Oleh: Budi Puryanto
Tidak ada yang resmi. Tidak ada undangan diplomatik. Tidak ada catatan agenda.
Pertemuan itu tidak pernah terjadi — setidaknya di mata publik.
Namun di jantung kota Brussels, hanya beberapa blok dari markas NATO, tiga negara Eropa berkumpul diam-diam untuk membahas satu hal yang tidak pernah ingin mereka akui secara terbuka: Hilangnya Omega… dan munculnya nama misterius ‘Seno Adiwangsa’.
Ruang Tanpa Bendera
Pertemuan berlangsung di ruang bawah tanah gedung intelijen bersama Uni Eropa, ruangan tanpa ornamen, tanpa bendera, hanya meja oval dari logam matte yang dingin. Di dinding, layar-layar hitam menunggu diperintah.
Tiga negara mengirimkan wakil intelijen tingkat tertinggi: Dr. Helmut Weiss, BND – Jerman. Claire Ashford, MI6 – Inggris. Marc Van der Linde, AIVD – Belanda
Tidak ada pengawal. Tidak ada asisten. Ini adalah pertemuan “tingkat spectral”, hanya ditangani oleh mereka yang mengerti konsekuensi global apabila Omega benar-benar hilang tanpa jejak.
Claire membuka pertemuan dengan satu kalimat pendek yang membuat ruangan seolah mengerut:
“Tiongkok kehilangan hantu tercanggih mereka… dan jejaknya berhenti di Indonesia.”
Helmut Weiss mengangguk pelan.
“Dan bukan di tangan Tiongkok. Bukan di tangan AS. Juga bukan kita. Itu masalahnya.”
Marc Van der Linde menatap layar gelap.
“Kita semua tahu siapa yang terakhir berada di sana.”
Satu nama muncul di layar: SENO ADIWANGSA
Intelijen Eropa Menyimpulkan Hal yang Menakutkan
Helmut Weiss menekan tablet kecil. Layar-layar di dinding menyala perlahan, menampilkan: Data satelit gelombang rendah. Jejak radiasi mikro Omega. Peta pergerakan kapal asing di sekitar Palung Wallace. Laporan HUMINT dari konsorsium energi global. Penampakan anomali energi yang tidak bisa dijelaskan
“Ada pola yang tidak biasa,” kata Helmut.
Omega tidak hancur.
Omega tidak dicuri oleh kekuatan besar lain.
Omega tidak mengalami malfungsi fatal.
Sebaliknya…
“Ada semacam mekanisme penutupan besar-besaran,” ujar Helmut.
“Sesuatu yang mematikan jejak digital, biometal, dan sensor kuantum Omega.”
Claire menyela, suaranya tenang namun jelas menyimpan ketegangan.
“Itu bukan teknologi Tiongkok. Bukan AS. Bukan Rusia.Dan bukan siapa pun yang kita kenal.”
Mereka mengarahkan pandangan ke nama yang terpampang di layar.
Seno: Musuh? Sekutu? Atau Sesuatu yang Lain?
Marc Van der Linde membuka rappor AIVD tentang Seno.
“Sosok misterius. Pendidikan intelijen tidak jelas. Tapi rekam jejak operasi luar negeri luar biasa bersih.
Tidak punya catatan publik, tetapi punya akses setingkat kepala negara.”
Claire menambahkan.
“Seno tidak pernah masuk daftar agen resmi mana pun. Tetapi lintasan keberadaannya menunjukkan kemampuan yang tidak dimiliki individu biasa. Kita menyebutnya The Untagged Asset.”
Helmut Weiss memandang grafik penyebaran energi dari bawah Palung Wallace.
“Jika laporan ini benar, dia bukan sekadar aktor. Dia mungkin memiliki kunci menuju sesuatu yang jauh lebih tua dari Omega.”
Ruangan menjadi hening. Kata “lebih tua dari Omega” memberi makna lain — sesuatu yang Eropa anggap hanya mitos geopolitik.
Keputusan Diam
Claire akhirnya berbicara, nada suaranya seperti seseorang yang sedang mengambil keputusan berbahaya namun perlu.
“Kita — Inggris, Jerman, Belanda — tidak akan ikut campur.
Kita pura-pura tidak melihat apa pun.”
Marc mengangguk.
“Karena jika Tiongkok tahu kita tahu, mereka akan panik.”
Helmut menambahkan:
