Daniel M Rossyid : Maladministrasi Covid-19?

Daniel M Rossyid : Maladministrasi Covid-19?
Daniel Muhammad Rosyid




Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Sebagai pengamat kebijakan publik, memberi pertimbangan pada eksekutif dan legislatif di daerah dan pusat, saya kini melihat konsekuensi serius dari pandemisasi Covid oleh WHO. Pandemisasi ini telah direspons secara keliru oleh Pemerintah yang mengarah pada maladministrasi publik dalam penanganan Covid-19. Banyak pihak telah mengambil keuntungan di atas ketakutan publik, kehancuran ekonomi, dan defisit kompetensi selama sekolah, dan kampus kosong. Defisit spiritual mengancam saat rumah ibadah ditutup.

Pertama, potensi maladministrasi dimulai saat pemerintah bersikap menerima begitu saja pandemisasi WHO atas penyebaran Covid-19 ini. Menkes Siti Fadhilah Supari pernah menolak pandemisasi Flu Burung. Republik ini seharusnya berdaulat sehingga memiliki politik kesehatan yang berpihak pada kepentingan Republik. Bukan memihak kepentingan korporasi asing yang berbisnis alat-alat tes, obat dan vaksin. BPOM ikut bertanggung jawab.

Kedua, sebagai penyintas Covid-19 yang telah kehilangan sahabat, dan orang-orang terdekat akibat covid-19 ini, Covid-19 ini memang faktual ada. Namun, respons kita menghadapinya adalah sebuah pilihan kebijakan administrasi publik. Di sini banyak nakes, termasuk dokter, kurang memahaminya. Arahan WHO tidak harus diikuti dengan taklid buta. Respons ini seharusnya dipijakkan pada seluruh potensi nasional kita, membangun kemandirian kesehatan, dan mengamankan bonus demografi kita. Respons pemerintah malah menjadikan publik sebagai konsumen vaksin asing dan obyek bioteror yang menyesatkan serta mengancam bonus demografi.

Ketiga, data olahan kami per Mei 2020 menunjukkan bahwa resiko kematian akibat Covid-19 di Indonesia sebesar 2 persejuta (waktu itu angka kematian resmi masih sekitar 500, China sudah mencapai 3300, AS 22000 dan Italia 21000). Ini jauh lebih kecil dari Italia (300 persejuta), AS (70 persejuta), dan China (2.3 persejuta). Ada faktor iklim, gaya hidup, geografi dan demografi yang menguntungkan bangsa ini. Sayang sekali, informasi ini tidak ditonjolkan. Yang disemburkan melalui media massa arus utama, internet dan medsos adalah dramatisasi pandemi ini sehingga pandemi inj menjadi weapon of mass deception.

Keempat, penyesatan melalui pandemisasi ini juga bisa dilihat dari fakta-fakta berikut. Angka kematian akibat Covid-19 sekitar 62000 (per 8/7/2021) lebih rendah dari pada akibat penyakit menular TBC. Penyakit degeneratif (tidak menular) seperti diabetes, stroke, jantung, serta laka lantas juga tidak kalah serius. Penyakit Tidak Menular yang disebut komorbid itulah pemicu fatalitas Covid-19. Sementara itu motor adalah mesin pembunuh paling berbahaya di jalan-jalan kita. Di Indonesia 30 orang setiap hari tewas, 20 di antaranya pesepeda motor berusia produktif. Kemiskinan langsung mengikuti kematian tulang punggung keluarga yang hidup pas-pasan.

Akibat kekeliruan perspektif ini, manajemen TBC, dan Penyakit Tidak Menular telah terbengkalai karena perhatian, sumberdaya, dan dana dialokasikan bagi penanganan Covid19. Karena peralatan tes juga dialokasikan ke Covid-19, angka keterjangkitannya seolah meningkat, sementara angka keterjangkitan TBC misalnya, justru turun. Ada semacam pembohongan dengan statistik.

Oknum penguasa dan swasta mungkin telah memanfaatkan pandemi ini untuk kepentingan koruptif. Ada UU agar pemanfaatan anggaran Covid-19 dibebaskan dari pertanggungjawaban. Korupsi Bansos sudah terjadi. Politik kesehatan kita tidak mandiri, kuratif, tidak preventif apalagi promotif. Masyarakat tidak memiliki gaya hidup sehat, gagal memproduksi kesehatan sebagai public goods, dan rapuh menghadapi intimidasi industri obat dan vaksin.

Pada saat banyak fasilitas kesehatan kita kolaps menghadapi lonjakan pasien Covid19, PPKM Darurat mungkin akan diperpanjang hingga Agustus. Tentu kita bertanya-tanya mengapa setelah virus, dan vaksin datang dari China, konon dokternya pun akan segera didatangkan dari sana.

Jatingaleh, 9/7/2021

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60