Mungkinkah Para Pengkhianat Pancasila Bisa Menjadi O’Hara

Mungkinkah Para Pengkhianat Pancasila Bisa Menjadi O’Hara
Al Capone




By : Insanial Burhamzah

Di tengah ketegangan politik yang terus memuncak sejak Pilpres 2019 lalu, menempatkan bangsa ini seakan terbagi menjadi #ProKomunis vs #AntiKomunis. Dimensi ketegangan bertambah dengan munculnya “klaim diri” salah satu pihak sebagai pihak yang lebih Pancasilais dari pihak Indonesia lainnya.

Gagasan Pancasila sendiri adalah upaya “menjadikan Bangsa Nusantara ini dapat menyatukan kehidupan Hukum, Politik Dan Ekonomi di Indonesia benar-benar tidak keluar dari koridor Pancasila.

Namun pada kenyataannya, selama ini Pancasila hanya menjadi Bubble Paradigm atau paradigma gelembung udara yang kosong, Dan rentan untuk di isi oleh berbagai interpretasi sesuai dengan kepentingan setiap periode penguasa. Akhirnya, Pancasila melenceng jauh dari esensi maknanya.

Sehingga, bangsa ini hanya tahu pancasilanya Sukarno, Pancasilanya Suharto Dan Pancasilanya Jokowi ? Yang kesemuanya memiliki narasi yang sama tetapi pemaknaannya berbeda.

Sukarno menginterpretasikan gagasan Pancasila dengan NASAKOM, sementara Orde Baru dengan P4 (Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), dan sekarang dengan HIP (Haluan Ideologi Pancasila) ?

“Akhirnya, sejak pasca reformasi 1998, Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.”

Bahkan seolah-olah Pancasila tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan lagi disertakan dalam dialektika kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif. Walaupun sering di ucapkan, dibahas, baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan, maupun kemasyarakatan.

Inilah refleksi dinamika yang Paradoks, terhadap kehidupan Politik, Hukum dan Ekonomi bangsa ini yang justru tidak Pancasilais. Sehingga para “penjahat” negeri inipun berani mengklaim dirinya lebih Pancasilais diatas para putra pribumi anak bangsa lainnya.

Oleh karena itu, saya teringat kisah inspiratif seorang O’Hara yang pernah menjadi bagian dari kejahatatan negerinya. Namun, akhirnya sadar dan kembali membela kebenaran negerinya.

KISAH “O’HARA”

Sebuah kisah inspiratif yang sejalan dengan integritas dan patriotisme dan budaya “malu” yang di warisi oleh para pejuang dan Raja/Sultan Nusantara beberapa abad lalu, seakan lenyap tanpa bekas di bumi Nusantara.

Walaupun kisah yang saya sampaikan adalah kisah pahlawan di AS, namun sangat relevan untuk kita jadikan inspirasi kedepan jika negeri ini tidak ingin punah.

Kisah ini berasal dari kisah nyata seorang jenius bernama Easy Eddy, atau nama aslinya Edward O’Hara’ yang pernah menjadi pengacara utama Al Capone the Godfather mafia Amerika yang melagenda di awal abad 20 lalu.

Easy Eddy berhasil menjadikan Al Capone sebagai manusia “Untouchable” atau manusia yang tidak tersentuh hukum. Meskipun kejahatan Al Capone tergolong kejahatan kelas 1, bukan hanya penyelundupan Narkoba, tetapi memeras mengintimidasi pengusaha rakyat kecil dan bila ada yang melawan maka akan di teror atau dibantai sekeluarga. Demikian pula terhadap pesaingnya.

Alhasil, Easy Eddy, telah mendapatkan kekayaan yang luar biasa termasuk Jet Pribadi dan puluhan rumah mewah di seluruh kota besar AS. Sebagai bayaran atas prestasinya membela Al Capone menjadi manusia kebal hukum di AS. Dan dia juga sudah memberikan semua kemewahan duniawi kepada semua anaknya.

Namun, ada setitik nilai kemanusiaan yang mengusik dirinya, yakni dia merasa khawatir dengan masa depan anaknya jika dewasa kelak. Dia merasa hampa dan gelisa, karena tidak dapat memberikan warisan moral yang akan menjadikan dirinya sebagai Bapak yang di banggakan oleh sang Anaknya kelak.

Easy Eddy khawatir anaknya akan menjadi sampah dan terisolasi oleh masyarakat Amerika Serikat yang lahir dari bangsa beradab, yang selalu mengedepankan nilai “Malu” terhadap sikap amoral, akibat ulah sang Bapak.

Oleh karenanya, Easy Eddy, rela menebus kesalahannya dan berbalik dan berpihak pada nilai kebenaran yang selama ini dia lawan. Dia lantas bekerja sama dengan Pihak FBI guna memberikan Bukti skandal dan tindakan kriminal Al Capone, yang selama berapa decade dia bela. Sehingga Al Capone dan kroninya berhasil di tangkap oleh FBI dan dipenjarakan seumur hidup di AS.

Easy Eddy, sadar atas tindakannya itu, bahwa konsekwensinya adalah nyawanya sebagai taruhannya. Dan memang benar juga, akhirnya Easy Eddy ditemukan tewas tertembak mati oleh geng Mafia di dalam mobilnya.

Dia menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman kemenangan, karena di akhir hayatnya dia mampu mengalahkan ego dan mengedepankan nilai moral yang akan diwariskan kepada anaknya dan rakyat Amerika diatas syahwat duniawi yg ditinggalkannya.

Demikian pula, Easy Eddy, berhasil menanamkan jiwa ksantria pada putranya yang bernama Butch O’Hara.

PENUTUP

Butch O’Hara, putra Easy Esdy (Edward O’Hara) akhirnya berhasil mewarisi jiwa heroisme yang sangat patriotis dari sang ayahnya. Dia menjadi Pilot dengan keberanian luar biasa di sebuah pertempuran udara pada perang dunia ke 2, ketika Butch O’Hara seorang diri menghadang 10 jet tempur Jepang, dan berhasil merontokkan ke 9 pesawat Jepang dan 1 lainnya melarikan diri.

Dia dianugerahi pahlawan perang yang melagenda di AS. Dan namanya diabadikan di Airport AS.

Pesan moral kisah ini adalah, kita bisa saja pernah menjadi bagian dari kesalahan dan kejahatan negeri in sekalipun serta melawan kebenaran. Tapi tidak ada kata terlambat untuk menebusnya dan berbalik kembali berpihak kepada #Kebenaran.

Sebab, rekam jejak patriotisme dalam diri kita adalah cermin ketauladanan anak bangsa kita kedepan.

Dan bangsa yang besar hanya bisa lahir dari para patriot sejati, yang berpihak pada #kebenaran.

Semoga kisah ini bisa menggugah para pengkhianat bangsa ini, untuk mengambil inspirasi dari kisah Eddy O’Hara.

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60