Oleh: Budi Puryanto
Kepergian Matheus dan Alex dari Eropa tidak pernah diumumkan. Tidak ada out of office reply. Tidak ada catatan perjalanan resmi. Bahkan tidak ada jejak administratif yang lazim bagi dua ilmuwan yang selama bertahun-tahun hidup di bawah protokol institusional paling ketat.
Mereka tidak ijin karena memang tidak berniat menjelaskan.
Di komunitas riset energi Eropa, ketidakhadiran mereka langsung terasa—bukan karena jabatan formal, melainkan karena keduanya adalah simpul tak tertulis. Nama mereka jarang muncul di laporan publik, tetapi selalu disebut dalam rapat tertutup, diskusi teknis yang berujung keputusan politik, dan pertemuan-pertemuan yang tidak tercatat dalam notulen.
Hari pertama mereka menghilang, itu dianggap gangguan kecil. Hari ketiga, mulai muncul email yang tidak dijawab.
Hari ketujuh, keresahan berubah menjadi spekulasi.
“Apakah mereka direkrut?”
“Apakah ini proyek Amerika?”
“Atau Cina?”
Tidak ada yang menyebut Indonesia. Terlalu jauh dari radar mereka.
Namun di antara para ilmuwan senior—mereka yang sudah lama memahami bahwa energi bukan soal teknologi, melainkan pengaruh—mulai muncul dugaan lain. Dugaan yang tidak nyaman.
Matheus dan Alex adalah bagian dari konsorsium riset lintas-negara yang secara diam-diam menjadi ruang negosiasi antara sains, pasar, dan kekuasaan. Kepergian mereka berarti satu hal: ada informasi, atau kemungkinan, yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Di sisi lain kota—di kantor-kantor kaca yang menghadap sungai Rhein dan kanal-kanal Amsterdam—kegelisahan jauh lebih kasat mata.
Para pengusaha energi Eropa, mereka yang mengendalikan jaringan energi, minyak, gas, gas, nuklir, dan distribusi lintas-negara, merasakan kekosongan itu sebagai ancaman langsung. Matheus adalah jembatan antara teori dan penerapan. Alex adalah penafsir data yang sering kali “terlalu tepat” dalam membaca arah sistem.
Ketika dua orang itu lenyap bersamaan, alarm tak tertulis berbunyi.
Penyelidikan dimulai secara informal. Bukan lewat intelijen negara—itu terlalu kasar. Melainkan lewat jaringan lama: konsultan penerbangan, penyedia data satelit komersial, firma analitik logistik, bahkan pelacakan pola transaksi akademik.
Tidak ada hasil yang jelas. Tapi ada satu anomali kecil.
Jejak perjalanan yang berhenti di Asia Tenggara. Beberapa koneksi akademik lama yang kembali aktif. Dan satu nama yang tidak muncul di dokumen resmi, tapi berulang kali disebut dalam percakapan tertutup:
Indonesia.
“Itu tidak masuk akal,” kata seorang eksekutif energi Jerman dalam sebuah rapat kecil.
“Justru karena itu masuk akal,” jawab yang lain.
Indonesia bukan pusat energi global. Namun ia berada di ambang: sumber daya besar, sistem belum sepenuhnya terkunci, dan—yang paling mengkhawatirkan—terlalu banyak variabel yang belum dipetakan.
Ketika Matheus dan Alex akhirnya kembali ke Eropa, mereka tidak disambut sebagai kolega yang pulang dari perjalanan riset.
Mereka disambut sebagai anomali berjalan.
Pertemuan pertama diatur cepat. Terlalu cepat untuk ukuran Eropa. Ruangan tertutup. Wajah-wajah yang biasanya tersenyum profesional kini dingin dan penuh kalkulasi.
Pertanyaannya tidak langsung.Tidak frontal. Tapi mengelilingi, seperti interogasi yang menyamar sebagai diskusi ilmiah.
“Kami dengar Anda sempat ke luar rute penelitian biasa.”
“Apakah ada kolaborasi baru yang perlu kami ketahui?”
“Apakah ada temuan yang belum masuk ke sistem pelaporan?”
Matheus menjawab dengan tenang. Terlalu tenang. Alex lebih banyak diam. Mencatat. Mengamati siapa yang bertanya, dan siapa yang hanya mendengar.
Mereka tidak menyangkal. Mereka juga tidak mengonfirmasi.
Itu justru yang membuat situasi memburuk.
Para pengusaha energi menyadari satu hal yang menakutkan: Matheus dan Alex telah melihat sesuatu—atau seseorang—yang membuat mereka tidak lagi bermain dalam logika lama.
Dan di Eropa, perubahan sikap adalah indikator paling awal dari perubahan sistem.
Sejak hari itu, setiap langkah mereka diawasi. Setiap kalimat ditimbang. Setiap diam dicurigai.
Namun tak seorang pun menyadari satu detail kecil yang terlewat:
