Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa

Oleh: Budi Puryanto

Pesawat melaju menembus malam. Lampu-lampu kota perlahan menghilang di balik awan, seperti peradaban yang sengaja diredupkan. Di ketinggian itu, tanpa sorak, tanpa deklarasi, sebuah peradaban energi baru tumbuh di kepala dua ilmuwan Eropa—bukan sebagai paten, bukan sebagai proyek, melainkan sebagai kesadaran yang tidak bisa dimusnahkan.

Alex duduk diam, kedua tangannya terlipat di atas paha. Sejak roda pesawat terangkat, ia belum mengucapkan sepatah kata pun. Matheus tahu, diam Alex bukan tanda ketenangan, melainkan tanda pikirannya sedang bekerja terlalu keras.

“Apa kau yakin,” Matheus akhirnya membuka suara, “bahwa semua ini benar-benar akan berakhir malam ini?”

Alex tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke jendela, menatap gelap yang seolah tak bertepi.

“Berakhir?” katanya pelan. “Tidak. Justru baru dimulai.”

Matheus menghela napas. “Maksudku… Seno. Lab itu. Tempat itu.”

Alex tersenyum tipis, nyaris getir. “Seno tidak pernah berbicara tentang tempat. Dia selalu bicara tentang fase.”

Hening kembali mengisi kabin. Dengung mesin terasa lebih keras dari seharusnya.

Yang paling merisaukan mereka berdua bukanlah lenyapnya laboratorium itu, melainkan perkataan Seno sebelum perpisahan—ucapan yang terlalu tenang untuk sebuah peringatan, terlalu final untuk sekadar pesan.

Matheus mengingatnya dengan jelas.

Saat itu, Seno berdiri di ambang pintu baja, tubuhnya separuh diselimuti cahaya putih dari dalam lab. Wajahnya tidak menunjukkan kesedihan, juga tidak kegembiraan. Hanya kepastian.

“Masih adakah yang hendak tuan-tuan tanyakan,” kata Seno, “karena belum tentu Tuan bisa berjumpa lagi dengan Seno.”

Nada suaranya datar, seperti seseorang yang sedang menjelaskan prosedur, bukan perpisahan.

“Ya,” kata Matheus waktu itu, suaranya berat. “Tuan Seno belum mengajarkan bagaimana menerapkan sains dan teknologi ini untuk sistem skala besar. Skala wilayah luas, negara, benua, bahkan global. Bukan dalam skala laboratorium seperti yang tuan ajarkan.”

Seno terdiam cukup lama. Alex sempat mengira pertanyaan itu terlalu jauh—melampaui batas yang selama ini tak pernah mereka langgar.

Namun Seno justru tersenyum.

“Itu pertanyaan yang aku tunggu,” katanya. “Aku sudah menemukan persamaan matematika-nya. Aku sudah menemukan konstanta penyelaras untuk sistem skala besar itu.”

Alex langsung menajamkan pandangan. “Konstanta?”

“Bukan konstanta energi,” jawab Seno cepat, seolah membaca pikiran Alex.

“Bukan pula konstanta ruang-waktu. Ini konstanta relasi. Antara sistem, kesadaran, dan skala.”

Matheus mengerutkan kening. “Lalu mengapa tidak tuan ajarkan sekarang?”

Seno menggeleng pelan. “Karena belum waktunya. Dan karena tempat ini sudah tidak aman untuk menyimpannya.”

“Tidak aman bagi siapa?” tanya Alex.

“Bagi dunia,” jawab Seno singkat.

Seno kemudian melangkah mendekat, suaranya diturunkan, hampir berbisik.

“Pada saatnya tuan-tuan membutuhkan itu, akan ada orang yang menemui anda. Entah di Berlin, di Amsterdam, atau di tempat lain. Tetapi yang jelas, tidak di tempat ini.”

“Maksud Tuan Seno?” kata Alex dan Matheus hampir bersamaan.

Wajah Seno mengeras. “Tempat ini akan segera tiada. Anggaplah Tuan tidak pernah melihat tempat ini. Tuan-tuan orang pertama dan terakhir yang melihat tempat ini. Besok, tempat ini sudah tidak ada. Dan dianggap tidak pernah ada.”

Matheus ingat betul detik itu. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Dan Tuan Seno?” tanya Alex pelan.

“Mungkin Seno tidak ada lagi,” jawab Seno tanpa ragu. “Lab ini terlalu berbahaya saat ini. Juga untuk tuan-tuan.”

Kembali ke dalam pesawat, Matheus membuka mata. Kenangan itu terasa terlalu nyata.

“Dia tidak terdengar seperti orang yang takut,” kata Matheus. “Dia terdengar seperti orang yang sudah selesai.”

