Oleh: Budi Puryanto
Malam di Laut Banda jatuh seperti tirai besi—hitam, tanpa bulan, hanya riak laut yang memantulkan kilasan lampu merah redup dari kapal selam tak bertanda. Di kejauhan, badai kecil berjalan perlahan, seolah mengawasi apa yang terjadi di bawah permukaan.
Sebuah kapal selam Type-096 milik China, Hai Zhen, memasuki perairan Banda dengan kecepatan senyap ekstrem. Tidak ada peta navigasi yang menunjukkan jalurnya, bahkan satelit milik Amerika pun kehilangan jejaknya beberapa menit sekali. China bergerak seperti bayangan yang ingin memastikan satu hal: benarkah Indonesia memiliki sesuatu yang dapat menghilangkan Drone Omega?
Namun Beijing tak tahu satu hal, Seno sudah lebih dulu berada di sana. Kapal pengintai kecil yang digunakannya—Satria II—telah dilengkapi modul sonar eksperimental buatan Australia yang tidak terdaftar dalam sistem apa pun. Collins menyelundupkannya keluar Canberra hanya karena satu alasan:
“Kalau dunia ini masih mau bertahan, kita harus bantu orang gila bernama Seno,” gumam Collins, setengah bercanda, setengah jujur.
Di kedalaman 300 meter, Satria II menutup sistem transmisi, menjadi hening seperti batu. Sonar pasifnya menangkap getaran asing—ritme baling-baling China yang khas, sangat pelan dan sangat berbahaya.
Seno tersenyum tipis. “Ketahuan juga akhirnya kau masuk…,” bisiknya.
Ia tidak berniat melawan. Ia hanya ingin mereka sibuk mengejar bayangannya.
Dengan manipulasi data arus laut, Seno memantulkan sinyal “hantu” seolah sebuah kendaraan bawah laut raksasa bergerak ke arah timur. Hai Zhen terpancing. Komandan kapal selam itu menyangka itu adalah Omega yang hilang.
Mereka memburu ilusi. Sementara Seno bergerak ke arah sebaliknya—diam, dalam, dan penuh perhitungan.
———————–
Pelabuhan Ambon dini hari sunyi, hanya beberapa lampu kuning tua bergetar ditiup angin. Sebuah mobil hitam tanpa pelat berhenti di gudang pelabuhan. Di dalamnya, Presiden Pradipa duduk tanpa pengawalan mencolok—sebuah risiko besar.
Pintunya terbuka pelan. Seno masuk. Presiden menatapnya tajam, namun di dalam tatapan itu ada campuran kagum dan cemas.
“Kamu ini manusia jenis apa, Seno?”
Suara Pradipa terdengar lebih sebagai gumaman daripada kalimat.
Seno hanya tertawa pendek.
“Saya hanya memastikan Bapak tetap jadi Presiden besok pagi.”
Pradipa menarik napas panjang. Kudeta halus yang ia rasakan selama sebulan terakhir kini menunjukkan gigi: faksi dalam negeri yang memanfaatkan kemarahan China, kecurigaan Amerika, kebingungan Jepang, dan kecemasan Australia. Semua kekuatan besar menuduh Indonesia sebagai pelaku hilangnya Omega. Dan dari dalam negeri, beberapa jenderal tua berharap gejolak global ini menjatuhkan Pradipa.
“Negara-negara itu… semakin kasar menyelidiki kita.” kata Pradipa. “Mereka mulai mengirim tim teknis. Beberapa bahkan masuk tanpa izin.”
“Biar saya yang urus,” jawab Seno.
“Bagaimana kamu bisa mengendalikan semua drama ini sendirian?”
Seno menatapnya sebentar, lalu berkata pelan:
“Karena semua sumbernya satu, Pak… Palung Wallace.”
Pada pukul 03.14 waktu setempat, di layar tablet Seno muncul pola geologis aneh. Auto Cloce—sebuah sistem pemantau retakan mikro di dasar laut yang sebelumnya stabil—tiba-tiba berubah warna menjadi jingga. Itu artinya: Energi bawah Palung Wallace mulai bergerak lagi. Bukan dalam bentuk gempa besar. Belum. Melainkan getaran impulsif yang terfokus… seperti ada sesuatu yang mencoba keluar, atau masuk.
Seno menatap pola itu dengan wajah yang sulit dibaca.
“Ini bukan energi alam biasa,” katanya.
“Ada yang memetakan celah-celah Palung Wallace dari kejauhan. Mereka menembusnya dengan sinyal-sinyal resonansi.”
Pradipa mengernyit.
“Siapa?”
“Semua negara besar. Semua yang ingin Omega. Semua yang takut kita punya sesuatu.”
