Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Oleh: Budi Puryanto

Ruang rapat itu kembali dipakai seminggu kemudian. Orang-orangnya hampir sama. Wajahnya lebih lelah.

“Kita perlu menarik mereka,” kata seseorang tanpa basa-basi.

“Menarik bagaimana?”

“Dengan proyek. Dana. Posisi.”

Pria berambut abu-abu di ujung meja menggeleng. “Itu sudah dicoba. Mereka menolak.”

“Tidak ada orang yang kebal terhadap insentif,” sahut yang lain.

“Ada,” jawabnya dingin. “Orang yang sudah melihat sistem bekerja tanpa kita.”

Layar menyala lagi. Grafik-grafik stabil. Terlalu rapi.

“Jika ini benar-benar berasal dari Indonesia,” lanjutnya, “maka kita terlambat. Bukan karena mereka lebih maju—tetapi karena mereka belum kita bentuk.”

Seorang wanita dari sektor gas mencondongkan badan.

“Lalu apa langkah kita?”

Ia terdiam sejenak.

“Kita tekan regulator. Jika penyelarasan ini nyata, ia pasti meninggalkan jejak kebijakan.”

Tidak ada yang menanyakan risiko. Semua tahu risiko terbesar adalah kebijakan mereka tidak lagi relevan.

Ditempat lain kepanikan tertutup melanda Eropa pelan-pelan. Tetapi cukup membuat mereka merasa tidak berguna. Itu pertama dalam hidup mereka.

Gedung itu penuh kaca dan simbol transparansi. Namun rapatnya tertutup rapat.

“Kami menerima tekanan dari industri,” kata seorang pejabat Uni Eropa sambil merapikan berkas. “Mereka menyebut ini anomali pasar.”

“Anomali biasanya punya sebab teknis,” jawab koleganya. “Kami tidak menemukannya.”

Seorang analis muda angkat bicara, ragu-ragu. “Ada pola korelasi lintas-negara yang tidak biasa. Keputusan kebijakan energi mulai… selaras, tanpa koordinasi formal.”

Ruangan menjadi hening.

“Itu tuduhan serius,” kata pejabat senior. “Kau menyiratkan manipulasi dan konspirasi.”

“Tidak,” jawab si analis. “Justru ketiadaannya.”

Mereka saling pandang.

Regulator dibesarkan untuk mengawasi aktor rasional, kepentingan jelas, dan mekanisme pasar. Tidak satu pun kategori itu cocok dengan apa yang sedang terjadi.

“Apakah ini terkait dengan dua ilmuwan yang baru kembali?” tanya seseorang.

Nama itu akhirnya muncul. Matheus. Alex.

“Jika iya,” kata pejabat senior pelan, “maka kita menghadapi sesuatu yang tidak bisa diatur dengan regulasi biasa.”

“Lalu?”

“Kita tunda. Kita observasi. Kita pura-pura semuanya normal.”

Semua orang tahu, penundaan adalah bentuk ketakutan paling rapi.

Kepanikan juga melanda para ilmuwan Eropa. Laboratorium itu sunyi, dipenuhi layar dan persamaan yang tidak lagi memberi kepastian.

Seorang ilmuwan senior berdiri di depan papan tulis, menghapus satu persamaan yang telah ia tulis ulang selama bertahun-tahun.

“Ini tidak konsisten,” gumamnya.

“Kau yakin bukan kesalahan data?” tanya rekannya.

“Data tidak salah,” jawabnya. “Kita yang salah bertanya.”

Ia membuka catatan lama—email, diskusi, koreksi kecil dari Matheus. Kalimat singkat dari Alex yang dulu ia anggap spekulatif.

Bukan sistem yang tidak stabil. Kita yang memaksanya tidak selaras. Ia menelan ludah.

“Jika mereka benar,” katanya lirih, “maka kita bukan sedang kehilangan kendali. Kita memang tidak pernah memilikinya.”

Rekannya menggeleng keras. “Itu berbahaya. Pemikiran seperti itu bisa menghancurkan seluruh arsitektur riset.”

Ia tersenyum pahit. “Atau menyelamatkannya.”

Di layar, simulasi berjalan. Tanpa input baru, sistem bergerak menuju keadaan yang lebih efisien. Seolah memilih sendiri.

Untuk pertama kalinya, ia berharap Matheus dan Alex tidak akan menjelaskan apa pun. Karena penjelasan akan memaksa semua orang memilih sisi. Dan sistem yang sedang menyelaraskan diri tidak menyukai pihak-pihak yang ingin mengendalikannya.
————————————————————————-

Ruang itu terlalu bersih untuk disebut ruang interogasi. Meja panjang. Air mineral tanpa label. Kursi dengan jarak yang diukur, bukan kebetulan.