“Dan jika Amerika tahu kita tahu, mereka akan curiga.”
Claire menatap dua rekannya.
“Jika Seno benar-benar memiliki akses terhadap teknologi yang menghilangkan Omega…kita biarkan Indonesia memegangnya. Untuk saat ini.”
“Kita diam untuk semenara, tetapi harus bertindak pada saat yang tepat. Kuncinya pada nama asing itu. Kita harus mencari cara untuk bertemu dengan Seno. Kita kumpulkan semua ahli yang ada di Eropa dalam pertemuan tertutup untuk menguras informasi yang dia punya. Apapun informasi itu, biar orang menyebutnya mitos, bagi saya itu hanya kita belum mengerti saja. Ahli-ahli kita dapat menyadap apa sebenarnya yang ada di Palung Wallace itu.”
Marc Van der Linde membuka catatan rahasia VOC.
“Ada catatan VOC yang tidak pernah diperhatikan karena dinilai dongeng belaka. Tetapi ternyata sekarang dongeng itu menjadi nyata. Dan kita terlambat memberi respon,” katanya.
“Di wilayah itu dulu kami asyik berkebun. Rempah khususnya pala nilainya melebihi emas saat itu. Masyarakat menceritakan, di tempat yang sekarang disebut Palung Wallace itu, pada saat-saat tertentu muncul keanehan. Aurora memancar terang, memendarkan warna-warna seperti pelangi, berputar-putar lalu hilang ditelan laut. Masyarakat menganggap “hantu” dan wilayah itu tidak ada yang berani menjamah.”
Semua diam.
Tidak ada yang mengucapkan kata “perang”, tetapi semuanya tahu, inilah keputusan untuk mencegah perang itu.
Pertemuan ditutup tanpa tepuk tangan, tanpa ucapan perpisahan. Mereka bangkit—hampir bersamaan—dan satu per satu meninggalkan ruangan.
Setelah pintu menutup, ruangan kembali gelap.
Seolah-olah pertemuan itu tidak pernah terjadi.
Di Luar Ruangan, Dunia Bergerak
Sementara di Eropa mereka memilih diam, di Asia badai sedang tumbuh. Omega terdeteksi kembali di radar.
Konsorsium energi global mengirim kapal tak dikenali ke Palung Wallace.
Di Jakarta, kudeta halus mulai menggerogoti kewenangan Presiden Pradipa.
Dan Seno… baru saja kembali ke ibu kota dengan beban yang amat berat.
Untuk pertama kalinya, tiga kekuatan dunia memilih untuk tidak menyentuh Indonesia.
Dan itu membuat Indonesia menjadi titik paling berbahaya di planet ini.
Karena ketika kekuatan besar memilih diam…biasanya itu berarti mereka sedang menunggu sesuatu yang jauh lebih besar meledak.
BERSAMBUNG
EDITOR: REYNA
BACA JUGA:
Novel “Imperium Tiga Samudra” (24) – Kepulangan Mendadak Seno, Bayangan Kudeta Halus
Novel “Imperium Tiga Samudra” (23) – Beijing dan Washington Gelisah
Novel “Imperium Tiga Samudra (22) – Dokumen Rahasia TNI AL Tentang Palung Wallace
Related Posts

Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (64) – Jejak Yang Tertinggal di Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (62) – Tiga Hari Yang Tidak Bisa Diulang

Novel “Imperium Tiga Samudra” (61) – Ruang Yang Sudah Menunggu

Sufmi Dasco, Senopati Politik Prabowo Subianto (78): Saya Laporkan Apa Adanya, Presiden yang Menentukan Arah

Novel “Imperium Tiga Samudra” (60) – Mineral Baru Yang Tidak Mau Dinamai

Novel “Imperium Tiga Samudra” (59) – Konstanta Yang Tidak Mau Dimiliki

Novel “Imperium Tiga Samudra” (58) – Dari Dinginnya Salju ke Kebun Raya Bogor

Novel ” Imperium Tiga Samudra” (57) – Pertanda Baru, Sesuatu Akan Lahir


Novel "Imperium Tiga Samudra" (26) - Negara-Negara Berebut Palung Wallace, Seno Ke Canberra - Berita TerbaruDecember 13, 2025 at 2:13 pm
[…] Novel “Imperium Tiga Samudra” (25) – Pertemuan Gelap di Brussels, Uni Eropa Galau […]