Oleh: Ahmad Cholis Hamzah
Sudah banyak para Kiai, Ustadz, Guru, Ilmuwan Islam dsb menjelaskan tentang banyaknya manfaat yang diperoleh seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa terutama dalam perspektif kesehatan, spiritual dan sosial. Ada juga dalam perspektif kesetiawanan sosial terutama sikap empati terhadap sesama atau sikap merasakan apa yang dirasakan orang lain misalkan kesedihan dan penderitaan.
Dalam konteks situasi saat ini di Indonesia, kita bisa mendengar dan membaca berita tentang seorang ibu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada bulan September 2025 mengakhiri hidupnya dan kedua anaknya, diduga karena impitan ekonomi yang mendera. Ada lagi kisah pilu menimpa Najwa (8) bocah perempuan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang tewas usai ditabrak alat berat saat berjualan tisu. Sebelum kejadian, Najwa sempat berpamitan kepada ibunya dengan janji akan pulang membawa beras untuk makan bersama keluarga. “Saat pamit, dia bilang, ‘Mak tunggumi, saya bawa pulangkan kita beras sama uang yang banyak’,” ujar ibu Najwa, Nurhana kepada wartawan, Sabtu (7/2/2026).
Saya sendiri tidak mampu meneruskan berita-berita diatas dalam bentuk video yang viral karena saya tidak tega melihat penderitaan mereka. Saya juga terharu ketika melihat tayangan TV – wawancara dengan guru honorer yang tinggal di Jakarta tapi honor sebagai guru hanya Rp 500 ribu dan agar bisa hidup sang pahlawan tanpa tanda jasa ini berjualan nasi goreng di malam hari. Ketika wartawati TV yang mewancarainya menanyakan perasaannya dengan honor yang minim itu; guru honorer ini matanya berkaca-kaca menangis tidak bisa berkata-kata; lalu dengan suara terbata-bata dia mengatakan bahwa adalah kewajibannya untuk mendidik anak-anak meskipun pendapatannya sebagai guru honorer kecil. Saya ikut terharu melihat guru tersebut menangis.
Kondisi penderitaan diatas banyak kita temui sehari-hari di negeri tercinta ini bahkan disekitar lingkungan kita sendiri. Dalam konteks internasional kita menyaksikan penderitaan ummat Islam bangsa Palestina di Gaza dll.
Bulan suci Ramadhan yang mewajibkan tidak makan minum memiliki pelajaran mendalam disamping mengajari kita disiplin, menjaga keseimbangan kesehatan dsb namun juga memunculkan rasa empati kepada orang-orang lain yang tidak memiliki privilege seperti kita yang – Alhamdulillah dicukupi Allah dengan rizki barokah. Perasaan empati itu juga memunculkan kesadaran bahwa rizki yang kita peroleh dari Allah itu sebagiannya adalah milik orang lain dan harus kita bagi-bagi.
Saya baca tafsir Al-Quran dalam versi bahasa Inggris oleh Yusuf Ali – Al Baqarah ayat 3:
“who believe in the Unseen are steadfast in prayer and spend out of what We have provided for them”. (“Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib adalah teguh dalam shalat dan menghabiskan dari apa yang telah Kami sediakan untuk mereka”.)
Ayat ini adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menjelaskan antara lain siapa orang yang disebut bertakwa itu.
Lalu Yusuf Ali dalam footnote tafsirnya menjelaskan apa yang dimaksud dengan kalimat “..dari apa yang telah Kami sediakan untuk mereka” yaitu:
All bounties proceed from God. They may be physical gifts, e.g., food, clothing, houses, gardens, wealth, etc. or intangible gifts, e.g., influence, power, birth and the opportunities flowing from it, health, talents, etc. or spiritual gifts, e.g, insight into good and evil, understanding of men, the capacity for love, etc. We are to use all in humility and moderation. But we are also to give out of every one of them something that contributes to the well-being of others. We are to be neither ascetics nor luxurious sybarites, neither selfish misers nor thoughless prodigals. (Semua karunia berasal dari Tuhan. Itu bisa karunia fisik, misalnya, makanan, pakaian, rumah, kebun, kekayaan, dll. atau karunia tidak berwujud, misalnya, pengaruh, kekuasaan, kelahiran dan peluang yang mengalir darinya, kesehatan, bakat, dll. atau karunia rohani, misalnya, wawasan tentang yang baik dan yang jahat, pemahaman tentang manusia, kapasitas untuk mencintai, dll. Kita harus menggunakan semuanya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan. Tetapi kita juga harus memberikan dari masing-masing dari mereka sesuatu yang berkontribusi pada kesejahteraan orang lain. Kita tidak boleh menjadi pertapa atau sybarit/hedonis mewah, bukan kikir egois atau anak yang hilang.)
Puasa ini bukanlah hal yang baru bagi ummat Islam karena Allah dalam Surah Al Baqarah 183 sudah berfirman bahwa kewajiban puasa itu juga diberikan kepada ummat-ummat sebelum kita agar kita bertaqwa; dan salah satu ciri orang bertaqwa itu adalah membagikan risky dari Allah kepada orang lain seperti yang tertulis di Al Baqarah ayat 3 diatas.
Sikap empati itu juga memberikan pelajaran berguna bagi kita bahwa semua rizki, karunia dari Allah berupa gaji, pendapatan, jabatan, kekuasaan dsb dsb itu bukanlah milik kita sendiri; namun sebagian milik orang lain.
Semoga rasa empati terhadap sesama itu muncul di hati kita semua dan di perbuatan amal kita di bulan suci ini.
Selamat Menunaikan Puasa Ramadhan.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Isi Hati Hanya Satu Warna

Arek – Arek Suroboyo Dulu Pernah Menerima Ancaman Yang Sama

Jurnalis Israel Alon Mizrahi: Amerika Serikat dan Israel benar-benar kalah dalam perang ini

Sri Radjasa: Prabowo Salah Baca Perubahan Geopolitik Dunia, Indonesia Kini Jadi Bulan-Bulanan Trump

Dari Selat Hormuz ke Washington: Membaca Peta Perang Global, Analisis Geopolitik Dr Anton Permana atas Konflik Iran–Israel–AS

Demokrasi di Amerika dari sudut pandang politisi dan aktivis di Amerika

Menjadi Wakil Rakyat: Mau Mengabdi Atau Dagang?

Jangan Bodoh Dan Tolol : Konflik Sunni-Syiah Itu Adu Domba Negara Imperialis Barat (AS dan Israel)

Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS: Stabilitas Cepat, Penguncian dan Tantangan “Dansa Tanpa Leverage”

Dr Anton Permana: Perang Iran-Israel, Hegemoni Global dan Masa Depan Indonesia



No Responses