Oleh: Budi Pryanto
Ruang briefing bawah tanah itu selalu dingin, seolah udara sengaja ditahan agar setiap kata terdengar lebih berat. Di dinding utama Pentagon, layar raksasa memancarkan satu garis merah melengkung—membelah Indonesia dari barat ke timur, seperti bekas luka yang tak pernah sembuh.
“Wallace Line,” ujar Direktur DIA, Jon Erskine, suaranya datar, nyaris berbisik.
Ia berhenti sejenak, membiarkan para analis mencerna makna di balik kurva itu. “Sampai Omega hilang, kita menganggapnya sekadar garis biologi. Sekarang,” katanya lagi, menajamkan pandangan, “kita tahu… itu medan perang.”
Beijing
Jauh di Beijing, di ruangan dengan pencahayaan serupa dan ketegangan yang sama, gambar yang identik terpampang. Jenderal Lin Feng—komandan operasi laut dalam PLA Navy—menatapnya tanpa berkedip. Rahangnya mengeras.
“Jika kita tidak menguasai wilayah ini,” katanya pelan namun tegas, “kita akan selamanya terjebak dalam perangkap Amerika–Australia.”
Di timur Indonesia, jauh dari layar-layar itu, geladak KRI Cendrawasih terdiam dalam senyap yang aneh. Laut Banda membentang kelam, memantulkan langit sore seperti cermin retak. Di dalam kabin navigasi, Seno menunduk di atas meja peta digital, menandai koordinat baru—titik-titik anomali energi yang muncul sesaat setelah Auto Cloce aktif.
“Perang sudah dimulai,” gumamnya, hampir tak terdengar di antara dengung mesin.
Ia menarik napas pendek. “Tapi bukan kita yang memulainya.”
China bergerak lebih dulu—tanpa deklarasi, tanpa sorotan. Mereka menamainya Operasi Hantu (Phantom Signal Project), sebuah misi sunyi untuk memetakan ulang Palung Wallace. Kapal selam Type‑096 meluncur dengan sistem sonar ultra-hening, nyaris menyatu dengan napas laut. Micro‑robotic drones seukuran koin menyusup ke blind zone, menari di antara arus dan gelap. Di permukaan, kapal riset sipil berlayar seperti biasa—menyamar sebagai peneliti ikan laut dalam, menyembunyikan mata-mata di balik jaring dan sensor.
Mereka tidak lagi mencoba menembus Auto Cloce. Mereka memilih mengakali alam.
“Jika pintu tidak bisa dibuka,” kata Profesor Liao di ruang kendali, “maka kita mencari celah di dindingnya.”
Washington membaca gerak itu dengan cepat. Kapal selam kelas Virginia Block V bergerak ke Laut Banda. Satelit US Space Force mengunci area Wallace Line, sementara NSA mengaktifkan Deep Sentinel Protocol—penyadapan total seluruh frekuensi akustik yang digunakan China.
Amerika tak lagi peduli pada Omega sebagai objek. Mereka peduli pada sebab.
“Itu bukan teknologi manusia,” lapor seorang analis NSA. “Siapa pun yang mengendalikannya… adalah variabel berbahaya.”
Kecurigaan berbalik arah. Amerika yakin China tahu sesuatu tentang Palung Wallace. China menuduh Amerika menyembunyikan rahasia. Dan semua tuduhan itu, pada akhirnya, mengerucut ke satu nama: Indonesia.
Canberra
Omega menghilang hanya seribu dua ratus kilometer dari garis pertahanan Australia. Mereka mengaktifkan operasi rahasia Northern Shield—jaringan sonar pasif yang membentang dari Darwin hingga Arafura dan Timor.
Tujuannya jelas: mendeteksi kapal selam China sebelum menembus selatan; mengawasi setiap gerak TNI AL, terutama kapal-kapal yang tak mengirimkan sinyal AIS; dan merebut data intelijen tentang anomali energi Wallace.
