Oleh: Budi Puryanto
Hujan tipis turun di Jakarta malam itu, seolah mencoba menyembunyikan suara-suara kecil yang tidak boleh terdengar siapa pun. Di sebuah rumah tua di kawasan Menteng—bangunan kolonial yang seharusnya sudah menjadi cagar budaya tetapi diam-diam dirawat oleh seseorang yang sangat berkuasa—lampu-lampu temaram menyala. Tirai tertutup rapat. Semua ponsel dititipkan di luar. Gangguan sinyal diciptakan secara otomatis oleh sebuah jammer portabel yang sangat mahal.
Malam itu, bersamaan saat Seno di Canberra bertemu tim itelijen utama negeri kanguru, mereka, faksi politik yang berseberangan dan masih dendam dengan Presiden Pradipa, berkumpul di dalam ruangan tua itu. Inilah faksi dalam negeri, kelompok yang sejak tiga tahun terakhir mengkonsolidasikan kekuatan untuk menjatuhkan Presiden Pradipa.
Mereka tidak pernah menyebut diri “faksi kudeta.” Mereka lebih suka menyebutnya Kelompok Penstabil Bangsa.
Padahal, semua orang di ruangan itu pernah mencicipi kekuasaan—di pemerintahan sebelumnya, atau sebagai konglomerat yang merasa kehilangan akses sejak Presiden Pradipa merombak kontrak besar energi dan pertahanan.
Di tengah ruangan, duduk Tiga Orang yang memegang peran paling penting: Pertama, Jenderal Purn. H, mantan panglima yang merasa wibawanya terlucuti. Kedua, Salah satu mantan menteri ekonomi, yang dulu mengendalikan proyek-proyek besar bernilai triliunan. Ketiga, Pengusaha gelap kawakan, pemilik perusahaan tambang dan logistik yang selama ini bermain di jalur abu-abu.
Mereka berkumpul tanpa suara, hanya tatapan-tatapan tajam yang menggantikan salam.
“Omega adalah berkah,” kata Jenderal H. Suaranya rendah namun tegas, seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah, bukan meminta pendapat.
“China marah besar. Amerika juga. Jepang dan Australia ikut kalap. Mereka semua menuduh Indonesia menghilangkan drone super canggih Omega,” lanjutnya.
Si mantan menteri mengangguk. “Dan Pradipa… masih diam saja. Menolak klarifikasi, menolak membuka investigasi internasional. Padahal satu langkah salah saja, negara ini bisa dikepung empat kekuatan besar sekaligus.”
Mereka tidak tahu bahwa Seno, di Canberra, sedang menjalankan perintah rahasia Presiden buat memadamkan api ini tanpa suara. Dan mereka tidak tahu bahwa Pradipa sudah mencium gerak-gerik mereka sejak lama—meski belum tahu bentuknya.
Namun malam itu, keyakinan faksi kudeta semakin membesar. “Sentimen internasional ini… momentum terbaik kita,” bisik sang pengusaha tambang. “Pradipa akan dipersalahkan. Bahkan kalau dia lolos, reputasinya lumpuh. Kita tinggal dorong sedikit—ekonomi melemah, reputasi jatuh, krisis kepercayaan mencuat.”
“Sumber kekuatan kita bukan dari luar,” kata sang mantan menteri. “Tetapi dari dalam… Lihatlah parlemen. Lihat pergerakan beberapa jenderal aktif. Lihat lembaga-lembaga negara yang mulai resah. Kesabaran mereka nyaris habis.”
Jenderal H menyilangkan tangan. “Kalau kita bisa meyakinkan pihak luar bahwa Pradipa tidak lagi memimpin Indonesia dengan stabil—bahwa dia menyembunyikan sesuatu—kita akan mendapat dukungan diam-diam.”
Ruang itu senyap. Lalu sang pengusaha tambang mengeluarkan map hitam. “Ini dokumen mengenai Palung Wallace. Tentang aktivitas TNI AL di bawah koordinasi Seno. Sangat rahasia. Kalau pihak luar tahu ini, mereka akan lebih yakin bahwa Pradipa sedang menyembunyikan ‘temuan besar’. Dan itu akan memicu tekanan global.”
Jenderal H tersenyum tipis. “Presiden Pradipa terlalu percaya pada satu orang… Seno.”
Nada suaranya sinis. “Kita tahu kemampuan Seno. Kita tahu dia bukan orang biasa. Tapi dia hanya satu orang. Dia tidak bisa melawan arus di dalam negeri dan tekanan internasional sekaligus.”
