Novel “Imperium Tiga Samudra” (59) – Konstanta Yang Tidak Mau Dimiliki

Novel “Imperium Tiga Samudra” (59) – Konstanta Yang Tidak Mau Dimiliki

Oleh: Budi Puryanto

 

Kebun Raya Bogor mulai lengang ketika matahari bergerak turun di balik kanopi pepohonan tua. Aroma tanah basah dan dedaunan bercampur dengan sisa embun yang belum sepenuhnya menguap. Di bangku kayu dekat jalur Raflesia—yang hari itu tidak mekar—tiga orang masih tenggelam dalam percakapan yang semakin dalam, semakin jauh dari bahasa sains konvensional.

Matheus duduk dengan posisi sedikit condong ke depan, kedua tangannya saling bertaut. Wajahnya—wajah seorang peraih Nobel yang telah puluhan tahun hidup dalam kepastian rumus—menunjukkan sesuatu yang jarang ia izinkan muncul: rasa ingin tahu yang nyaris polos.

“Satu hal yang terus mengganggu saya, Tuan Seno,” katanya akhirnya.

“Jika sumber pancaran gelombang elektromagnetik itu berpusat di Wallace Deep—tunggal, spesifik—bagaimana mungkin logam ini merespons di tempat sejauh Maroko, Eropa, bahkan Amerika? Tidak ada medium penghantar yang kita kenal. Tidak ada jaringan.”

Alex menimpali cepat, hampir tanpa jeda.

“Dan lebih dari itu. Mengapa responsnya stabil? Tidak fluktuatif seperti energi liar. Tidak runtuh seperti resonansi buatan manusia. Ini… terlalu patuh pada keseimbangan.”

Seno tersenyum tipis. Bukan senyum puas, bukan pula senyum misterius. Lebih seperti seseorang yang telah lama menunggu pertanyaan itu akhirnya diucapkan dengan bahasa yang tepat.

“Kalian masih membayangkan Wallace Deep sebagai sumber,” ujar Seno pelan.

“Padahal ia bukan sumber dalam pengertian manusia.”

Matheus mengernyit. “Bukan sumber?”

“Lebih tepat disebut simpul,” lanjut Seno. “Node.”

Ia mengambil sebatang ranting kecil, lalu menggambar lingkaran di tanah lembap. Dari lingkaran itu, ia menarik garis-garis tipis ke segala arah.

“Energi itu tidak dipancarkan seperti menara pemancar radio,” katanya.

“Ia hadir sebagai kondisi medan. Seperti gravitasi. Tidak bergerak dari titik A ke B, tetapi membuat seluruh ruang mengikuti satu keadaan.”

Alex menahan napas.

“Jadi logam ini…”

“…tidak menangkap,” potong Seno lembut.

“Ia menyelaraskan.”

Sunyi sejenak menyelimuti mereka. Bahkan suara serangga pun terasa menjauh.

“Logam itu,” lanjut Seno, “bukan antena. Ia lebih mirip kunci tala. Di mana pun ia berada, selama medan itu ada, ia akan beresonansi—tanpa jarak, tanpa transmisi.”

Matheus menggeleng perlahan, setengah tak percaya.

“Itu melanggar banyak asumsi dasar fisika.”

“Bukan melanggar,” jawab Seno.

“Hanya berada di luar asumsi yang selama ini kalian anggap final.”

Alex menarik napas panjang.

“Kalau begitu, potensi energinya… tidak terbatas oleh lokasi?”

“Dibatasi,” kata Seno cepat.

“Bukan oleh jarak. Tapi oleh satu hal.”

Ia menatap keduanya dengan serius.

“Niat.”

Matheus terdiam.

“Energi ini stabil,” lanjut Seno, “karena ia tidak bereaksi terhadap keinginan untuk menguasai. Ia hanya merespons keberadaan yang selaras. Itulah sebabnya semua percobaan agresif—pengeboran, pemaksaan, simulasi ekstraksi—selalu gagal atau menghasilkan data kosong.”

Alex menelan ludah.

“Dan kalau manusia mencoba mengendalikannya?”

“Medannya tidak runtuh,” jawab Seno.

“Manusianya yang terlempar keluar dari keselarasan.”

Percakapan itu berhenti bukan karena habis, melainkan karena mencapai titik berat yang tidak bisa dilalui dengan kata-kata saja.

