Novel “Imperium Tiga Samudra” (28)- Operasi Palung Wallace Dimulai

Novel “Imperium Tiga Samudra” (28)- Operasi Palung Wallace Dimulai

Oleh: Budi Pryanto

Angin malam Canberra menusuk dingin. Di gedung intelijen Australia yang tidak memiliki nomor dan tidak tercatat di peta, dua bayangan bergerak cepat di lorong sempit. Salah satunya Seno. Langkahnya tenang. Terukur. Seolah ia sudah hafal gedung itu sebelum ia masuk.

Di belakangnya, Collins mengikuti dari jarak satu meter, memperhatikannya dengan rasa penasaran yang semakin sulit disembunyikan.

Ruangan itu terlihat seperti laboratorium masa depan: deretan layar 360 derajat, server pendingin nitrogen, sistem pengacak frekuensi militer, dan peta digital pelacakan kapal selam dunia.

Ketika pintu terbuka, seluruh operator berbalik menatap Seno. Bukan Collins.Seno. Seolah yang punya otoritas tertinggi adalah dia — orang asing yang baru tiba di Canberra beberapa jam lalu.

Collins merasakan sesuatu. Pria ini bukan sekadar konsultan intelijen Indonesia.

Seno langsung mengambil alih kendali, dan tiba-tiba memberi perintah.

“Switch semua saluran ke Mode Sunyi,” kata Seno tanpa menunggu izin.

Operator Australia saling berpandangan. Collins mengangguk. “Lakukan.”

Tiba-tiba ruangan berubah. Lampu meredup. Dinding menyerap suara. Komputer otomatis memutus koneksi dari jaringan global. Seno berdiri di tengah ruangan seperti seorang konduktor orkestra.

“Mulai dari Tokyo dulu,” katanya.

“Tokyo?” tanya Collins.

“Ya. Jepang yang paling cepat menganalisis hilangnya Omega. Jika informasi bocor dari sana, AS akan dapat dalam sepuluh menit, dan China akan dapat dalam lima.”

Ia mengetuk layar. Di layar muncul laporan intelijen Jepang: ‘Gamma Signature Detected, Wallace Trench’— sinyal energi misterius dari Palung Wallace.

Collins menegang.

“Bagaimana Anda tahu Jepang sudah menangkap sinyal itu?”

Seno hanya tersenyum tipis.

“Saya tahu apa yang ingin mereka ketahui. Jadi saya tahu apa yang mereka cari.”

Dengan satu gerakan jari, ia mengirim paket data palsu ke jaringan intel Jepang: Sinyal energi palsu — seolah berasal dari kegagalan reaktor bawah laut mini China. Operator Australia menatapnya ngeri.

“Anda… memanipulasi analisis intelijen Jepang?”

Seno menjawab santai:

“Saya hanya mengalihkan perhatian mereka.”

Seno memindahkan layar ke peta Amerika Serikat, kemudian memberikan perintah.

“Sekarang Washington.”

“Amerika sangat sensitif terhadap hilangnya Omega,” kata Collins.

“Mereka yakin China menyembunyikan sesuatu atau Indonesia terlibat.”

“Dan keduanya salah,” jawab Seno.

Ia membuka saluran satelit rahasia AS — kode gamma merah. Operator Australia saling berbisik:

“Bagaimana dia dapat akses itu?”

“Itu jaringan tertutup… itu hanya untuk Five Eyes…”

Collins hanya menatap Seno, semakin yakin bahwa pria ini bukan manusia biasa.

Seno mengunggah dua file anonim: data palsu tentang gelombang elektromagnetik ekstrem dan analisis rekayasa yang menyatakan Omega mungkin hancur karena implosi internal

“Itu akan membuat AS fokus pada kegagalan teknologi mereka sendiri,” kata Seno.

Collins menegang.

“Anda membuat AS menyalahkan teknologinya sendiri?”

“Lebih mudah membuat mereka meragukan diri sendiri daripada meragukan China,” jawab Seno.

Ruangan menjadi sunyi ketika Seno berkata, “Sekarang giliran yang paling berbahaya.”

Di layar muncul jaringan intel sibernetik China — sistem yang bahkan Australia tidak berani menyentuh langsung.
Collins hampir menghentikannya. “Seno… itu gila.”

Seno tidak menjawab. Ia hanya mengetik — cepat, presisi, seolah memetakan 40 jendela data sekaligus di otaknya.

Dalam satu menit: ia menyisipkan fragmentasi data palsu, seolah Omega meledak karena tabrakan partikel energi purba, ditambah potongan pola sonar palsu dari Laut Kuning, sehingga perhatian intel China akan bergeser dari Indonesia

Operator Australia berbisik seperti melihat sihir.

“Bagaimana dia membaca semuanya sekaligus?”

