Oleh: Agus M Maksum
Catatan dari Agus Maksum menarasikan dan mencocokkan data dan sejarah teknologi dari jejak digital, dari berbagai data dan fakta yg tersebar di media
Ketika waktu, teknologi, dan akal sehat tidak lagi dibutuhkan dalam dunia akademik
Di tanah ini, sejarah sering kali dibunuh oleh kekuasaan. Tapi kali ini, bukan hanya sejarah—bahkan logika, waktu, dan ilmu pengetahuan pun dikubur hidup-hidup. Kuburannya? Bernama skripsi. Batu nisannya? Universitas.
Adalah Universitas Gadjah Mada, singa tua dunia akademik, yang kini mendadak gagap bicara, terbata menjawab, dan gemetar memaparkan pembelaan terhadap skripsi seorang presiden. Sebuah skripsi yang konon lahir tahun 1985, tapi dicetak dengan teknologi yang bahkan belum dikenal oleh mahasiswa MIT sekalipun kala itu.
Skripsi itu terlalu sempurna untuk zaman dot matrix. Terlalu modern untuk mesin ketik berfont monospace. Terlalu rapi untuk era pita karbon dan kertas dobel. Dan kita tahu, terlalu sempurna untuk disebut “kebetulan.”
Sebuah Cover yang Melampaui Zaman
Salah satu pembela skripsi itu adalah seorang profesor, Ketua Senat Fakultas Kehutanan. Ia mengaku bahwa pada tahun 1982, dirinya mencetak sampul skripsi di sebuah tempat bernama CV Prima.
Masalahnya, CV Prima baru berdiri tahun 1986. Maka jadilah kita terdiam antara dua kemungkinan: sang profesor mengingat masa depan, atau sejarah percetakan telah disunting dengan mesin waktu.
Apakah UGM kini mengajar sejarah dengan fiksi? Apakah pengetahuan tentang asal-usul percetakan kini setara dongeng pengantar tidur? Ataukah kita sedang menyaksikan transformasi intelektual menjadi pencerita khayalan?
Mungkin, di fakultas-fakultas tertentu, gelar profesor bukan lagi buah dari riset dan logika, tapi hasil dari kedekatan dengan kekuasaan dan kenekatan menyusun narasi palsu.
Teknologi yang Tertawa
IBM PC baru menyapa dunia pada Agustus 1981. Di Indonesia, komputer masih barang langka, eksklusif, dan bukan untuk jasa pengetikan mahasiswa. Printer saat itu? Dot matrix. Suaranya berisik, hasil cetaknya kasar. Font Times New Roman? Baru menjadi standar digital setelah hadirnya Windows 3.1 di tahun 1992.
Tapi di UGM, waktu bisa dibengkokkan. Font masa depan bisa hadir di masa lalu. Mesin cetak resolusi tinggi bisa digunakan sebelum lahir. Printer laser bisa disulap dari udara. Dan font “Time New Roman” (tanpa s) bisa ditulis ulang berulang-ulang tanpa satu pun dosen menegur.
Di negeri ini, teknologi bisa dimanipulasi demi kekuasaan. Dan ketika teknologi tidak bisa dimanipulasi, maka sejarah teknologi pun dipalsukan.
Skripsi Tanpa Penguji, Tanpa Tanggal, Tapi Tetap Lulus
Bukan hanya teknologi yang dipermainkan. Struktur akademik pun ikut dipelintir. Skripsi itu tidak mencantumkan siapa pengujinya, tidak menyebut kapan diuji, dan tidak menyebutkan siapa yang hadir dalam sidang.
Tapi skripsi itu tetap lolos. Tetap disahkan. Tetap diakui.
Di mana lagi di dunia ini ada institusi pendidikan yang meluluskan mahasiswa tanpa ujian, tanpa tanda tangan, tanpa dewan penguji? Hanya satu tempat: di negeri di mana intelektual tunduk pada kekuasaan, dan universitas berubah jadi biro pembela narasi politik.
UGM: Dulu Menjadi Mercusuar, Kini Menjadi Pelindung Kekuasaan
UGM pernah menjadi simbol akal sehat Indonesia. Ia lahir dari semangat republik, dari darah dan keringat rakyat, untuk mencerdaskan bangsa. Tapi hari ini, simbol itu retak. Ternoda oleh pembelaan buta. Tercabik oleh ketakutan pada kekuasaan.
Apakah UGM sekarang sekadar pagar kekuasaan, bukan benteng ilmu pengetahuan?
Apakah para profesornya sekarang adalah narator dongeng kekuasaan, bukan penyuluh akal merdeka?
Apakah dekan dan senat sekarang sibuk menyusun alibi, bukan menyusun riset?
Bangsa yang Melupakan Akalnya, Akan Hidup dalam Kebohongan
Jika skripsi bisa dipalsukan, maka ijazah bisa dikarang. Jika universitas bisa dibungkam, maka akal sehat bisa disingkirkan. Jika sejarah bisa ditulis ulang, maka masa depan bangsa tinggal menunggu waktu untuk hancur.
Skripsi itu bukan sekadar dokumen. Ia adalah simbol bagaimana sebuah bangsa memperlakukan kebenaran. Apakah kita bangsa yang mau menerima apa saja, selama yang membuatnya punya kekuasaan? Apakah kita bangsa yang rela mempermalukan universitas demi menjaga kedudukan seorang pemimpin?
Skripsi dari masa depan. Dosen dari dunia khayal. Rakyat dari negeri yang terlalu lelah untuk marah.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Gelar Pahlawn Nasioal Untuk Pak Harto (16): Kebijakan Ekonomi Yang Menjaga Keseimbangan

Kekuatan Negara Sudah Dikendalikan Kapitalis Hitam, Presiden Prabowo Harus Introspeksi Diri

Sri Radjasa: Lemahnya Kontrol Negara Terhadap Kawasan Industri Strategis

Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (15): Swasembada Beras 1984, Tonggak Ketahanan Pangan yang Mengubah Nasib Bangsa

Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (14): Tiga Dekade Menjaga Gerbang Kedaulatan

Airlangga Pribadi: Prabowo Sedang Hadapi Tirani Jokowi, Pilih Elit Atau Pilih Rakyat

Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (13): Membantu Bosnia: Diplomasi Moral dan Dukungan Senjata untuk Muslim Eropa

Bencana Sumatera dan Kegagalan Tata Kelola Kawasan

Kekayaan Keragaman Hayati Tercabut Dari Bumi Sumatra

Novel “Imperium Tiga Samudra” (21) – Auto Cloce, Pintu Yang Tidak Boleh Dibuka Lagi


No Responses