Novel “Imperium Tiga Samudra” (66) – Nama Yang Tidak Seharusnya Disebut

Novel “Imperium Tiga Samudra” (66) – Nama Yang Tidak Seharusnya Disebut

Oleh: Budi Puryanto

Tidak ada yang langsung menyebut nama itu.

Seperti kata terlarang, ia berputar-putar lebih dulu di udara—di antara jeda, tatapan, dan napas yang ditahan terlalu lama.

Seorang pria dari kalangan industri energi akhirnya berbicara. Suaranya tidak tinggi, tapi tegas. Suara orang yang terbiasa didengar.

“Kami tidak keberatan dengan ketidaklengkapan informasi,” katanya. “Kami keberatan dengan ketidakjujuran.”

Alex mengangkat kepala. Matheus tetap menatap meja.

“Kalian pergi tanpa pemberitahuan,” lanjut pria itu. “Kembali dengan sikap yang berubah. Dan sekarang meminta kami percaya bahwa tidak ada apa pun yang terjadi?”

Seorang regulator ikut masuk, lebih dingin.

“Ada nama yang muncul dalam penyelidikan kami. Nama lama. Nama yang seharusnya sudah tidak relevan.”

Matheus akhirnya menoleh.

“Nama tidak pernah benar-benar tidak relevan,” katanya pelan.

Pria itu menarik napas. Lalu menyebutnya.

“Seno.”

Ruangan bereaksi seketika—bukan dengan suara, melainkan dengan tubuh.
Beberapa ilmuwan menegang. Seorang pejabat Uni Eropa menunduk, seolah berharap nama itu tidak bergema terlalu jauh.

Para pengusaha justru memperhatikan, seperti pemburu yang akhirnya melihat jejak darah.

“Kami ingin kejujuran,” kata pria itu. “Apakah kalian menemuinya?”

Sunyi.

Bukan sunyi menunggu jawaban.

Melainkan sunyi ketika semua orang tahu jawaban apa pun akan berbahaya.
Alex menyandarkan tubuh ke kursi.

“Jika kami menjawab ‘ya’,” katanya tenang, “apa yang akan kalian lakukan?”

Pertanyaan itu tidak tercantum dalam skenario.

“Kami akan menindaklanjuti,” jawab regulator cepat. Terlalu cepat.

“Menindaklanjuti apa?” tanya Alex.

“Seseorang yang tidak memegang jabatan? Tidak terdaftar dalam lembaga mana pun? Tidak bisa dipanggil secara hukum?”

Seorang pengusaha menyela tajam.

“Kami bisa menutup akses kalian. Dana riset. Jaringan. Kredibilitas.”

Matheus tersenyum tipis untuk pertama kalinya. Bukan senyum mengejek. Senyum orang yang akhirnya memastikan sesuatu.

“Itulah sebabnya,” katanya, “Seno menghilang.”

Kalimat itu seperti pisau kecil—tidak melukai, tapi membuat semua orang sadar bahwa mereka berdiri terlalu dekat.

“Kalian menganggap ini permainan pengaruh,” lanjut Matheus.

“Insentif. Tekanan. Kontrol. Tapi yang kami temui—atau tidak temui—bekerja di luar logika itu.”

“Kau menghindar,” kata pria industri itu, nadanya mengeras.

“Kami bertanya sederhana. Apakah kalian bertemu Seno?”

Alex dan Matheus saling pandang. Bukan konspiratif. Sinkron.

“Kami tidak akan menjawab pertanyaan itu,” kata Alex akhirnya.

Beberapa orang berdiri setengah. Seorang pejabat memukul meja—pelan, tapi cukup untuk terdengar.

“Ini bukan pilihan,” katanya.

“Ini kewajiban.”

Alex mengangguk. “Benar. Dan di situlah masalahnya.”

Ia berdiri. Matheus mengikutinya.

“Kalian masih berpikir kewajiban adalah alat,” kata Alex.

“Padahal ia hanya bekerja selama sistem percaya bahwa ia perlu dikendalikan.”

Regulator itu menunjuk ke arah mereka. “Jika kalian pergi sekarang—”
“—maka kalian tidak akan kehilangan apa pun yang sudah tidak kalian pegang,” potong Matheus lembut.

Ruangan itu membeku. Bukan karena ancaman. Melainkan karena ketepatan diagnosis.

Seorang ilmuwan di sudut ruangan berbisik, hampir tak terdengar,

“Mereka tidak melindungi Seno.”

Alex menoleh padanya. “Tidak,” katanya. “Kami melindungi ambang.”