“Ini bukan multitasking… ini seperti dia melihat masa depan.”

Collins bersuara keras, tidak percaya:

“Seno… kau baru saja menipu tiga negara superpower dalam 15 menit.”

Seno menutup terminal digital.

“Tidak menipu,” katanya pelan.

“Hanya menunda agar mereka tidak saling serang dulu.”

Collins mengakui yang tak terucap. “Seno,” kata Collins, suaranya lebih pelan daripada biasanya, “apa sebenarnya dirimu?”

Seno menatap layar peta Palung Wallace —lingkaran merah yang berdenyut seperti jantung.

“Aku orang yang berutang janji pada presidenku,” kata Seno.

“Dan aku orang yang tahu sesuatu.”

Collins menelan ludah.

“Tahu… apa?”

Seno menatap palung itu. Wajahnya pucat namun tegas.

“Bahwa Omega bukan hilang.”

Ia mengetuk layar.

“Tapi diserap.”

Collins mundur satu langkah.

“Ke tempat… yang bukan milik manusia.”

Collins menggigil mendengar jawaban Seno.

Seno berbalik menuju pintu.

“Kita hanya membeli waktu 36 jam,” katanya.

“Setelah itu, China dan AS akan mencium bahwa seseorang memanipulasi mereka.”

Collins mengejar.

“Kemana kau mau pergi sekarang?”

Seno berhenti di ambang pintu.

“Ke satu tempat,” jawabnya, “yang bahkan kalian tidak bisa akses.”

“Ke mana?”

Seno menatap Collins, dan kali ini mata itu seperti melihat jauh ke dalam kegelapan bumi.

“Ke Palung Wallace.”

“Dan aku pergi sendirian.”

Pintu menutup tanpa suara. Collins berdiri kaku, merasakan tulang punggungnya dingin.
Bukan karena takut.Tetapi karena ia baru menyaksikan sesuatu yang jarang dilihat intelijen mana pun:

Seno tidak mengendalikan informasi. Ia mengendalikan dunia yang sedang berebut informasi. Dan Operasi Palung Wallace baru saja dimulai.

—————–

Pesawat turboprop kecil tanpa identitas melintasi langit utara Australia menuju Timur Indonesia. Tidak ada transponder. Tidak ada rute resmi.

Di dalamnya hanya satu penumpang: Seno.

Ia duduk diam, memandang jendela gelap.

Di pangkuannya, sebuah tas kecil berisi terminal komputasi mini berlapis grafena, peta sonar Palung Wallace, dan fragmen artefak pengunci yang ditemukan TNI AL— serpihan energi yang bergetar halus setiap beberapa menit.

Pilot hanya berkata, “Perintah dari Collins. Kami langsung drop Anda di perairan selatan Banda.”

Seno mengangguk.

“Pastikan tidak ada catatan bahwa aku pernah naik pesawat ini.”

Pilot tersenyum getir.

“Untuk orang lain, pesawat ini bahkan tidak pernah lepas landas.”

Seno memejamkan mata. Di dalam kesunyian mesin pesawat, ia merasakan denyut lemah dari fragmen itu.

Pintu itu memanggilku kembali. Atau memperingatkanku.

Ia belum yakin

————–

Sementara itu, seperti yang diprediksi Seo, Beijing merasakan kejanggalan

Di Markas Intelijen Laut China – Hainan, para pejabat berdiri mengelilingi hologram bentuk kubah energi Palung Wallace. Namun malam ini, sesuatu berubah.

“Ada ketidaksinkronan log data,” ujar Direktur Riset, Prof. Liao Xue dengan suara tegang.

“Rekaman gelombang dari sensor Omega tidak cocok dengan model kehancuran internal.”

“Apa maksudmu?” tanya Wakil Menteri Keamanan.

Liao menatap layar. Matanya merah, kurang tidur.

“Implosi internal… bukan penyebab hilangnya Omega.”

Ia memutar data. Gelombang energi terakhir Omega bukan pola teknis. Bukan error. Bukan kerusakan.

“Ini… pola organik,” kata Liao.

Ruangan seketika sunyi.

“Ada yang mengubah data setelah Omega kehilangan kontak,” tambahnya.

“Dan bukan kita. Dan bukan Amerika. Dan bukan Jepang.”

Perwira intel lain bertanya:

“Lalu siapa?”

Liao menggeleng pelan.

“Seseorang yang berada di luar lingkaran.”

Di layar, sinyal yang telah dianalisis ulang membentuk satu pola akhir.

Arah energi mengalir ke Palung Wallace — bukan keluar. Seolah Omega diserap.

Wakil Menteri bergumam,“Jika bukan negara besar yang memalsukan… hanya tersisa satu tersangka.”

Liao menelan ludah.

