Ramadhan Sebagai Bulan Perubahan

Ramadhan Sebagai Bulan Perubahan

Oleh: Muhammad Chirzin

Puasa adalah proklamasi kemerdekaan orang beriman dari penjajahan hawa nafsu.

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Ramadhan bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt.

Ramadhan bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi umat manusia; pahala ibadah dilipatgandakan; terdapat Lailatul Qadr–malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Imam Ibnu Kathir menulis, “Ramadhan adalah bulan yang paling mulia dan paling utama di antara bulan-bulan lainnya.” Imam Al-Qurtubi menyatakan, “Al-Qur’an diturunkan di Ramadhan karena keutamaan bulan ini.” Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya meningkatkan ibadah dan amal saleh di bulan ini.
Ibadah puasa Ramadhan latihan spiritual untuk meningkatkan ketakwaan dan kesabaran; pembersihan jiwa–membersihkan diri dari dosa dan kesalahan; pengasahan kesabaran dan pengendalian diri; meningkatkan empati terhadap mereka yang kurang beruntung; mendekatkan diri kepada Allah Swt, dan meningkatkan keimanan.

Al-Qur’an diturunkan pada malam Ramadhan sebagai tanda keagungan dan rahmat Allah. Allah Swt memilih Ramadhan sebagai awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw, menandai awal petunjuk bagi umat manusia.

Al-Qur’an membuat Lailatul Qadr mulia. Allah menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadr, sehingga malam itu menjadi sangat mulia karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang agung.

Beberapa perisitawa penting pada bulan Ramadhan dalam sejarah Islam dan Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364.

Pengesahan UUD 1945 sebagai dasar negara Indonesia sehari setelah proklamasi, pada 18 Agustus 1945,10 Ramadhan 1364.

Belanda melancarkan agresi militer pertama terhadap Indonesia pada 21 Juli 1947 atau 3 Ramadhan 1366 H.

Kongres pertama organisasi pergerakan nasional Indonesia, Boedi Oetomo, diselenggarakan pada 7-9 Ramadhan 1326 atau 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta.

Sepuluh hari menjelang Ramadhan 1427 ini, masyarakat luas menyaksikan Deklarasi Gerakan Merebut-kembali Kedaulatan Rakyat (GMKR), pada 10 Februari 2026 di Gedung Juang Jakarta, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini dalam kondisi darurat kedaulatan, baik di bidang ekonomi, politik, hukum, sumber daya alam, maupun kedaulatan kewilayahan.

Presidium GMKR menyatakan deklarasi ini sebagai Proklamasi Kemerdekaan RI dari penjajahan para oligarki, dengan lima tuntutan Rakyat:

(1) Mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu merebut kembali kedaulatan dari kekuasaan oligarki.

(2) Meminta pertanggungjawaban semua pihak yang telah menyerahkan kedaulatan kepada oligarki.

(3) Menuntut semua politisi, pejabat, aparat, dan tokoh untuk berhenti menjadi pelindung dan kaki tangan oligarki.

(4) Mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk membersihkan pemerintahannya dari unsur yang menghalangi pengembalian kedaulatan rakyat dari penguasaan oligarki.

(5) Perwujudan kedaulatan hukum dan politik agar dilaksanakan melalui, satu: Adili Joko Widodo; dua: Makzulkan Gibran; tiga: Reformasi Kepolisian.

***

Ciri kehidupan adalah tumbuh, berkembang, dan berubah. Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu umat dan bangsa, hingga mereka berusaha untuk mengubahnya sendiri.
I
tulah, karena Allah tak pernah mengubah nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum jika mereka tidak mengubah nasibnya sendiri, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS Al-Anfal/8:53)

Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu bangsa sebelum mereka mengubah dirinya sendiri. Jika Allah menjatuhkan hukuman kepada suatu bangsa, tak ada yang dapat menolaknya, juga tak ada yang dapat melindungi selain Dia. (QS Ar-Ra’d/13:11)

Teori dasar perubahan individu dan sosial yaitu bahwa jika seseorang ingin berubah, maka ia dapat memutuskan dan bertindak untuk mengubah dirinya sendiri. Jika masyarakat ingin berubah, maka bisa berubah dengan tiga syarat: Pertama, ada penggagas untuk berubah; kedua, ada sosialisasi dan komunikasi ide kepada anggota masyarakat untuk berubah; dan ketiga, ada kesepakatan bersama untuk melakukan perubahan.

Rasulullah Saw bersabda, “Man ra’a minkum munkaran fal-yughayyirhu biyadihi, wa in lam yastathi’ fa bilisanihi, wa in lam yastathi’ fa biqalbihi wa dzalika adh’aful iman” – siapa yang menyaksikan kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya –dan itu adalah selemah-lemah iman.

Allah Swt berfirman dalam beberapa ayat Al-Quran, Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran/3:104)

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imran/3:110)

Allah telah membeli dari orang beriman jiwa raga dan harta mereka supaya mereka beroleh taman surga. Mereka berperang di jalan Allah; mereka membunuh atau terbunuh. Itulah janji yang sebenarnya dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran –dan siapa yang lebih menepati janji daripada Allah? Bergembiralah dengan janjimu yang telah kamu berikan. itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah/9:111)

Katakanlah: “Ya Allah, Pemilik kekuasaan, Kauberi kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Kaucabut kekuasaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau memberi kemuliaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau memberi kehinaan kepada siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala yang baik. Sungguh, Engkau berkuasa atas segalanya.” (QS Ali Imran/3:26)

EDITOR: REYNA

Last Day Views: 26,55 K