Ia membuka pintu. Berhenti sejenak.

“Seno tahu,” lanjutnya tanpa menoleh, “orang pertama yang dipaksa jujur tentang penyelarasan… adalah orang terakhir yang bisa dipercaya menggunakannya.”

Pintu tertutup. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang memanggil. Karena semua orang di ruangan itu baru menyadari satu hal yang sama—dengan ketakutan yang berbeda: Pemaksaan telah gagal.

Dan kegagalan itu bukan akhir konflik. Ia adalah tanda bahwa sistem sudah bergerak terlalu jauh untuk ditarik kembali.

Di luar ruangan, jam gedung berdentang. Waktunya tepat. Sinkron. Tanpa satu pun keputusan diambil.

——————————————————————————————————————————————

Memo itu ditemukan secara tidak sengaja. Bukan oleh Matheus. Bukan oleh Alex.

Melainkan oleh seorang analis muda yang sedang membersihkan arsip digital lama—server yang nyaris dipensiunkan karena dianggap tidak lagi relevan.

File itu tidak diberi judul yang mencolok. Hanya rangkaian angka dan satu kata: draft. Isinya singkat. Terlalu singkat untuk ukuran seseorang yang dikenal obsesif pada detail.

Jika sistem energi mulai menunjukkan efisiensi tanpa intervensi kebijakan,
jika keputusan lintas-negara mulai beresonansi tanpa koordinasi formal,
maka konstanta penyelaras sudah melewati fase eksperimental.

Analis itu membaca ulang. Mengernyit. Tanggal pada memo itu—bertahun-tahun sebelum anomali pertama tercatat secara resmi.

Ia menggulir ke bawah.

Kesalahan terbesar bukan menciptakan penyelarasan, melainkan mengira ia bisa dimiliki. Pada titik ambang, semua aktor—negara, pasar, ilmuwan—akan mencoba mengklaim kendali. Itu momen ketika penciptanya harus menghilang.

Tidak ada tanda tangan. Tapi gaya bahasanya terlalu dikenal. Seno.

Memo itu tidak pernah dikirim. Tidak tercatat dalam sistem distribusi internal. Seolah-olah ditulis bukan untuk dibaca—melainkan untuk diingat.

Beberapa jam kemudian, file lain terbuka. Rekaman suara. Durasi: 1 menit 17 detik. Suara di dalamnya tenang, nyaris lelah.

“Jika kalian mendengar ini, berarti aku sudah melakukan kesalahan kecil.”
“Bukan pada perhitungannya—tetapi pada waktunya.”
“Penyelarasan tidak bisa dipercepat tanpa memicu perlawanan.”
“Dan perlawanan tidak datang dari kekacauan, melainkan dari mereka yang merasa paling stabil.”

Ada jeda.Suara napas.

“Matheus akan mengerti lebih cepat.”
“Alex akan diam lebih lama.”
“Itu bukan kebetulan.”
“Itu desain.”

Rekaman berhenti begitu saja. Tidak ada instruksi lanjutan. Tidak ada koordinat.
Tidak ada permintaan tolong.

Namun yang paling mengganggu bukan isi memo atau rekaman itu. Melainkan satu lampiran terakhir. Grafik prediksi.

Kurva-kurva sederhana, digambar tanpa hiasan. Di salah satu sumbu waktu, sebuah titik kecil diberi catatan tangan: Interogasi.

Analis itu menelan ludah. Titik itu—jatuh tepat pada hari ini. Ia menutup file. Tidak melaporkannya. Belum.

Karena untuk pertama kalinya sejak bekerja di sistem itu, ia menyadari sesuatu yang membuatnya ragu pada seluruh pelatihan yang pernah ia terima: Yang sedang terjadi bukan krisis yang gagal diprediksi.

Ia adalah kesalahan prediksi yang akhirnya terbukti benar. Dan Seno—dengan seluruh ketidakhadirannya—ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya berhenti menjadi aktor. Dan memilih menjadi ambang. Namun dampaknya tak terelakkan: satu peristiwa kecil yang membuktikan memo Seno benar—dan membuat semua pihak panik karena sadar mereka sudah terlambat.

BERSAMBUNG

EDITOR: REYNA
Baca juga:

Novel “Imperium Tiga Samudra” (65) – Matheus dan Alex Dinterograsi

Novel “Imperium Tiga Samudra” (64) –  Jejak Yang Tertinggal di Eropa

Novel “Imperium Tiga Samudra” (63) – Kembali Ke Eropa

 

Last Day Views: 26,55 K