“…Indonesia.

——————–

Prediksi Seno satu per satu terbuka.Kini Washington merasa ditipu. Di NSA – Ruang Analisis Sinyal Kelas Hitam, Tiga analis Pentagon berdebat sengit.

“Ini tidak mungkin!”

“Kita menerima pola implosi yang sudah diedit!”

“Log sumbernya tidak sesuai stempel enkripsi!”

Akhirnya, seorang perempuan muda berseragam biru memasang kesimpulan di papan digital:

DATA MANIPULATED – SOURCE UNKNOWN

Direktur NSA memukul meja.

“China menyalahkan kita. Kita menyalahkan China. Jepang kebingungan.
Siapa yang memalsukan data sebesar ini?”

Tak ada yang jawab. Karena memang tak ada yang tahu.

——————————–

Di Tokyo tidak muncul reaksi emosi berlebihan seperti di China dan Amerika.Para ahli Jepang membaca celah.

Di Markas Badan Intelijen Jepang – Minato sesuatu membuat mereka sibuk mengamati.

Laporan dari tim sinyal masuk. Analisis mereka menyimpulkan:

“Seseorang memotong jalur komunikasi beberapa negara besar pada detik yang sama.”

“Kita dijebak?” tanya Kepala Badan.

Salah satu analis menjawab:

“Kita dialihkan. Dengan sangat rapi.”

Sang Kepala bertanya: “Siapa?”

Tidak ada jawaban. Layar hanya menampilkan satu kalimat:

“UNKNOWN OPERATO”

——————————

Sementara itu, di tempat lain, jauh dari hiruk pikuk intelijen global…Collins duduk sendirian di ruang gelap Canberra, menatap logo kecil di layar: potongan kode yang ia kenali.

Kode yang ia lihat ditulis Seno beberapa jam sebelumnya.

“Dunia mengira sedang menipu satu sama lain…”

Collins menarik napas panjang.

“Padahal semua data yang mereka peroleh datang dari satu orang.”

Ia menatap peta Palung Wallace.

“Dan orang itu sekarang kembali ke sana.”

————————————–

Pesawat yang membawa Seno tiba di Laut Banda.

Pesawat melambat. Langit malam di atas Laut Banda tampak seperti beludru hitam dengan titik-titik bintang kecil.
Di bawah, kapal kecil TNI AL tanpa identitas menunggu.

Pilot berkata:

“Kami tidak akan menyalakan lampu. Anda lompat dari ketinggian 20 meter.”

Seno berdiri di pintu.

“Aku siap.”

Angin malam menghantam wajahnya. Gelombang bergelora.

Pada detik berikutnya…Seno melompat ke gelap. Ciprat air besar, lalu sunyi.

Kapal kecil bergerak cepat mendekat.

“Seno… kami menunggu,” kata seorang pasukan khusus TNI AL yang menariknya ke dek.

“Kita harus bergerak cepat,” kata Seno tanpa membuang waktu.

“Dalam 24 jam, Beijing akan memutuskan Indonesia memalsukan data.”

“Kita siap, Seno,” jawab sang komandan.

“Tapi apa targetmu di dalam Palung Wallace?”

Seno menatap laut yang menghitam. Dari bawah, ia mendengar sesuatu —denyut samar yang hanya bisa didengar orang-orang yang pernah merasakan energi itu.

“Aku harus memastikan pintu itu…”

Seno berhenti. Matanya memicing, seperti mendengar sesuatu yang orang lain tidak mendengar.

“…tidak berubah pikiran.”

Komandan TNI AL menelan ludah.

“Kau bicara seolah pintunya… hidup.”

Seno menatap ke bawah gelapnya samudra.

“Itu bukan pintu.”

“Itu… sesuatu yang jauh lebih tua dari kita.”

—————————

Beijing mengambil langkah pertama. Setelah analisis ulang, Wakil Menteri menandatangani dokumen merah:

OPERASI LANGIT HITAM – TAHAP I (Penyelidikan rahasia ke Indonesia)

“Kerahkan kapal riset penyamaran,” katanya.

“Kita akan menemukan kebenarannya.”

Di layar, peta menunjukkan arah kapal itu……menuju Laut Banda.

Tanpa mereka sadari, seseorang sudah lebih dulu sampai di sana.

Seno.

BERSAMBUNG

 

EDITOR: REYNA

BACA JUGA:

Novel “Imperium Tiga Samudra” (27) – Pertemuan Gelap di Jakarta, Operasi Senyap di Canberra

Novel “Imperium Tiga Samudra” (26) – Negara-Negara Berebut Palung Wallace, Seno Ke Canberra

Novel “Imperium Tiga Samudra (25) – Pertemuan Gelap di Brussels, Uni Eropa Galau

Last Day Views: 26,55 K