Bagi Australia, Wallace Line bukan konsep ilmiah. Itu pagar depan benua.
Tokyo
Tokyo memilih jalur berbeda. Kapal riset JAMSTEC berlayar dengan alasan meneliti gempa mikro. Namun misi sebenarnya jauh lebih dalam: memetakan jalur energi bumi menuju Laut Timor, mengumpulkan data friksi lempeng, merekam fluktuasi magnetik pasca Auto Cloce.
Jepang percaya satu hal—jika ada energi bumi yang mampu mengganggu sistem kelautan Asia, mereka harus menjadi yang pertama mengetahuinya. Bagi negara rawan gempa, anomali energi bukan sekadar geopolitik. Itu soal eksistensi.
Untuk pertama kalinya, Wallace Line tak lagi dibaca sebagai garis fauna.
Di bawahnya, kedalaman tujuh ribu meter menjadikannya koridor kapal selam, jalur penyamaran sonar, wilayah di mana sensor Amerika dan China sama‑sama buta.
Palung Wallace juga menyimpan “Lautan Energi Murni”, hasil reaksinya yang rumit dapat menghasilkan logam tanah jarang dalam jumlah tak terhitung—scandium, lanthanum, neodymium, yttrium—dan unsur kimia lain yang belum ada namanya, belum masuk didalam “Tabel periodik”. Dan diyakini sebagai kunci abad ke‑22.
Sebenarnya bukan nikel yang memanggil Omega ke sana, melainkan energi yang melahirkan mineral logam amat penting dimasa depan.
Seno menyebutnya palung itu sebagai “Reservoar Energi Purba”. Karena faktanya, kata Seno, sejak Purba energi itu sudah ada dan terus bekerja melahirkan berbagai mineral logam penting untuk manusia.
Siapa pun yang menguasai Wallace Line, akan menguasai data bawah laut, jalur kapal selam utara–selatan, sensor geotektonik penanda gempa, akses ke Palung Wallace—dan yang terpenting, sumber energi masa depan.
Tak ada yang bisa mundur. Dan Indonesia berdiri tepat di tengah badai.
Beberapa minggu setelah Omega menghilang, tanda-tanda itu muncul. Satelit Amerika menangkap kapal selam China terlalu dekat dengan Laut Banda. Australia meningkatkan patroli udara. Jepang memperpanjang misi JAMSTEC. China mengirim kapal riset kedua. Amerika menambah kapal selam. Dan TNI AL—menghilang dari radar.
Tak ada tembakan. Tak ada deklarasi.Namun semua pihak tahu—mereka hanya lima detik dari perang yang tak boleh pecah.
Seno ke Canberra
Dua hari sebelum keberangkatannya ke Canberra, Seno dipanggil secara pribadi oleh Presiden Pradipa ke Istana.
Tak ada ajudan.Tak ada menteri.Hanya mereka berdua, ditemani kilau lampu-lampu kota yang memantul di kaca.
Pradipa menatapnya lama, seperti memeriksa masa depan di balik sorot mata Seno.
“Kau tahu apa yang akan terjadi, Seno?” Suara Presiden berat, hampir seperti bisikan.
Seno mengangguk pelan. “Musuh datang dari dua arah, Pak.”
“Dari dalam,” lanjut Seno, “ada orang-orang yang mendendam Bapak. Mereka melihat Omega hilang sebagai kesempatan menggulingkanmu tanpa perlu mengangkat senjata.”
Presiden menarik napas panjang. “Dan dari luar?”
Seno menjawab datar, tapi tajam. “Dari luar, negara-negara besar menuduh Indonesia menghilangkan Omega. Mereka butuh kambing hitam… dan kita yang paling mudah untuk dijadikan sasaran.”
Pradipa menghela napas, berat.
“Kau tahu sesuatu, Seno? Apa yang bisa kamu kerjakan. Ingat, saya tidak lagi percaya kepada siapapun dalam kondisi seperti ini”
