Oleh: Sri Radjasa
Pemerhati Intelijen
Kasus ijazah Jokowi yang diduga palsu, menjadi lebih rumit dari skandal Watergate presiden Nixon. Pasalnya terduga pelaku dan aparat hukum, alih-alih berniat menegakan hukum, justru berkolaborasi untuk mensiasati kasus ini hingga titik darah penghabisan. Fenomena ijazah palsu Jokowi, semakin meneguhkan keyakinan, bahwa kebenaran di negeri ini tergantung siapa yang mengatakan. Haram hukumnya ketika rakyat mengklaim sebuah kebenaran, karena untuk mimpi mengatakan kebenaran saja dilarang. Dihadapkan oleh centang prentang urusan penegakan hukum saja, kapolri masih berani mengancam agar polri dibawah presiden. Apa jadinya ketika presiden juga pelaku pelanggar hukum. Inilah potret negara materialistik, dimana konstitusi tertingginya adalah uang. Loyalitas dan kehormatan dengan mudah didapat ketika uang yang berbicara. Sebuah pemandangan sehari-hari, medsos menyajikan tayangan sosok pejabat dengan kekayaan melimpah walau dari hasil judol, selalu mendapat karpet merah dalam setiap kegiatan. Betapa terpuruknya nilai moral dan etika bangsa ini, karena tidak ada lagi keteladanan dari para petinggi negara. Budi pekerti hasil olah rasa para leluhur, teronggok di sudut gubuk kumuh tergantikan oleh jargon reformasi dan demokrasi.
Kembali ke kasus ijazah palsu Jokowi yang semakin seperti benang kusut, sulit untuk diuraikan kembali. Semua ini akibat prilaku polisi yang memegang teguh prinsip “kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah”. Fakta, bukti, saksi dan informasi pendukung sudah tergelar didepan mata, emak-emakpun mampu untuk mengungkap kepalsuan ijazah jokowi. Seharusnya Roy Suryo, Rismon dan Tifa, tidak perlu memeras energi keilmuannya, bahkan harus terancam hukuman sangat berat, jika pihak polisi tidak memalingkan wajahnya terhadap temuan di pasar pramuka pojok. Disana terserak jejak hitam langkah ijazah palsu Jokowi dan disana ada sang maestro paiman raharjo yang diduga selalu arsitek ijazah palsu Jokowi. Tudingan tersebut sama sekali bukan fitnah, tetapi didukung oleh bukti pengakuan orang-orang yang masih memiliki ikatan keluarga dengan Paiman. Ada saksi atas nama KN (family dan lama bekerja di kios Paiman) sempat mengatakan kepada rekannya di pasar Pramuka pojok “kasian pak Paiman kalau ada apa-apa, padahal pak Paiman cuma nerima order, tapi yang buatkan orang lain”.
Tabir gelap ijazah palsu Jokowi sebenarnya mulai tersingkap di pasar Pramuka pojok. Apalagi jika dikaitkan dengan luxury dan privilage yang diperoleh Paiman Raharjo, menjadi Wakil Menteri Desa dan sejumlah jabatan komisaris diantaranya di PT PGN. Mari kita harus berani jujur untuk berdialog dengan nurani sendiri, tanpa sumbangsih yang luar biasa kepada Jokowi, mustahil Paiman memperoleh luxury dan privilage yang melimpah. Jokowi telah membangun image dirinya dihadapan relawan dan termul, sebagai “tempat pesugihan” yang mampu dengan sekejap mata memberikan kemewahan relawan dan termul. Loyalitas dan kesetiaan dibangun oleh Jokowi dengan pendekatan materi, maka tidak heran jika termul ada yang mengatakan “kalau bukan karena Jokowi, kami tetap miskin”. Artinya jokowi telah dijadikan berhala baru dikalangan relawan dan termul.
Pasar Pramuka Pojok adalah satu mata rantai yang terlepas dari pengungkapan kasus ijazah palsu jokowi. Polri memiliki keengganan untuk melakukan penyelidikan fakta-fakta yang tersebar di pasar pramuka pojok, menjadi sinyal penanganan hukum kasus ijazah palsu Jokowi, tidak dalam rangka mengungkap kebenaran atas dasar penegakan hukum. Tetapi hukum sedang berjalan diatas bara api syahwat kekuasaan otoritarian. Polri sedang mempertaruhkan kepercayaan publik terhadap kekuasaan negara, demi menyelamatkan kekuasaan masa lalu yang cacat hukum. Ditengah buruknya kinerja polri dibidang penegakan hukum, lantas apa alasan Kapolri harus ngotot Polri dibawah presiden.