Alex membuka map hitam di tasnya. Di dalamnya, tidak ada dokumen resmi. Tidak ada penjelasan lengkap. Hanya fragmen—diagram yang tidak lengkap, simbol-simbol aneh, dan satu persamaan matematika yang ditulis tangan oleh Seno.

“Konstanta penyelaras. Tapi tidak ada penjelasan lengkapnya. Hanya simbul. Juga persamaan ini, saya baru mengenalnya sekarang,” gumam Alex.

Matheus mencondongkan badan. “Apa kau mengerti sepenuhnya?”

Alex menutup map itu perlahan. “Aku mengerti cukup untuk tahu bahwa ini berbahaya. Selebihnya, Tuan Seno yang memahami.”

“Seberapa berbahaya?”

“Jika salah diterapkan,” jawab Alex, “Ini bisa menyelaraskan sistem energi. Tapi juga bisa menyelaraskan keputusan. Preferensi. Bahkan arah sejarah.”

Matheus terdiam. “Itu berarti—”
“—ini bukan lagi soal energi semata,” potong Alex. “Ini soal siapa yang mengatur denyut peradaban.”

Pesawat sedikit berguncang. Lampu sabuk pengaman menyala. Matheus tersenyum pahit.

“Sekarang aku mengerti mengapa Seno memilih menghilang.”

Alex mengangguk. “Dia tahu, orang seperti dia tidak boleh menjadi pusat.”

“Dan kita?”

Alex menatap Matheus lama. “Kita hanya pembawa.”

Di bawah mereka, tiga samudra terbentang—Atlantik, Hindia, dan Pasifik—terhubung oleh jalur perdagangan, kabel bawah laut, dan sistem energi yang rapuh. Dunia tampak besar, tetapi sesungguhnya sangat mudah diselaraskan.

Matheus bersandar, menutup mata. “Dia bilang seseorang akan menemui kita.”

Alex menjawab pelan, hampir seperti pada dirinya sendiri, “Peradaban selalu mengirim utusannya saat sudah terlalu terlambat untuk mundur.”

“Alex, aku lupa menanyakan satu hal kepada Tuan Seno,” kata Matheus lirih.

“Bagaimana dia mempelajari semui ini?” lanjut Matheus seperti bergumam untuk dirinya sendiri.

“Iya, tetapi semua itu sudah tidak diperlukan lagi. Karena dengan keikhlasan tinggi dia sudah menyerahkan pengetahuannya kepada kita,” jawab Alex.

“Belum semua,” sanggah Matheus.

“Konstanta penyelaras sistem skala besar?”

“Iya. Memang simbul dan persamaannya sudah ditulisnya. Tetapi bagaimana mengoperasikaannya belum dia ajarkan. Jujur Alex, ilmuku tidak mampu memahami persamaan yang ditulisnya. Di map hitam yang kau bawa itu. Formula persamaan dan simbulnya semua asing bagiku,” kata Matheus.

Alex tersenyum, seperti orang yang sudah paham persamaan dan konstanta itu.

“Alex, mengapa kau tampak senang dan tersenyum. Apakah Tuan Seno telah menjelaskan kepadamu penerapan konstanta penyelaras sistem skala besar?’ desak Matheus.

“Jangan curiga Profesor. Bukankan kita selalu bersama. Bagaimana mungkin saya mendapatkan penjelasan tanpa ada Tuan Matheus??,” gurau Alex, yang membuat Matheus tersenyum.

“Apakah kau lupa, bukankah Tuan Seno sudah berjanji akan menjelaskan kepada kita, bila waktunya tiba. Bila dunia telah siap menerima,” jawa Alex santai.

“Ya. aku ingat,” jawab Matheus singkat, senyum bahagia tersungging di bibir ilmuwan besar Eropa itu.

Mendadak suasana sepi. Kedua ilmuwan itu tidur terlelap, bergumul dengan konstanta dan persamaan yang belum dia pahami.

Sementaar itu, jauh di tempat yang tak lagi ada, dipinggir Laut Banda, struktur terakhir laboratorium itu runtuh ke dalam dirinya sendiri. Tidak ada ledakan. Tidak ada sisa. Bahkan koordinatnya tidak lagi valid. Seolah tempat itu tidak pernah ada. Dan mungkin, memang seharusnya begitu.

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA

Baca juga:

Novel “Imperium Tiga Samudra” (62) – Tiga Hari Yang Tidak Bisa Diulang

Novel “Imperium Tiga Samudra” (61) – Ruang Yang Sudah Menunggu

Novel “Imperium Tiga Samudra” (60) – Mineral Baru Yang Tidak Mau Dinamai

 

 

Last Day Views: 26,55 K