Gembrung Margomulyo : Pembangkangan Panangsang, Samin, dan Suro Nginggil

Gembrung Margomulyo : Pembangkangan Panangsang, Samin, dan Suro Nginggil
Lukisan pertempuran Panangsang melawan Sutawijaya




ZONASATUNEWS.COM, BOJONEGORO–Nama Gembrung agak asing. Tapi terkenal di Bojonegoro. Di Ngawi namanya Cokekan atau Gambyong. Ini sebentuk seni tradisional yang masih tersisa. Dan hidup.

Kesenian ini sederhana. Alat musiknya tidak sekompleks gamelan wayang kulit. Hanya seperangkat gong, kendang. Ada tambahan alat musik dari bambu (gong pring). Tapi tetep ada “ledeknya”. Itu, penyanyi yang berpakaian adat Jawa.Tapi tidak menari. Hanya nyanyi (nembang) gending-gending Jawa. 

Mendengarkan gembrung saat itu, entah kenapa, suasana hati menjadi campur aduk. Ditambah suasana mistis hutan jati disekitar rumah. Dan kemarau yang membakar.Senang dan miris sekaligus.Bisakah seni rakyat ini bertahan melawan seni digital? 

Sabtu itu (3/10/2020) saya antar isteri ke Margumulyo Bojonegoro. Saudara punya hajat. Hiburannya Gembrung.

Seni tradisional Gembrung, terkenal di wilayah Bojonegoro




Margomulyo ini masuk kabupaten Bojonegoro, persis setelah Ngawi. Infrastruktur jalannya luar biasa bagus, dan lebar. Berkat mendapat Dana Bagi Hasil dari Exxon Mobile. Blok Cepu di Bojonegoro ini memiliki cadangan migas 30 % cadangan nasional. Pantas disebut lumbung energi.

Samin Surosentiko

Tidak jauh dari Margomulyo ini masih terdapat komunitas masyarakat Samin. Ingat saminisme? Gerakan Raden Samin Surosentiko dalam melawan Belanda. Dia membuat gerakan “tanpa kekerasan”. Menolak yang serba Belanda. Pakaian, adat kebiasaan, istilah bahasa, dan sebagainya  Mereka juga melakukan pembangkangan tanpa kata-kata.(ndableg). Semua tanpa kekerasan.

Konon, masyarakat Samin akhirnya lebih memilih hidup memisahkan diri kedalam hutan, setelah tekanan dirasa begitu berat.

Kabupaten Blora disebelah barat Bojonegoro ini, merupakan pusat Saminisme.Di Blora Raden Samin sangat dihormati, bahkan dipatungkan di alum-alun kota dan di kampung Samin.

Tugu Samin Surosentiko di Kampung Samin Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora

Suro Nginggil

Sekitar 10 km dari Margomulyo ini, kearah barat. Masuk wilayah kabupaten Blora. padepokan Mbah Suro Inggil pernah menghebohkan. Dukun yang konon sakti, yang juga anggota PKI itu terkenal memiliki ilmu kekebalan dan ilmu lain. Sangat tersohor ditahun 1965-1967. Sehingga banyak masyarakat datang kesana untuk berbagai keperluan.

foto : Lukisan Eyang Suro Nginggil milik Sariman Lawantiran (sumber bloranews.com)

Banyak anggota PKI datang kesana untuk menyelamatkan diri, pasca G 30 S/PKI. Sembunyi dan tinggal disana. Lama-lama merasa kuat, akhirnya komunitas Suro Nginggil membangkang. Tahun 1967 diserang militer. Terjadi baku tembak. Mbah Suro ditembak mati saat mau melarikan diri.Di Blora, Bojobegoro, Ngawi, nama Suro Nginggil masih dikenal hingga sekarang. Bahkan ada yang menganggapnya masih hidup.

BACA JUGA :

Haryo Panangsang

Dulu sekali, di era kerajaan Demak Bintoro, wilayah ini masuk kadipaten Jipang Panolan. Desa Jipang masih ada sampai saat ini. Sekira 30-50 km dari Margomulyo.Arah barat-utara.

Desa Jipang saat ini masuk wilayah kabupaten Blora. Adipati Jipang yang terkenal saat itu, Haryo Panangsang atau Aryo Jipang dimakamkan di desa Jipang. Tokoh hebat ini adalah cucu Raja Demak, Raden Patah. Dia keponakan Sultan Trenggono.

Keris pusaka Haryo Panangsang yang terkenal namanya “Brongot Setan Kober”. Ada yang menyebut Kyai Setan Kober.

Menurut Serat Kanda, ayah Aryo Panangsang adalah Surowiyoto atau Raden Kikin. Atau sering disebut sebagai Pangeran Sekar. Dia putra Raden Patah raja Demak pertama. Ibu Raden Kikin adalah putri Adipati Jipang Panolan. Sehingga, Panangsang mewarisi tahta kakeknya.

Di sekitar petilasan Arya Penangsang, sebuah tradisi lestari hingga kini. Tradisi membuat sedekah bumi, sebagai rasa syukur kepada kemuliaan yang datang dari Tuhan. Juga, untuk mengalirkan doa-doa kepada para leluhur Jipang.

