Novel “Imperium Tiga Samudra” (58) – Dari Dinginnya Salju ke Kebun Raya Bogor

Novel “Imperium Tiga Samudra” (58) – Dari Dinginnya Salju ke Kebun Raya Bogor

Oleh: Budi Puryanto

 

Alex Darl, seorang ahli material nomor satu di dunia. Penampilannya tenang, dan analsisinya tajam. Namun, sejak hari itu, kegelisahan tidak pernah benar-benar meninggalkan pikirannya. Dia mengalami kegalauan sejak pulang dari Maroko. Harus merasa senang atau khawatir. 

Dahulu, jika menemukan indikasi material baru, refleksnya sederhana dan nyaris otomatis: verifikasi, tulis makalah, kirim ke jurnal bereputasi, lalu bersiap menghadapi gelombang pujian. Dunia sains modern telah melatihnya demikian. Publikasi adalah legitimasi. Pengakuan adalah mata uang.

Namun kali ini, jalur itu terasa berbahaya. Ia tahu—jika mineral ini diumumkan sekarang, bukan komunitas ilmiah yang pertama bereaksi, melainkan para konglomerat energi. Mereka akan membaca satu hal saja dari temuan ini: potensi. Dan potensi, dalam sistem lama, selalu berarti penguasaan.

Risiko itu terlalu besar.

Maka ia membuat keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: ia pergi sendirian. Tidak membawa sampel besar.Tidak membawa data lengkap. Hanya inti temuan dan keyakinan yang belum sempat dibantah. Tujuannya satu: Berlin.

Kota itu dingin ketika ia tiba. Musim dingin telah memutihkan trotoar, dan salju turun pelan seperti ingin menutup semua suara. Ia berjalan cepat, menembus udara beku, menuju alamat yang hanya diketahui segelintir orang.

Matheus telah menunggu. Mereka bertemu di sebuah ruang kerja kecil—tidak resmi, tidak mewah, hanya meja kayu tua, rak buku penuh catatan tangan, dan jendela besar yang menghadap jalan yang basah oleh salju.

Tidak ada salam panjang.Tidak ada basa-basi.

“Ini nyata,” kata Alex, sang ilmuwan material itu setelah duduk.

“Saya yakin.”

Matheus tidak langsung bertanya. Ia menuangkan teh panas, lalu duduk berhadapan.

“Ceritakan,” katanya singkat.

Diskusi pun dimulai.Bukan diskusi politik.Bukan diskusi etika terlebih dahulu.Melainkan dialog murni dua disiplin: material dan fisika. Alex menjelaskan struktur ikatan yang ia temukan—bukan kovalen, bukan ionik murni, melainkan konfigurasi hibrida yang merespons medan energi secara adaptif. Material itu tidak sekadar menghantarkan energi; ia berinteraksi dengannya.

“Seperti sistem hidup?” tanya Matheus.

“Tidak hidup,” jawabnya cepat.

“Tapi… tidak pasif.”

Ia menjelaskan stabilitasnya di bawah tekanan ekstrem, respons termalnya yang tidak linear, dan kemampuan material itu untuk menyerap lalu melepaskan energi tanpa degradasi struktural.

Matheus mulai menggambar di kertas.Persamaan.Sketsa medan.Kemungkinan resonansi.

Jika ini benar—jika material ini lahir dari reaksi medan energi Wallace Deep—maka ia bukan sekadar mineral baru. Ia adalah manifestasi fisik dari sistem keseimbangan yang selama ini hanya mereka duga.

“Ini bukan sumber energi,” kata Matheus akhirnya, setelah lama terdiam.

“Ini medium.”

Kalimat itu menggantung.

“Medium,” ulang Alex pelan.

“Artinya…?”

“Artinya,” lanjut Matheus, “Jika ini jatuh ke tangan yang salah, mereka akan mencoba memerasnya sebagai baterai, reaktor, atau senjata. Dan mereka akan gagal—dengan cara yang merusak.”

Hujan salju di luar semakin rapat. Sore berubah menjadi senja.

“Kita tidak bisa memublikasikannya,” kata Alex ringan.

“Belum.”

Matheus mengangguk.

“Dan kita tidak bisa menyimpannya sendiri terlalu lama.”

Mereka saling memandang. Di antara mereka, terbentang dilema yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah:
bagaimana melindungi pengetahuan tanpa menguburnya, dan bagaimana membiarkannya tumbuh tanpa segera dimiliki.

“Kita perlu waktu,” kata Matheus.

“Dan kita perlu orang-orang yang tepat.”

Ia tidak menyebut nama. Namun keduanya tahu, satu nama sudah cukup untuk dipikirkan: Seno.

Diskusi sore itu berakhir tanpa keputusan final. Namun satu hal menjadi jelas bagi keduanya: temuan ini akan mengubah dunia— bukan karena kekuatannya, melainkan karena ia memaksa manusia memilih antara mengulang pola lama atau belajar hidup dengan sistem yang tidak bisa dipaksa tunduk.

Ketika Alex melangkah kembali ke jalanan Berlin yang tertutup salju, kegelisahannya belum hilang.
Namun kini, ia tahu satu hal: ia tidak lagi sendirian dalam menahan dunia agar tidak berlari terlalu cepat menuju kesalahan yang sama.

————————————————————————

Hari-hari berlalu. Kedua ilmuwan yang dicengkeram oleh kegalauan itu berangkat bersama, tanpa pengumuman. Tanpa delegasi.Tanpa jejak resmi. Tujuannya satu: Indonesia.

