di depan kameranya, pintu itu sudah menutup.

Pada saat hampir bersamaan, TNI AL menemukan fragmen purba diatas Palung Wallace.

Robot penyelam TNI AL menemukan fragmen aneh: bentuk seperti batu, tapi halus seperti keramik, tidak tergores, tidak memantulkan sonar, tidak berubah suhu, memancarkan frekuensi misterius

Intelijen melapor:

“Benda ini… tidak dikenal.”

Seno langsung memintanya disegel.

“Itu bukan artefak,” kata Seno datar.

“Itu serpihan pengunci Palung Wallace.”

Surya menelan ludah.

“Pintunya bisa dibuka lagi?”

Seno menggeleng.

“Tidak lagi.”

Auto Cloce – Energi yang menutup diri sendiri

Omega menyorotkan kamera terakhirnya ke dinding energi.

Bukan tembok.Bukan logam. Melainkan kubah aurora, berputar memancarkan sinar beraneka: biru muda, keemasan, ungu gelap.

Kubah itu menyerap suara. Menolak getaran. Menyatu dengan tekanan laut.

Satu kata muncul di layar Omega sebelum sistemnya mati: “AUTO CLOCE ACTIVE”

Prof Liao Xue terdiam.

“Apa arti Cloce?” tanya kapten.

“Tidak ada dalam bahasa kita,” jawab analis.

Liao menggeleng.

“Ini… bukan bahasa manusia.”

Pusat Kendali Darurat – Pulau Damar

Seno menatap monitor.

“Aku menjalankan algoritma penutup,” katanya.

“Seperti menambal retakan pada jantung bumi.”

Surya menghela napas.

“Begitu mudah?”

Seno tersenyum tipis.

“Tidak.Aku harus menyelaraskan algoritma digital dengan fluktuasi energi purba. Hal yang bahkan tak kumengerti sepenuhnya.”

Ia menunjuk peta.

“Jika energi Purba Wallace masuk ke tangan negara mana pun, dunia akan runtuh.”

Surya mengangguk berat.

“China akan kembali.”

“They will,” kata Seno.

“Tapi mereka tidak akan bisa menembus Auto Cloce. Karena pintunya punya kesadaran.”

Surya menatapnya.

“Maksudmu pintu itu hidup?”

Seno menatap laut.

“Energi purba tidak mati. Ia hanya… tertidur.”

Drone tercanggih saat ini, Omega, perlahan hancur.Bukan meledak. Bukan retak. Tapi melebur menjadi debu, diserap oleh dinding energi.

Kubah itu berdenyut sekali. Seolah bernapas.

Liao Xue menunduk.

“Kita kalah… bukan oleh Indonesia.Tapi oleh bumi itu sendiri.”

Malam itu Seno duduk di geladak KRI, ditemani angin asin dan kegelapan laut.

“Apa langkahmu berikutnya?” tanya Surya.

Seno menatap bintang.

“Kalau dunia tahu apa yang ada di bawah sana, mereka akan saling membunuh untuk energi yang tidak seharusnya mereka miliki.”

Surya menatapnya.

“Jadi kau akan menjaganya tertutup?”

Seno menggeleng pelan.

“Menjaganya…tidak perlu. Dia energi yang punya kesadaran, dan…kecerdasan,” kata Seno pelan seolah tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Bahkan Seno sedikit kaget, bagaimana dia bisa mengatakan itu. “…energi yang punya kesadaran, dan…kecerdasan.”

Laut Banda tampak tenang, seolah tidak menyembunyikan apa-apa.

Tapi jauh di bawah sana, Auto Cloce berdenyut pelan — jantung purba yang telah memilih diam.

Pintu terkuat di dunia kini telah tertutup. Dan tidak akan pernah bisa dibuka lagi.

BERSAMBUNG

 

EDITOR: REYNA

BACA JUGA:

Novel “Imperium Tiga Samudra” (20) – “Palung Wallace”, Energi Yang Tak Seharusnya Bangkit

Novel “Imperium Tiga Samudra” (19 ) – Drone Bawah Laut China

Novel “Imperium Tiga Samudra” (18 ) – Shadow Protocol

Last Day Views: 26,55 K