Pasar sebagai tempat jual beli segala kebutuhan masyarakat, tetapi Pasar Pramuka Pojok (untuk membedakan dengan Pasar Burung Pramuka) memiliki kekhasan. Pasalnya mereka yang memiliki kios di Pasar Pramuka Pojok, adalah para seniman profesional di bidang rekayasa dokumen penting.
Hasil investigasi kepada para pemilik kios di Pasar Pramuka Pojok yang telah diaspora pasca kebakaran Desember 2024, ternyata produk Pasar Pramuka Pojok mulai dari skripsi, tesis, ijazah, surat nikah, KTP, paspor, hasil laboratorium Sucofindo, hingga visa AS dan negara lain.
Semua bisa dibuat palsu dengan tingkat kemiripan hingga 99 persen. Maka sulit untuk tidak mengkaitkan Paiman Raharjo pemilik kios pengetikan skripsi sejak tahun 1990an sampai 2017, dengan produk Pasar Pramuka Pojok.
Paiman Raharjo yang kerapkali dipanggil dosen, ternyata karena Paiman Raharjo menjadi langganan para mahasiswa untuk pembuatan skripsi atau plagiat skripsi.
Keterangan para rekan sesama pemilik kios di Pasar Pramuka Pojok, pada 1 Mei 2025 Paiman pernah menyelenggarakan halal bihalal eks pekerja Pasar Pramuka Pojok, sebuah kegiatan yang sebelumnya tidak pernah diselenggarakan.
Pada acara halal bihalal tersebut, dihadiri oleh para seniman pembuat produk dokumen palsu (foto terlampir). Hal ini semakin membuka tabir gelap, jejak Paiman Raharjo sebagai “tokoh” gank PPP (Pasar Pramuka Pojok).
Kegiatan halal bihalal yang dibiayai oleh Paiman, terendus adanya maksud lain Paiman yang mulai panik, setelah kasus dugaan ijazah palsu Jokowi semakin marak di media sosial. Paiman mencoba untuk mempengaruhi para pemilik kios Pasar Pramuka Pojok, untuk tidak memberikan info apapun terkait kegiatan yang dilakukan di Pasar Pramuka Pojok.
Menurut keterangan teman-teman pemilik kios di Pasar Pramuka Pojok, Paiman hingga tahun 2010 masih berseliweran dan nongkrong di Pasar Pramuka Pojok. Tetapi pasca 2012, Paiman Raharjo naik kelas.
Nasibnya mulai berubah drastis, dan mendapat jabatan mulai dari menjadi komisioner dan komisaris di BUMN, hingga menjadi Wamendes. Paiman pun memiliki rumah di komplek kehakiman di belakang gedung BNPB.
Apa yang menyebabkan jalan hidup Paiman mulai bersinar, tentunya ada kata kunci sebagai pembuka kotak Pandora yang akan terjawab, seiring berjalannya waktu. Buku Paiman yang berjudul “tukang sapu jadi propesor” terbitan 2022, dapat dijadikan cerita inspiratif untuk generasi muda yang ingin merebut masa depan dengan instan, tetapi siap dengan risiko yang dihadapi.
Kasus kebakaran Pasar Pramuka Pojok pada akhir 2024 yang meludeskan lebih dari 200 kios, tampak memiliki kejanggalan. Api yang mulai membakar Pasar Pramuka Pojok, terjadi pada subuh sekitar pukul 5.30, ternyata tidak mampu dipadamkan oleh pihak pemadam kebakaran.
Padahal posisi posko Damkar hanya berjarak tidak lebih 1 kilometer dari lokasi kebakaran. Dari kebakaran tersebut, seluruh kios di Pasar Pramuka Pojok ludes terbakar. Apakah kebakaran sebagai cara untuk mengubur jejak kelam sebuah tragedi yang amat mencoreng citra bangsa ini.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Puasa Memunculkan Rasa Empati

Ketika Kebenaran Hanya Keluar Dari Mulut Polisi

Surabaya Maritime Arts Dome: Bentangan Rumah Peradaban Surabaya

Pesan Kearifan Empat

Ketika Sang Preman Mencengkeram Negara: Serial Kedua Perspektif Ekonomi

Sintesa Kebangsaan Menuju Kepemimpinan Indonesia 2029

Jadikan Ramadhan Bulan Perubahan

Kasus Suap Dalam Perkara Korupsi Ekspor CPO, Modus Mafia Bisnis Berkolaborasi Dengan Markus

Lugas, Hangat, dan Teguh Pendirian: Potret Politikus Senior Ridwan Hisjam

Anton Permana: Tiga Hal Yang Harus Dilakukan Prabowo Untuk Menyelamatkan Pemerintahan Dari Kudeta Merangkak



No Responses