Matheus dan Alex memahami bahwa perjalanan ini tidak boleh tercatat sebagai kunjungan ilmiah biasa. Tidak ada konferensi, tidak ada universitas tujuan. Bahkan tiket pun dibeli melalui jalur yang tidak menarik perhatian.

Alex menggunakan satu-satunya cara yang tersisa—telepon kolega lamanya di Indonesia. Dari sana, satu nama segera muncul di ujung pembicaraan.

Seno.

Kebetulan yang nyaris mustahil: Seno sedang berada di Bogor. Ia mengambil waktu jeda singkat—bukan atas keinginannya sendiri, melainkan karena Presiden Pradipa secara langsung memintanya beristirahat. Seno menurut, meski pikirannya tak pernah benar-benar libur.

Mereka sepakat bertemu di Kebun Raya Bogor.Tempat netral.Terbuka.Namun cukup sunyi untuk percakapan besar.

“Dekat bunga Rafflesia,” kata Seno singkat.

“Kalau mujur, kita bisa melihatnya mekar.”

Pagi itu, udara Bogor lembap dan segar. Pohon-pohon tua berdiri seperti saksi bisu sejarah panjang pengetahuan manusia. Ketiganya berjalan pelan, seolah ingin menyesuaikan langkah dengan ritme alam.

Alex Darl membuka tas kecil yang ia bawa sendiri.

Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kapsul transparan. Di dalamnya: sepotong logam padat.

Warnanya hitam pekat, namun tidak mati. Di permukaannya, tampak kilatan halus—biru, merah, kadang seperti spektrum cahaya yang berpendar singkat lalu menghilang. Bukan refleksi biasa. Seolah logam itu merespons keberadaan di sekitarnya.

“Apa ini sudah dimurnikan?” tanya Seno, matanya tak lepas dari objek itu.

“Sepenuhnya,” jawab Alex.

“Bersih dari ikutan. Struktur kristalnya… belum pernah saya temui sebelumnya.”

Matheus berdiri sedikit di belakang, masih dengan ekspresi yang sama sejak Berlin—kagum, heran, dan waspada sekaligus. Bahkan baginya, sang peraih Nobel Fisika, temuan ini terasa seperti melangkah ke wilayah yang belum memiliki peta.

“Ini bukan turunan mineral mana pun yang kita kenal,” lanjut Alex.

“Saya yakin.”

Seno mengangguk pelan. Ia memandang logam itu cukup lama, lalu berkata dengan suara tenang, seolah sedang menyebutkan sesuatu yang sudah lama ia ketahui.

“Saya menduga,” katanya, “di semua titik anomali—tepat saat kita berdiskusi di Laut Banda—proses serupa terjadi. Tidak hanya di darat, tetapi juga di dasar lautan. Di banyak tempat di bumi.”

Alex dan Matheus saling pandang.

“Mineral ini,” lanjut Seno, “adalah jawaban Wallace Deep atas eksploitasi energi yang berlebihan dan merusak keseimbangan bumi.”

Ia berhenti sejenak.

“Besar kemungkinan, logam ini berfungsi sebagai medium dari pancaran energi elektromagnetik Wallace Deep. Semacam receiver—penangkap—yang mampu mengonversi energi itu menjadi energi listrik, panas, bahkan dingin.”

Wajah Alex dan Matheus mulai berubah.

“Namun,” kata Seno perlahan, “yang harus kita cegah… ia juga bisa menjadi senjata.”

Keduanya terdiam.

“Senjata elektromagnetik,” lanjut Seno, “dengan daya besar, presisi tinggi, dan jangkauan jauh. Jenis senjata yang belum pernah dikenal manusia. Ini masih dugaan, tetapi dugaan yang harus dianggap serius.”

Mata Alex membelalak. Wajah Matheus memerah—antara kegembiraan intelektual dan rasa ngeri akan konsekuensi.

Seno tersenyum tipis.

“Tenang,” katanya.

“Semua teknologi membawa risiko. Yang membedakan selalu manusianya.”

Ia menatap logam itu sekali lagi.

“Dan untuk kasus ini, sumber energinya adalah Wallace Deep. Parameternya belum sepenuhnya dipahami manusia. Itu justru memberi kita kesempatan.”

“Kesempatan?” tanya Alex.

“Mengarahkan pemanfaatannya,” jawab Seno, “sebagai energi alternatif. Mengurangi ketergantungan pada sistem energi lama—yang terbukti merusak dan eksploitatif.”

Matheus akhirnya bicara, suaranya tenang namun penuh rasa ingin tahu.

“Seberapa besar energi yang bisa ditangkap dan diubah menjadi sesuatu yang berguna bagi manusia?”

Seno menoleh padanya.

“Uji di laboratorium,” katanya.

“Satu batang mineral padat ini—sepuluh gram saja. Paparkan dengan gelombang elektromagnetik alami bumi. Ukur daya serap dan konversinya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih dalam:

“Kalau dugaan saya benar, Tuan Matheus dan Tuan Alex akan terkejut.”

“Dan dari sana,” lanjutnya, “silakan pikirkan pengembangannya. Tapi ingat—berhati-hatilah.”

Ketiganya saling memandang.

Di antara rindang pepohonan Kebun Raya Bogor, mereka semua paham: yang mereka pegang bukan sekadar mineral baru, melainkan kunci yang bisa membuka masa depan— atau menghancurkannya.

BERSAMBUNG

 

EDITOR: REYNA

Baca juga:

Novel “Imperium Tiga Samudra” (57) – Pertanda Baru, Sesuatu Akan Lahir

Novel “Imperium Tiga Samudra” (56) – Di Atas Otoritas Negara

Novel “Imperium Tiga Samudra” (55) – Para Ilmuwan Pulang Mendadak

 

 

Last Day Views: 26,55 K