Seno berdiri.

“Kalau kalian sungguh ingin memahaminya,” katanya, “datanglah ke Laut Banda. Ke lab kecil saya.”

Matheus dan Alex saling pandang.

“Saya tidak menawarkan presentasi,” lanjut Seno.

“Saya menawarkan pengalaman.”

Tidak ada keraguan di wajah mereka.

“Kami ikut,” kata Alex hampir bersamaan dengan Matheus.

—————————————————————————————————————–

Dua hari kemudian, mereka berdiri di laboratorium kecil di tepi laut Pulau Naira—bangunan sederhana yang nyaris menyatu dengan alam. Tidak ada logo institusi. Tidak ada sistem keamanan mencolok. Hanya jendela besar menghadap laut, meja kayu panjang, dan perangkat-perangkat yang tampak lebih seperti alat observasi ketimbang mesin pengendali.

Seno menyalakan sistem.

Di hadapan mereka, ruang udara seolah dipenuhi lapisan cahaya transparan—visualisasi medan elektromagnetik dalam bentuk tiga dimensi. Grafik-grafik tidak bergerak liar. Mereka berdenyut pelan, seperti napas panjang planet itu sendiri.

“Ini rekam jejak Wallace Deep,” kata Seno.

“Rentang waktunya… sebelum peradaban.”

Matheus terpaku.

“Ini… ribuan tahun?”

“Lebih,” jawab Seno.

“Jauh sebelum manusia menyebut apa pun sebagai energi.”

Alex menunjuk salah satu grafik.

“Pola ini… muncul berulang. Stabil. Tidak meningkat. Tidak menurun.”

“Karena ia dijaga,” kata Seno.

“Dijaga oleh apa?” tanya Matheus.

“Oleh konstanta.”

Seno memunculkan satu parameter di layar—tidak diberi nama matematis, hanya simbol sederhana.

“Inilah yang tidak pernah kalian masukkan dalam persamaan,” katanya.

“Konstanta Stabilitas.”

Alex mendekat.

“Ini bukan konstanta alam yang kami kenal.”

“Karena ia bukan properti materi,” jawab Seno.

“Ia properti relasi.”

“Relasi antara apa?” tanya Matheus.

“Antara keberadaan dan batas,” kata Seno pelan.

“Antara mengambil dan menerima.”

Keduanya terdiam lama.

“Energi ini,” lanjut Seno, “bisa dimanfaatkan manusia. Untuk listrik. Untuk panas. Untuk dingin. Untuk keseimbangan iklim. Macam-macam lainnya.Tapi hanya sejauh manusia tidak mencoba menjadi penguasa sistemnya.”

Alex menatap layar, lalu ke laut di luar jendela.

“Dan kalau dunia tahu?”

Seno tidak langsung menjawab.

“Dunia akan tahu,” katanya akhirnya.

“Tapi tidak sekarang. Dan tidak dengan cara yang mereka inginkan.”

Matheus tersenyum tipis—senyum seorang ilmuwan yang baru sadar bahwa pengetahuan tertinggi bukanlah kontrol, melainkan kerendahan hati.

“Jadi ini bukan revolusi energi,” katanya pelan.

Seno mengangguk.

“Ini koreksi peradaban.”

Di luar laboratorium kecil itu, Laut Banda tetap tenang. Namun bagi dua ilmuwan yang berdiri di dalamnya, satu hal menjadi jelas: untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, energi terbesar di dunia hanya bisa diakses oleh mereka yang bersedia tidak memilikinya.

Dialog mereka bertiga di lab Seno terus berlanjut, mereka benar-benar ingin tahu karaker mineral baru ini. Sepertinya Seno sudah memprediksi akan adanya mineal logam itu. Juga tentang konstanta aneh, menurut dua ilmuwan lainnya.

BERSAMBUNG

 

EDITOR: REYNA

Baca juga:

Novel “Imperium Tiga Samudra” (58) – Dari Dinginnya Salju ke Kebun Raya Bogor

Novel “Imperium Tiga Samudra” (57) – Pertanda Baru, Sesuatu Akan Lahir

Novel “Imperium Tiga Samudra” (56) – Di Atas Otoritas Negara

Last Day Views: 26,55 K