Mereka semua mengangguk. Untuk pertama kalinya, raut wajah mereka memperlihatkan rasa optimis.
Namun malam itu mereka membuat satu kesalahan besar. Mereka tidak tahu bahwa ruangan itu sudah ditandai. Bahwa jammer yang mereka pasang tidak memblokir sinyal tertentu—sinyal yang dipakai oleh tim kecil yang bekerja untuk Seno.
Bahwa sejak tiga hari sebelumnya, salah satu anggota rapat itu sudah direkrut oleh seseorang yang tidak mereka duga—orang yang tampak biasa, pengusaha kecil dari Bandung yang mereka anggap hanya pelengkap.
Dan setiap kata di ruangan itu, malam itu, sedang direkam. Untuk Seno. Untuk Presiden.
Di tempat lain, jauh dari Menteng…Seno yang masih berada di Canberra menerima pesan terenkripsi memasuki tabletnya. Ia membaca transkrip rapat rahasia itu. Ia menutup mata sejenak. Faksi dalam negeri mulai bergerak.
Dan mereka memanfaatkan hilangnya Omega. Ini bukan lagi krisis diplomatik. Ini upaya kudeta dua arah: dari luar dan dari dalam.
Ia mengingat janji yang ia ucapkan kepada Presiden Pradipa beberapa hari sebelumnya: “Saya akan mengatasi semuanya, Pak. Sumber kudeta dari luar… dan dari dalam. Sampai tuntas.”
Dan Seno tahu, Ini baru permulaan.
Canberra
Canberra menjelang tengah malam selalu sunyi. Bahkan angin di sekitar Lake Burley Griffin seperti menahan diri agar tidak menimbulkan suara. Di salah satu bangunan kaca yang terletak tak jauh dari kawasan Barton, cahaya biru redup memantul di jendela berlapis sensor anti-intelijen.
Di dalamnya, Seno duduk sendirian di ruang rapat kecil yang sengaja dipilihkan oleh intelijen Australia—ruangan tanpa kamera, tanpa mikrofon, tanpa catatan, tanpa saksi. Pertemuan resmi selesai tiga jam lalu. Yang tersisa adalah pertemuan tak tertulis, yang bahkan tidak diketahui sebagian besar pejabat Canberra.
Tablet hitam Seno bergetar pelan.Transkrip Pertemuan Gelap di Menteng yang diterimanya tadi kini terpampang jelas. Ia membaca setiap kata dengan ketenangan yang justru membuat para agen Australia gugup.
Mereka melihat sesuatu pada Seno yang tidak dimiliki orang biasa—ketajaman yang seolah bisa menembus dinding, memetakan pola pikir orang, dan memprediksi pergerakan lawan seperti membaca buku.
Tak ada yang tahu pasti dari mana datangnya kemampuan itu. Dan tak ada yang berani bertanya.
“Mereka bergerak cepat,” gumam Seno.
Salah satu intel senior Australia, pria berkepala putih bernama Collins, memiringkan tubuhnya.
“Kelompok itu… faksi internal Anda… mereka sangat yakin bahwa dunia internasional akan menyalahkan Presiden Pradipa atas hilangnya Omega.”
Seno menutup tablet. “Dan Anda datang mengundang saya untuk membuktikan sebaliknya?”
Collins tersenyum tipis. “Tidak persis.”
Lalu, ia mengeluarkan amplop cokelat yang ditandai huruf S—kode khusus intelijen Australia untuk dokumen tanpa rekam jejak.
“Ini… bukan permintaan. Tapi penawaran,” katanya. Seno mengangkat alis.
Isi amplop itu adalah peta laut. Bukan sembarang peta—melainkan diagram kompleks sonar pasif dan rute migrasi sinyal yang ditangkap radar bawah laut Australia dalam enam minggu terakhir.
Di bagian selatan peta, dua kata dicetak besar: WALLACE TRENCH (Palung Wallace)
Seno menatap Collins lama. “Kenapa kalian menunjukkan ini kepada saya?”
“Australia tidak percaya Indonesia mengambil Omega,” jawab Collins cepat. “Dan kami tahu… Omega berada di suatu tempat di sekitar Palung Wallace. Kami tahu TNI AL—atau seseorang dalam TNI AL—sedang melakukan sesuatu.”
Ia menatap Seno dalam-dalam. “Tetapi kami juga tahu Anda bukan ancaman bagi kami. Anda sedang menghentikan sesuatu yang jauh lebih besar.” Sejenak, ruangan itu beku.