Seno menatapnya. “Saya akan memadamkan sumber kudeta ini,Pak. Dari dalam maupun luar. Diam-diam. Dan tuntas.”
Tidak ada orang lain di Indonesia yang berani mengucapkan janji seperti itu. Dan tidak ada Presiden selain Pradipa yang akan mempercayainya.
“Baik. Aku tahu apa yang akan kamu kerjakan. Aku percaya kepadamu,” kata Pradipa akhirnya.
“Australia meminta pertemuan. Mereka bilang informall. Aku tidak percaya. Pergilah… tapi jangan mati di sana.”
Seno tersenyum tipis.“Saya tidak pernah mati di tempat yang tidak saya pilih, Pak”
Sehari setelah itu, Seno tiba malam hari di Canberra.Tidak lewat bandara diplomatik.Tidak lewat pintu VIP.
Ia dibawa melalui jalur yang bahkan tidak dipakai tamu-tamu penting.Di dalam mobil hitam tanpa plat, seorang pria berjas coklat memperkenalkan diri:
“Nama saya Ethan Ward. Anda dipanggil bukan sebagai diplomat, bukan sebagai pejabat… tapi sebagai variabel yang tidak dipahami.”
Seno menatap keluar jendela. Lampu-lampu Canberra tampak seperti kota kecil yang menyembunyikan ketakutannya dengan rapih.
“Mereka kira saya mengambil Omega?” tanya Seno.
Ward menjawab tanpa ragu. “Bukan ‘kira’. Mereka yakin.
Seno dibawa ke sebuah kompleks di bawah gedung pemerintah yang tidak memiliki tanda apa pun. Di ruangan putih steril itu, sudah menunggu: Direktur ASIS, Helen Carver, perempuan dingin dengan tatapan seperti pisau. Marsekal Udara Angus Reeve, komandan pertahanan utara Australia. Dr. Malcolm Orr, pakar geologi kelautan dan penasihat khusus PM Australia.
Carver membuka percakapan langsung tanpa basa-basi. “Mister Seno, drone Omega milik China hilang tepat di atas Palung Wallace. Kami tidak percaya ini kebetulan.”
Seno hanya menatapnya tanpa reaksi.
Reeve melanjutkan, “China menyalahkan Amerika. Amerika membantah. Jepang bingung. Tapi semuanya sepakat pada satu hal…”
Orr menatap Seno tajam. “Indonesia menyembunyikan sesuatu. Dan itu berkaitan dengan Anda.”
Seno tersenyum tipis. “Saya tidak sekuat itu.”
Carver memutar tablet. Rekaman sonar muncul: serpihan energi berputar, bentuknya seperti kubah cahaya.
“Kami mendeteksi… sesuatu. Tepat sebelum Omega hilang.”
Seno tidak berkata apa-apa.
“Dan Anda,” lanjut Carver, “adalah satu-satunya manusia yang muncul di setiap laporan intelijen negara mana pun ketika bicara soal Palung Wallace.”
Pertemuan itu berlangsung 4 jam.Di tengahnya, Carver bertanya pelan.
“Kenapa Presiden Anda mengirimmu seorang diri? Kenapa bukan menteri luar negeri? Atau komandan TNI AL?”
Seno tersenyum kecil. “Karena beliau tahu… yang sedang terjadi bukan sekadar sengketa laut.”
Carver mengangkat alis.
“Yang terjadi adalah kudeta sunyi dari luar,” lanjut Seno.
Ruangan menjadi dingin.
“Kalian,” kata Seno sambil menatap satu per satu, “takut akan hilangnya Omega, takut akan China, takut Amerika mendahului, takut Jepang membawa data, dan takut Indonesia menyimpan sesuatu yang mengubah keseimbangan kawasan.”
Reeve menegang. “Jadi apa yang kau inginkan, Seno?”
“Saya ingin memastikan,” kata Seno pelan, “bahwa ketakutan kalian tidak berubah menjadi dukungan terhadap faksi domestik di Indonesia yang ingin menggulingkan Presiden saya.”