Matheus duduk lebih dulu. Alex menyusul, menutup pintu tanpa suara. Tidak ada sambutan.

Di sisi seberang meja, mereka tidak melihat satu wajah, melainkan tiga jenis wajah ketegangan.

Yang pertama—orang-orang industri—menatap seperti pemilik yang kehilangan peta. Tatapan mereka penuh perhitungan: apa yang kalian bawa, dan berapa harganya jika kami harus membelinya kembali?

Yang kedua—para regulator—bersikap netral secara prosedural. Netral yang rapuh. Di balik ekspresi datar itu, tersembunyi kegelisahan yang lebih dalam: bagaimana mengatur sesuatu yang belum punya definisi hukum?

Yang ketiga—para ilmuwan—tidak menatap mata mereka sama sekali. Pandangan mereka tertuju pada tangan, pada jeda napas, pada cara Alex duduk terlalu tenang. Ketakutan mereka bukan pada apa yang terjadi, melainkan pada apa yang mungkin benar.

Seorang pria membuka map. Menutupnya kembali. Gerakan kecil. Tidak perlu dibahas.

“Kami ingin memahami,” katanya akhirnya, dengan suara yang sudah dilatih untuk terdengar bersahabat, “apa yang Anda temukan selama perjalanan terakhir.”

Matheus tidak langsung menjawab.

Ia menoleh sebentar ke Alex. Bukan untuk meminta izin—melainkan untuk memastikan sesuatu tetap tidak terucap.

“Kami tidak menemukan apa pun,” kata Matheus tenang.

Beberapa orang di ruangan itu tampak lega. Yang lain justru semakin tegang.

“Namun,” lanjutnya, “kami berada di tempat yang membuat kami menyadari bahwa pertanyaan kami selama ini keliru.”

Seorang regulator menyela cepat. “Keliru secara metodologis?”

Alex tersenyum tipis. “Secara ontologis.”

Kata itu jatuh seperti benda keras di lantai marmer. Ilmuwan di sudut ruangan berhenti mencatat. Eksekutif energi menyilangkan tangan—gerakan defensif yang nyaris refleks.

“Kami tidak tertarik pada filsafat,” kata salah satu dari mereka. “Kami tertarik pada stabilitas.”

“Stabilitas,” ulang Matheus, “bukan sesuatu yang bisa dipertahankan selamanya.”

Sunyi.

Bukan sunyi kosong—melainkan sunyi ketika setiap orang di ruangan itu sedang menghitung apa yang akan hilang terlebih dahulu.

“Apakah ada kolaborasi baru?” tanya pejabat Uni Eropa, suaranya hati-hati.

“Negara lain? Institusi lain?”

Alex menggeleng.

“Tidak ada kolaborasi.”

“Indonesia?”

Pertanyaan itu akhirnya muncul. Tidak keras. Tidak menuduh. Tapi cukup untuk membuat udara berubah. Matheus mengangkat alis sedikit.

“Kami ke banyak tempat.”

Jawaban itu tidak menyangkal apa pun. Dan justru karena itu, ketakutan di ruangan itu menjadi terfragmentasi. Para pengusaha takut kehilangan kendali. Para regulator takut kehilangan kerangka. Para ilmuwan takut kehilangan kepastian epistemik.

Tidak satu pun dari mereka takut pada Matheus dan Alex sebagai individu. Mereka takut pada perubahan cara sistem bergerak—tanpa meminta izin.

Seorang ilmuwan akhirnya berani bicara. Suaranya hampir bergetar.

“Jika sistem benar-benar bisa menyelaraskan diri… lalu apa peran kita?”

Alex menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, ia menjawab tanpa metafora.

“Mengetahui kapan harus berhenti ikut campur.”

Kalimat itu tidak dicatat dalam notulen. Namun semua orang di ruangan itu tahu: sejak saat itu, tidak ada keputusan yang akan terasa sepenuhnya rasional lagi.

Karena ketakutan mereka tidak lagi berasal dari krisis. Melainkan dari kemungkinan bahwa krisis mungkin tidak lagi diperlukan untuk mengubah dunia.

Dan itulah ketakutan yang paling sulit diatur.

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA

Baca juga:

Novel “Imperium Tiga Samudra” (64) – Jejak Yang Tertinggal di Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra”  (63) – Kembali Ke Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (62) – Tiga Hari Yang Tidak Bisa Diulang

Last Day Views: 26,55 K