Matheus dan Alex tidak kembali membawa jawaban. Mereka kembali membawa kosep ambang, sesuatu yang belum dipahami benar dikalangan ilmuwan Eropa.
Dan Eropa—dengan segala stabilitasnya—belum menyadari bahwa ia sedang berdiri terlalu dekat dengannya.
———————————————-
Mereka tidak pernah menyukai ruangan ini. Terlalu kecil untuk orang-orang yang terbiasa mengendalikan negara dari balik grafik dan proyeksi.
Meja kayu tua. Jendela menghadap kanal. Tirai ditutup separuh—bukan untuk privasi, melainkan kebiasaan. Di ruangan ini, tidak ada ponsel. Tidak ada asisten. Tidak ada notulen. Semua keputusan penting selalu dimulai di tempat seperti ini.
“Dua minggu,” katanya, memecah keheningan. “Dua minggu tanpa jejak yang bisa diverifikasi.”
Tidak ada yang bertanya siapa yang ia maksud. Nama Matheus dan Alex tidak perlu disebut. Menyebut nama justru memberi mereka bobot yang berlebihan.
Seorang pria Prancis di seberang meja menghela napas. “Mereka ilmuwan. Ilmuwan suka menghilang.”
“Itu mitos,” jawabnya cepat. “Ilmuwan modern hidup dari keterhubungan. Jika dua simpul utama terputus bersamaan, itu bukan kebetulan.”
Ia menekan tombol kecil di meja. Layar menyala, menampilkan peta jaringan energi Eropa—garis-garis biru dan merah saling bersilangan, stabil, terlalu stabil.
“Kalian lihat ini?” katanya. “Efisiensi naik sepersekian persen. Beban puncak turun tanpa instruksi pasar. Negara-negara mulai membuat keputusan yang… terlalu selaras.”
“Bukankah itu kabar baik?” tanya seseorang dari sudut ruangan.
Ia tersenyum tipis. Senyum orang yang tahu harga stabilitas.
“Tidak jika kita tidak tahu siapa yang memainkannya.”
Ruangan kembali sunyi.
Pria dari Belanda akhirnya berbicara. “Kami melacak perjalanan mereka. Tidak ada tiket resmi. Tidak ada kontrak riset baru. Tapi ada jejak yang… ganjil.”
Ia mencondongkan badan. “Lanjutkan.”
“Asia Tenggara. Beberapa titik berhenti yang tidak tercatat. Dan satu negara yang terus muncul dalam percakapan latar.”
Ia merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan ketakutan. Lebih seperti firasat buruk yang terlambat dikenali.
“Indonesia,” katanya pelan.
Tidak ada yang membantah.
Seorang eksekutif senior menggeleng. “Itu tidak masuk akal. Mereka tidak punya infrastruktur—”
“—Justru itu,” potongnya. “Mereka belum terkunci. Sistem mereka masih cair. Ambang mereka belum ditetapkan.”
Kata itu keluar begitu saja. Ambang.
Ia sendiri tidak tahu dari mana ia mempelajarinya.
Ia berdiri, berjalan ke jendela, mengintip celah tirai. Kanal mengalir seperti biasa. Kota berfungsi. Sistem bekerja.
“Jika Matheus dan Alex membawa sesuatu dari sana,” katanya tanpa menoleh, “maka ini bukan soal kompetisi energi lagi.”
“Lalu soal apa?” tanya seseorang.
Ia menutup tirai sepenuhnya.
“Soal apakah kita masih mengendalikan sistem… atau hanya menjadi bagian dari sesuatu yang sedang menyelaraskan dirinya sendiri.”
Tidak ada keputusan diambil hari itu. Tapi semua orang di ruangan itu tahu satu hal: Untuk pertama kalinya dalam karier mereka, pasar bukan lagi medan utama. Dan mereka—yang selama ini terbiasa mengatur arus—baru menyadari bahwa arus bisa memilih jalannya sendiri.
BERSAMBUNG
EDITOR: REYNA
Baca juga:
Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa
Novel “Imperium Tiga Samudra” (62) – Tiga Hari Yang Tidak Bisa Diulang
Nove l”Imperium Tiga Samudra” (61) – Ruang Yang Sudah Menunggu
Related Posts

Menunggu Godot

Novel “Imperium Tiga Samudra” (71) – Perburuan Sunyi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (70) – Di Panggung PBB

Novel “Imperium Tiga Samudra” (69) – Operasi Intelijen di Banda

Novel “Imperium Tiga Samudra” (68) – Menunggu Utusan Datang

Novel “Imperium Tiga Samudra” (67) – 17 Menit Yang Menentukan

Novel “Imperium Tiga Samudra” (66) – Nama Yang Tidak Seharusnya Disebut

Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (62) – Tiga Hari Yang Tidak Bisa Diulang


Novel "Imperium Tiga Samudra" (65) - Matheus dan Alex Dinterograsi - Berita TerbaruJanuary 24, 2026 at 10:01 am
[…] Novel “Imperium Tiga Samudra” (64) – Jejak Yang Tertinggal di Eropa […]