Carver memicingkan mata. “Apa kau menuduh Australia… ikut dalam rencana kudeta?”
Seno mengangkat tangan pelan. “Belum. Dan saya ingin tetap begitu.”
Keheningan memanjang.
Untuk pertama kalinya para perwira intel Australia sadar. Mereka bukan sedang berbicara dengan pejabat. Bukan dengan ilmuwan. Bukan dengan agen.Tapi seseorang yang entah bagaimana selalu berada di tengah peristiwa besar yang tidak bisa dijelaskan.
Dalam perjalanan kembali ke penginapan rahasia, Ward menatap Seno dengan pandangan yang berbeda saat bertemu pertama kali.
“Sebenarnya, berapa banyak negara yang kau pikir akan menekan Indonesia karena Omega hilang?”
Seno menjawab sambil memejam mata.
“China sudah marah. Amerika merasa ditipu. Jepang ketakutan. Australia resah.”
“Dan Eropa, hanya masalah waktu. Mereka pasti tidak diam,” kata Seno.
Ia membuka mata dan menatap langit Canberra yang bertabur bintang.
“Tekanan dari luar itu,” kata Seno, “sedang dimanfaatkan faksi politik di Jakarta yang ingin menggulingkan Presiden Pradipa. Mereka berpikir bisa menggunakan kemarahan negara besar sebagai legitimasi internasional.”
Ward menelan ludah. “Dan kau ingin menghentikannya?”
Seno tersenyum tipis. “Tidak hanya menghentikan.”
Ia menatap lurus ke depan. “Saya harus membuat mereka saling curiga satu sama lain… agar tidak sempat menyentuh Indonesia.”
Sebelum Seno kembali, Carver memanggilnya sekali lagi.
“Hanya ingin memastikan satu hal,” katanya pelan. “Benarkah Indonesia tidak mengambil Omega?”
Seno berdiri, memalingkan wajah ke jendela.
“Kalau saya mengatakan negara saya tidak mengambilnya, apakah Anda percaya?”
Carver tidak menjawab. Seno menoleh, senyumnya samar, matanya memantulkan sesuatu yang tidak biasa.
“Saya tidak hanya mewakili negara saya, Bu Carver. Saya mewakili… sesuatu yang lebih tua daripada negara mana pun.”
Carver menegang, tidak mengerti maksudnya.
Seno mengambil jaketnya.
“Dan satu hal lagi,” katanya sebelum keluar ruangan. “Kudeta itu tidak akan terjadi. Dari dalam… maupun dari luar.”
Carver hanya bisa menatap punggung Seno yang menjauh. Dalam hatinya, sesuatu berbisik: “Pradipa benar mempercayai orang itu. Dia bukan manusia biasa.”
BERSAMBUNG
EDITOR: REYNA
BACA JUGA:
Novel “Imperium Tiga Samudra” (25) – Pertemuan Gelap di Brussels, Uni Eropa Galau
Novel “Imperium Tiga Samudra” (24) – Kepulangan Mendadak Seno, Bayangan Kudeta Halus
Novel “Imperium Tiga Samudra” (23) – Beijing dan Washington Gelisah
Related Posts

Menunggu Godot

Novel “Imperium Tiga Samudra” (71) – Perburuan Sunyi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (70) – Di Panggung PBB

Novel “Imperium Tiga Samudra” (69) – Operasi Intelijen di Banda

Novel “Imperium Tiga Samudra” (68) – Menunggu Utusan Datang

Novel “Imperium Tiga Samudra” (67) – 17 Menit Yang Menentukan

Novel “Imperium Tiga Samudra” (66) – Nama Yang Tidak Seharusnya Disebut

Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (64) – Jejak Yang Tertinggal di Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa


Novel "Imperium Tiga Samudra" (27) - Pertemuan Gelap di Jakarta, Operasi Senyap di Canberra - Berita TerbaruDecember 14, 2025 at 12:53 pm
[…] Novel “Imperium Tiga Samudra” (26) – Negara-Negara Berebut Palung Wallace, Seno Ke… […]