Raja Demak pertama, Raden Patah punya anak 3, yaitu Raden Adipati Unus, Raden Trenggono dan Raden Kikin atau Raden Sekar. Sepeninggal Raden Patah, Raden Unus naik tahta. Dia meninggal di usia muda, saat melakukan penyerangan ke benteng Portugis di Malaka. Karenanya dia dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor (jawa : Sabrang=seberang, Lor=utara). Malaka kalau dilihat dari Demak arahnya ke Utara-Barat.

Raden Trenggono dan Raden Kikin berebut tahta. Akhirnya Raden Trenggono sebagai Sultan Demak.

Sementara Raden Sekar bernasib nahas. Dia dibunuh Raden Mukmin, putra Sultan Trenggono, sehabis shalat Jumat. Konon dia dibunuh dengan keris Kyai Setan Kober, milik Sunan Kudus, yang dicurinya. Karena meninggal di tepi sungai (lepen, bhs jawa), maka dia juga dikenal sebagai Pangeran Sekar Sedo ing Lepen (th 1521)

Sepeninggal Sultan Trenggono, semestinya pewaris tahta jatuh ke anaknya, Raden Prawoto (Adipati Jepara). Panangsang tahu Raden Prawoto adalah orang yang membunuh ayahnya. Dia membalas dendam, dibunuhlah Raden Prawoto. Tahta Demak kosong. Anak Trenggono yang lain perempuan, yaitu Ratu Mas Cempoko yang dinikahi Joko Tingkir (Hadiwijoyo, adipati Pajang). Pajang untuk saat sekarang adalah wilayah Solo atau Surakarta.

Ratu Mas Cempoko tidak mungkin naik tahta menggatikan Trenggono.

Disilah terbuka peluang Panangsang menduduki tahta kerajaan Demak.

Ratu Kalinyamat yang dinikahi Raden Prawoto (Sunan Parawoto, adipati Jepara) sangat marah atas kematian suaminya. Dia menolak Panangsang jadi raja Demak. Dia bertapa digua (konon tanpa busana, tapi ini berlebihan) dan bersumpah heroik : “baru menghentikan bertapanya, kalau bisa mandi darahnya Panangsang”.

Kalinyamat memang Ratu yang heroik. Saat memerintah Jepara menggantikan suaminya, dia meneruskan perjuangan Adipati Unus dalam melawan Portugis, Dua kali dia menyerang Portugis. Dalam catatan Portugis dia dikenal sebagai Wanita Pemberani. Dampak penyerangan Unus dan Kalinyamat, Portugis tidak pernah masuk menyerang Demak hingga Mataram. Portugis mengalihkan perhatian ke Indonesia timur (kepulauan Maluku).

Singkat cerita, Kalinyamat minta Hadiwijoyo Adipati Pajang untuk membalaskan dendam suaminya. Sebagai imbalan dia rela kursi Demak diberikan kepada Hadiwijoyo (Joko Tingkir), yang masih menantu Trenggono. 

Pendek kata terjadilah Hadiwijoyo menyanggupi permintaan Ratu Kalinyamat.Tapi Hadiwijoyo tidak mau menghadapi langsung. Entah karena apa. Boleh jadi sungkan karena sesama murid Sunan Kudus. Atau Hadiwijoyo sadar dia hanya anak menantu.

Maka dikirmlah Sutawijoyo (anak angkatnya) yang masih kecil untuk menghadapi Panangsang. Imbalannya, akan diberi tanah perdikan. Sutawijaya didampingi ayahnya Pemanahan, dan kedua pamannya Penjawi dan Juru Martani. Konon Juru Martani inilah yang dikenal ahli strategi perang. 

Sebenarnya, perang keduanya tidak imbang. Karena Sutawijaya masih kecil. 

Panangsang berada di timur Bengawan Solo. Stawijaya berada disebelah barat sungai.

Juru Martani mengatur strategi. Untuk memancing emosi Panangsang, dilakukan provokasi.Sutowijaya menaiki “kuda betina”. Sehingga kuda Panangsang “Gagak Rimang” hilang kendali. Tiba-tiba menyeberangi sungai Bengawan Solo. Musuhnya tahu Panangsang masuk perangkap.

Sutawijaya dan timnya sudah siap menunggu. Tombak Kyai Pleret akhirnya berhasil membunuh Panangsang.

Sutawijaya mendapat hadiah tanah Mentaok, yang nantinya menjadi cikal bakal kerajaan Mataram. Penjawi mendapat hadiah tanah Pati, dan menjadi penguasa disana. Juru Martani menjadi penasehat raja Mataram Panembahan Senopati, gelar Sutawijaya saat menjadi raja Mataram.

Panangsang? Begitulah nasib tokoh yang kalah perang. Nama Panangsang tidak ada jejak penghormatannya. Justru nama kudanya Gagak Rimang yang diabadikan menjadi nama terminal Blora.

Penulis : Budi Puryanto

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60