Catatan : Muhammad Nur
Sindrom Toga. Ya sindrom toga. Sindrom toga adalah istilah sosial–psikologis (bukan medis) yang dipakai secara informal di Indonesia untuk menggambarkan perubahan sikap seseorang setelah lulus atau meraih gelar akademik. Sindrom ini ditandai oleh rasa lebih superior, dan enggan belajar dari orang lain dalam bidang yang digelutinya. Sindrom ini biasanya muncul ketika gelar (toga) dijadikan identitas utama. Padahal gelar adalah amanah keilmuan. Mengapa bisa terjadi? Sindrom Toga melahirkan lulusan yang merasa sudah “sampai”. Gelar menjadi mahkota, bukan bekal. Bahasa makin akademik, jarak dengan realitas makin lebar. Ilmu diperlakukan sebagai legitimasi sosial, bukan alat kerja. Dari sini lahir sikap selektif berlebihan, sehingga pekerjaan tertentu dianggap “tidak selevel”. Masukan dan kritik dianggap ancaman. Belajar ulang sering dianggap suatu kemunduran. Sindrom toga memberi rasa aman semu. Dunia nyata, dunia di luar kampus bergerak cepat. Dan kadang melaju dengan kasar. Karena pendidikan dipahami sebagai status, bukan proses pembelajaran seumur hidup. Toga berubah dari simbol tanggung jawab menjadi simbol kekuasaan simbolik. Bagaimana mencegah terhindar dari sindrom toga? Seorang sarjana sangat perlu menjaga kerendahan hati intelektual (Intellectual humility). Intelektual muda tersebut juga dianjurkan terlibat dalam praktik nyata dan dialog lintas disiplin. Dalam dialog multidisiplin tersebutlah ilmu menjadi hidup di masyarakat. Ilmu tak lagi dibebankan pada ijazah.
Di sisi lain, lahirlah sarjana pencari kerja—jumlahnya besar, harapannya tinggi, kecemasannya kronis. Mereka telah dijanjikan bahwa pendidikan adalah tiket mobilitas sosial. Namun ketika realitas pasar kerja menyempit, yang tersisa adalah antrean panjang, CV yang berulang ditolak, dan pertanyaan eksistensial: “Untuk apa kuliah bertahun-tahun?”
Menurut laporan Badan Pusat Statistik, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen atau sebanyak 7,46 juta orang. Pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi ternya mencapai 1,01 juta. Nampaknya kampus-kampus harus mulai bergerak. Para ilmuwannya diajak mencari solusi. Kita diminta menelisik kembali tentang kelahiran ilmu. Ilmu lahir dari kegelisahan manusia, tumbuh dari pertanyaan tentang kehidupan. Ilmu dan turunannya, seharusnyalah kembali untuk memperbaiki kehidupan itu sendiri. Ketika ilmu hanya berhenti pada gelar, publikasi, atau angka sitasi, ia kehilangan rohnya. Kampus dan ilmuwan dipanggil untuk menghidupkan kembali ilmu dengan membawanya turun ke realitas, menyentuh persoalan nyata, dan hadir sebagai solusi. Di saat yang sama, kehidupan sehari-hari—dengan segala masalah dan keterbatasannya—perlu diilmukan agar menjadi ruang belajar bersama. Di titik inilah pendidikan menemukan maknanya: mencerdaskan pikiran, memberdayakan manusia, dan menghidupkan harapan.
Tetang pengangguran terbuka dan banyak dari kalangan lulusan perguruan tinggi lebih dari satujuta, sebenarnya dapat dijadikan modal untuk menghasilkan pekerjaan-pekerjaan baru. Resep bahwa pendidikan berfungsi mencerdaskan pikiran, memberdayakan manusia, dan menghidupkan harapan perlu ditatap dengan cara pandang optimis. Nampaknya kalangan kampus belum memikirkan hal tersebut secara serius. Saya kira gerakan kewirausahaan bagi lulusan menjadi suatu yang prioritas saat ini. Keputusan-keputusan strategis dari pihak pimpinan perguruan tinggi sangatlah dinantikan
Ironisnya, para lulusan perguruan tinggi, sebagian terjebak Sindrom Toga justru di fase ini—merasa layak dilayani pasar, bukan sebaliknya. Paradoks juga terjadi semakin tinggi gelar, semakin sempit ruang gerak mental. Toga yang seharusnya membebaskan daya cipta malah mengikat imajinasi. Banyak yang lupa bahwa dunia kerja tidak mencari “si paling pintar”, tetapi si paling relevan. Bukan siapa yang paling hafal teori, melainkan siapa yang mau belajar cepat, beradaptasi, dan bekerja lintas peran.
Di sinilah kegagalan ekosistem di negeri kita terlihat. Kampus terlalu lama memuliakan kelulusan, bukan keberlanjutan belajar. Wisuda dirayakan besar-besaran, tetapi transisi ke kehidupan nyata nyaris dibiarkan sendiri. Hah, tak terurus. Akhirnya, sarjana dipaksa memilih, apakah mempertahankan gengsi toga atau menanggalkannya demi bertahan?
Jalan keluarnya bukan menolak pendidikan, melainkan mengembalikan makna gelar. Toga bukan garis akhir, tapi titik berangkat. Sarjana bukan “orang yang tahu segalanya”, melainkan orang yang paling siap belajar ulang. Ketika gelar dipahami sebagai amanah untuk berkarya—bukan hak untuk dilayani—maka paradoks ini mulai kita terobos. Kita keluar darinya. Kondisi inilah mungkin letak pendidikan kembali menemukan martabatnya. Pendidikan tinggi bukan mencetak pencari kerja, apalagi penyembah gelar, melainkan pencipta nilai bagi kehidupan nyata. Para lulusan siap beradaptasi, bahkan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru. Kalau kalian tak bisa lewat dengan terbang datar, lakukan terbang miring. Inilah yang sering saya sampaikan kepada para alumni didikan di laboratorium kami. Semoga. Semarang, 5 Februari 2026 (MN)
EDITOR: REYNA
Related Posts

Isi Hati Hanya Satu Warna

Arek – Arek Suroboyo Dulu Pernah Menerima Ancaman Yang Sama

Jurnalis Israel Alon Mizrahi: Amerika Serikat dan Israel benar-benar kalah dalam perang ini

Sri Radjasa: Prabowo Salah Baca Perubahan Geopolitik Dunia, Indonesia Kini Jadi Bulan-Bulanan Trump

Dari Selat Hormuz ke Washington: Membaca Peta Perang Global, Analisis Geopolitik Dr Anton Permana atas Konflik Iran–Israel–AS

Demokrasi di Amerika dari sudut pandang politisi dan aktivis di Amerika

Menjadi Wakil Rakyat: Mau Mengabdi Atau Dagang?

Jangan Bodoh Dan Tolol : Konflik Sunni-Syiah Itu Adu Domba Negara Imperialis Barat (AS dan Israel)

Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS: Stabilitas Cepat, Penguncian dan Tantangan “Dansa Tanpa Leverage”

Dr Anton Permana: Perang Iran-Israel, Hegemoni Global dan Masa Depan Indonesia


No Responses