Seno akhirnya berkata pelan. “Berapa banyak negara lain yang mengetahui ini?”
“Amerika mencium sebagian kecil. Jepang mencurigai. China… marah tanpa data lengkap.”
Collins menatapnya dalam. “Dan hanya Anda yang punya potongan puzzle paling penting.”
Seno menutup peta pelan. “Anda kurang jeli,” kata Seno singkat. “Maksud anda?”
“Eropa tidak diam. Tetapi memantau semua gerakan.”
“Apa yang diinginkan Eropa, anda tahu,” tanya Collins merendah. “Nanti pada saatnya anda akan tahu,” jawaban yang membuat Collins makin risau. Kenapa dia tidak memikirkan Eropa, bahkan Seno sudah memprediksinya. Dia makin kagum, tetapi diam-diam.
“Kalau begitu,” kata Seno, “mari kita mulai.”
Operasi Senyap dimulai
Malam itu, tanpa ada satu pun pejabat Canberra yang tahu, Seno mengaktifkan protokol yang hanya ia dan Presiden Pradipa pahami: Protokol Garuda Senyap. Ia mengirim tiga pesan terenkripsi:
1. Untuk Kepala Staf TNI AL
“Alihkan kapal ke koordinat W-59. Jangan tinggalkan jejak. Gunakan jalur dingin.”
2. Untuk seorang kolaborator lama di Singapura
“Siapkan dokumen kedatangan palsu untuk dua nama.”
3. Untuk Presiden Pradipa
“Faksi dalam negeri sudah memulai langkah. Saya mengambil kebebasan penuh menjalankan operasi. Mohon jangan menghubungi saya selama 72 jam.”
Setelah pesan terkirim, Seno mematikan semua akses digitalnya. Collins menatapnya kaget. “Apa yang baru saja Anda lakukan?”. Seno berdiri. “Saya memindahkan papan catur.”
Collins memberikan satu file terakhir.
“Ini rekaman sonar terdalam kami. Anda tidak akan menyukai apa yang Anda dengar.”
Seno menekannya. Suaranya bukan suara mesin. Bukan suara geologi. Tetapi suara… sesuatu. Kolonel Collins bahkan menelan ludah sebelum berkata.
“Omega bukan hilang, Seno.” Ia menunjuk gelombang aneh itu.
“Ia ditarik ke sesuatu.”
Seno menutup laptop. Menatap palung yang tergambar di peta. Dan mendadak, seluruh potongan dalam pikirannya tersambung. Palung Wallace bukan hanya fenomena geologi. Ada sesuatu di sana. Dan seseorang dalam negeri… mencoba memanfaatkan rahasia itu untuk menjatuhkan Presiden.
Seno menyimpulkan. Untuk menghentikan kudeta, ia harus menguasai teka-teki Omega lebih dulu. Dan malam itu, di Canberra, ia berkata dengan suara yang hampir seperti ancaman kepada Collins:
“Kalau ada yang menyentuh Palung Wallace tanpa saya…dunia bisa perang.”
Operasi Senyap pun dimulai. Tanpa suara. Tanpa catatan. Tanpa kemungkinan mundur.
BERSAMBUNG
EDITOR: REYNA
BACA JUGA:
Novel “Imperium Tiga Samudra” (26) – Negara-Negara Berebut Palung Wallace, Seno Ke Canberra
Novel “Imperium Tiga Samudra” (25) – Pertemuan Gelap di Brussels, Uni Eropa Galau
Novel “Imperium Tiga Samudra” (24) – Kepulangan Mendadak Seno, Bayangan Kudeta Halus
Related Posts

Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (64) – Jejak Yang Tertinggal di Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (62) – Tiga Hari Yang Tidak Bisa Diulang

Novel “Imperium Tiga Samudra” (61) – Ruang Yang Sudah Menunggu

Sufmi Dasco, Senopati Politik Prabowo Subianto (78): Saya Laporkan Apa Adanya, Presiden yang Menentukan Arah

Novel “Imperium Tiga Samudra” (60) – Mineral Baru Yang Tidak Mau Dinamai

Novel “Imperium Tiga Samudra” (59) – Konstanta Yang Tidak Mau Dimiliki

Novel “Imperium Tiga Samudra” (58) – Dari Dinginnya Salju ke Kebun Raya Bogor

Novel ” Imperium Tiga Samudra” (57) – Pertanda Baru, Sesuatu Akan Lahir


Novel "Imperium Tiga Samudra" (28)- Operasi Palung Wallace Dimulai - Berita TerbaruDecember 15, 2025 at 7:20 am
[…] Novel “Imperium Tiga Samudra” (27) – Pertemuan Gelap di Jakarta, Operasi Senyap di… […]