Bahkan Presiden terdiam. Karena dalam data itu, terlihat sesuatu yang lebih aneh: Getaran Auto Cloce tidak hanya menunjukkan peta retakan. Tetapi juga pola simetris—seperti respon balik dari entitas yang tidak diketahui di kedalaman.
Seno berdiri dari kursinya. Matanya tajam, tapi ada sesuatu yang lain—sebuah ketenangan yang bukan milik manusia biasa.
“Pak,” katanya pelan,
“Kalau mereka semua terus memaksa masuk ke Palung Wallace, ini bukan lagi soal drone atau geopolitik.”
“Lalu soal apa?”
Seno menatap ke laut gelap Ambon yang jauh di depan. Seolah ia melihat sesuatu yang bahkan satelit pun tak mampu menangkap.
“Soal menjaga bumi dari sesuatu yang tidak boleh dibangunkan.”
Pradipa merinding.
Pertemuan itu berlangsung singkat. Presiden langsung kembali ke Jakarta. “Jaga dirimu baik-baik. Indonesia hanya punya satu Seno,” kata Presiden Pradipa saat menyalami Seno.
—————————
Laut Banda menjelang subuh terasa seperti dunia yang menahan napas. Tidak ada angin, tidak ada gelombang—seolah seluruh lautan sengaja berhenti bergerak. Pada kedalaman lebih dari 7.000 meter, tempat Palung Wallace membelah dua dunia purba, sesuatu yang selama ribuan tahun hanya diam… mulai berubah.
Seno berdiri di anjungan kecil Satria II, memandangi layar Auto Cloce yang berkedip tidak normal. Garis-garis retakan mikro yang biasanya membentuk pola acak, kini tampil simetris—seperti pola resonansi yang sedang “dibalas” dari bawah.
Collins dari Canberra mengirim pesan terenkripsi: “Seno… apa pun itu, bukan geologi biasa. Kita mendeteksi gelombang subsonik dari kedalaman. Ini seperti… ada sistem yang diaktifkan.”
Seno membalas singkat: “Saya sudah lihat. Wallace Deep sedang bangun.”
Pukul 03.47 WIT, getaran kecil terasa di lambung Satria II. Sonar pasif menangkap suara yang tidak pernah tercatat: Bukan gemuruh tektonik. Bukan suara gunung bawah laut. Bukan suara gunung es retak. Tapi ritmis. Sangat halus, sangat lambat—seperti detak jantung raksasa yang terbangun dari tidur panjang.
“Ini tidak mungkin…” gumam Seno, tapi wajahnya tetap tenang.
Para analis geologi dunia pernah menduga Palung Wallace adalah kombinasi subduksi klasik dengan aktivitas mantel aneh. Namun yang terekam Auto Cloce kini melampaui penjelasan akademik.
Garis resonansi bergerak dari titik terdalam palung ke arah celah-celah yang sedang dipetakan oleh negara-negara besar. Seolah sesuatu sedang “menyentuh balik” sinyal mereka. Itu bukan sekadar respons alam. Itu interaksi.
Washington menerima laporan dari kapal selam kelas Virginia yang memonitor Laut Banda. Getaran misterius itu membuat sistem sonar mereka glitch selama 6 detik—sesuatu yang belum pernah terjadi.
Di Beijing, para ilmuwan militer di Unit 208 Omega Division terkejut ketika frekuensi bawah laut berubah spontan. Sistem analitik model Omega—yang biasanya super stabil—mengalami desinkronisasi, seolah ada gangguan yang memaksa perangkat itu menyesuaikan ulang orientasi.
“Ini bukan kerja manusia,” kata Jenderal Shao dari PLA Navy.
Tokyo dan Canberra ikut panik. Semua data seolah menunjukkan hal yang sama:
Ada aktivasi dari kedalaman bumi yang tidak dikenal. Dan semuanya terjadi setelah Drone Omega hilang.
Di dalam kabin sempit, Seno membuka tas kecil berwarna hitam. Dari dalamnya ia mengeluarkan benda yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun—bahkan kepada Collins. Sebuah batu hitam kecil sebesar kelereng. Permukaannya halus, dingin, dan bila disentuh… seperti berdenyut.
Seno menatapnya lama, lalu meletakkannya di atas modul diagnostik sonar khusus yang dibuat ADF (Australian Defence Force) untuknya.
Presiden Pradipa pernah bertanya asal usul benda itu. Seno hanya menjawab:
“Saya menemukannya bertahun lalu, di dasar Wallace Deep. Waktu itu saya belum tahu apa fungsinya.”
Kini ia tahu.
Saat batu itu mendekati modul sonar, layar Auto Cloce berubah. Garis resonansi yang semula tidak beraturan kini mulai membentuk pola: sebuah lingkaran spiral yang membuka ke dalam.
Collins menghubungi dengan suara bergetar: “Seno… itu pola yang sama seperti di dokumen rahasia intelijen Australia tentang Wallace anomaly. Tapi itu teori gila! Tidak mungkin… tidak mungkin itu nyata.”
Seno hanya berkata: “Wallace Deep bukan sekadar palung. Ini reaktor bumi. Dan seseorang sedang mencoba mengaktifkannya.”
Masih pukul 04.00, namun suhu air laut di kedalaman 7.000 meter meningkat 0,3°C dalam dua menit—keganjilan ekstrem dalam ilmu oseanografi.
Pada sonar, muncul bayangan besar—bukan objek padat, tapi semacam gumpalan energi panas yang bergerak seperti makhluk hidup, perlahan naik dari titik terdalam.
Seno menatapnya tanpa berkedip.
“Bukan makhluk hidup,” katanya.
“Ini pelepasan energi mantel yang mencoba mengisi semua retakan pembuka secara bersamaan.”
“Seperti… reaksi berantai?” tanya petugas teknis Australia di saluran komunikasi.
“Bukan,” jawab Seno.
“Seperti… sistem pertahanan.”
Collins mulai memahami siapa sebenarnya Seno. Di Canberra, dia memantau semua data. Tangannya bergetar. Seno memerintahkannya memutus semua feed data ke Amerika, Jepang, dan bahkan ke Australia sendiri. Collins tidak mengerti—itu berarti ia menghianati perintah negara.
Tapi ia percaya satu hal: Seno lebih paham apa yang terjadi dibanding seluruh badan intelijen di bumi.
Ketika ia melihat pola spiral yang makin aktif, Collins akhirnya berkata pelan: “Seno… jujurlah. Kamu selama ini tahu apa yang ada di bawah Wallace Deep?”
Jawaban Seno tipis, hampir berbisik: “Saya tidak tahu semuanya. Tapi saya tahu cukup untuk mencegah dunia menghancurkan dirinya sendiri.”
Proses “Kebangkitan” pun dimulai. Palung Wallace bergetar. Hanya dua detik, tapi cukup untuk membuat sensor seismik Jepang dan AS mengira ada gempa bawah laut. Getaran itu bukan gempa. Itu adalah pembukaan struktur di kedalaman.
Selama jutaan tahun, Palung Wallace adalah pertemuan dua lempeng. Tapi kini… seolah ada mekanisme yang membuka “engsel” kecil di salah satu sisi. Auto Cloce mengeluarkan alarm merah. ENERGI ANOMALI MENINGKAT – 46%. SIMETRI GELOMBANG MENDEKATI KESEMPURNAAN. PROSES AKTIVASI TERDETEKSI
Seno berdiri, menutup tas hitamnya. Ia menatap dinding laut gelap di luar jendela sonar.
“Baiklah,” gumamnya.
“Kalau kau bangun, aku harus menidurkanmu kembali sebelum mereka semua datang memancing bencana.”
Krisis kini bukan lagi geopolitik, bukan lagi hilangnya drone, bukan lagi konflik negara besar. Ada sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih berbahaya di bawah Wallace Deep.
BERSAMBUNG
EDITOR: REYNA
BACA JUGA:
Novel “Imperium Tiga Samudra” (28) – Operasi Palung Wallace Dimulai
Novel “Imperium Tiga Samudra” (27) – Pertemuan Gelap di Jakarta, Operasi Senyap di Canberra
Novel “Imperium Tiga Samudra” (26) – Negara-Negara Berebut Palung Wallace, Seno Ke Canberra
Related Posts

Menunggu Godot

Novel “Imperium Tiga Samudra” (71) – Perburuan Sunyi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (70) – Di Panggung PBB

Novel “Imperium Tiga Samudra” (69) – Operasi Intelijen di Banda

Novel “Imperium Tiga Samudra” (68) – Menunggu Utusan Datang

Novel “Imperium Tiga Samudra” (67) – 17 Menit Yang Menentukan

Novel “Imperium Tiga Samudra” (66) – Nama Yang Tidak Seharusnya Disebut

Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (64) – Jejak Yang Tertinggal di Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa


Novel "Imperium Tiga Samudra" (30) - Perlombaan Menuju Kedalaman” - Berita TerbaruDecember 17, 2025 at 3:22 pm
[…] Novel “Imperium Tiga Samudra” (29) – Pertemuan Rahasia di Ambon […]