Agus Mualif : Hilangnya Wahyu Keprabron

Agus Mualif : Hilangnya Wahyu Keprabron
Agus Mualif Rohadi




Oleh : Agus Mualif Rohadi

Kisah Nabi Samuel, Saul dan Dawud.

Bani Israel, ketika masa akhir nabi Musa dan masa kepemimpinan Josua.Nabi Musa mampu mengambil sebagian wilayah di sebelah timur sungai Yordan dari tangan suku Amon dan suku Moab, dan kemudian wilayah tersebut dibagikan untuk jatah suku bani Israel yaitu suku Manasye bin Yusuf, suku Gad dan suku Ruben.Setelah itu Musa meninggal dalam keadaan tidak bisa membawa Bani Israel memasuki Baitul Maghdish.

Joshua

Namun Joshua yang dapat meneruskan misi perjalanan keluar dari Mesir, dan Joshua dapat membawa bani Israel masuk ke wilayah Baitul Magdish, dengan menyeberangi sungai Yordan.

Setelah itu Joshua memimpin perangnya bani Israel melawan banyak suku suku kanaan sehingga menguasai wilayah yang sangat luas, dan sebelum meninggal wilayah tersebut dibagi pada 9 suku bani israel lainnya plus tambahan wilayah untuk suku manasye.

Meskipun telah mengklaim wilayah kekuasaan, namun di wilayah tersebut masih banyak puak-puak suku-suku kanaan yang setiap saat bisa pecah perang.

Sepeninggal Joshua, bani Israel dipimpin oleh orang orang salih lainnya yang mereka sebut sebagai hakim, namun setiap suku telah mempunyai wilayahnya sendiri sendiri yang dipimpin masing masing kepala suku. Tidak ada pemimpin bagi seluruh suku bani Israel. Masing masing kepala suku bertanggung jawab atas masing masing wilayahnya.

Jika suatu suku kesulitan dalam peperangannya, Hakim bani Israel akan membantunya, dan bilamana perlu memintakan bantuan dari suku lainnya.

Sekitar 100 tahun suku suku bani Israel terus berperang dalam wilayah kesukuannya masing masing, hingga pada akhirnya mereka semakin banyak menerima kekalahan. Bahkan tabut perjanjian pernah dirampas suku Filistin, dan hanya karena pertolongan Allah kemudian suku Filistin mengembalikan tabut perjanjian pada bani Israel.

Setelah semakin banyak mengalami kekalahan secara merata di semua wilayah suku sukunya, para tetua bani Israel sepakat meminta pada Hakimnya yang juga diakui sebagai nabi mereka, yaitu Samuel untuk menunjuk raja diantara mereka.

Nabi Samuel dan Saul

Nabi Samuel, atas petunjuk Allah tentang ciri ciri raja pertama bagi bani Israel, akhirnya menemukan orang itu, yaitu Saul dari suku Benyamin (Al – Qur’an menyebut dengan nama Thalut).

Saul dipesan oleh Samuel tentang hukum perang Musa agar dijalankan dengan benar agar Allah tidak marah dan memberikan hukuman kepada Bani Israel.

Thalut dapat memimpin bani Israel dan banyak memperoleh kemenangan. Namun kemenangan itu diperoleh dengan banyak melanggar hukum perang Musa dan dengan seenaknya dan semaunya sendiri menerapkan hukum perang Musa. Saul tidak bisa diberi peringatan, dan mengancam siapa saja yang melawannya, karena merasa dengan apa yang telah diperbuatnya telah membawa banyak kemenangan bagi bani Israel.

Nabi Samuel hanya bisa berdo’a kepada Allah agar Saul kembali menerapkan Hukum Musa dengan benar.

Namun nabi Samuel justru mendapat wahyu bahwa Allah akan mencabut hak kerajaan dari Saul dan akan diberikan kepada orang lain. Karena itu wahyu Allah, maka Samuel merasa wajib untuk memberitahukan wahyu tersebut kepada Saul.

Ketika diberi tahu tentang wahyu tersebut, Saul bertobat dan berjanji akan taat dengan hukum Musa. Tetapi Samuel mengatakan tobatnya itu sudah baik agar tidak menambah dosa baginya, tetapi dirinya tidak bisa menolongnya karena telah ada ketetapan Allah itu.

Saul hampir saja membunuh nabi Samuel karena marahnya. Setelah itu Samuel kembali pulang ke rumahnya di Rama.

Samuel hanya bisa bersedih dan menangisi nasib Saul.

Namun Samuel tiba tiba mendapat wahyu tentang ciri ciri orang yang akan akan menjadi raja bani Israel, Samuel harus mencarinya dan mengurapinya sebagai raja.

Akhirnya dicarinya orang itu dengan berkeliling secara sembunyi sembunyi karena takut dengan mata mata Saul yg terus mengawasinya. Namun Allah memberi petunjuk bagaimana dia harus melakukan perjalanannya sehingga selamat dari tangan Saul.

Akhirnya ditemukanlah orang itu, yaitu Dawud bin Isai dari suku Yehuda. Lalu diurapinya Dawud dengan cara sembunyi sembunyi.

Pada saat yang sama Saul sedang banyak mengalami kekalahan melawan puak puak suku Filistin yang memang banyak tersebar di wilayah bani Israel. Hukuman Allah pada bani Israel mulai nampak dengan bencana kekalahan dalam peperangan. Puak puak suku Filistin saat itu mempunyai peralatan dan perlengkapan perang yang lebih baik dari bani Iseael karena mereka sudah dapat mengolah logam besi dan perunggu, sedang bani Israel tidak mampu.

Banyak kekalahan itu membuat Saul sering mengalami kegelisahan dan tekanan batin yang kuat sehingga menyuruh orangnya untuk mencarikan orang yang pandai menghibur.

Dawud

Akhirnya mereka menemukan Dawud bin Isai, selain sebagai seorang penggembala domba yang tangguh juga pandai memainkan kecapi dan suaranya merdu yang membuat orang mendengarkan permainan kecapi dan nyanyiannya akan menjadi tenang, gembira, dan bersemangat.

Al – Qur’an menyebut gunung gunung dan burung burung selalu ikut bertasbih kepada Allah bersama Dawud.

Akhirnya Dawud dibawa kepada Saul, dan ketika Dawud memainkan kecapi dan bernyanyi memuji Allah, maka Saul menjadi hilang rasa gundah dan takutnya. Sejak itu Dawud akan diajak pergi kemanapun Saul pergi termasuk dalam peperangannya.

Suatu ketika dalam peperangannya yang sangat melelahkan masing masing pihak, namun suku Filistin dalam kedudukan yang jauh lebih baik dalam peperangan, sedang pasukan bani Israel mengalami kemerosotan moral perangnya, muncul tawaran dari Filistin untuk adu jago sebagai cara mengakhiri peperangan. Tidak ada cara yang lebih baik lagi agar tidak semakin banyak kurban nyawa manusia.

Filistin memajukan jagonya yaitu Goliat ( Al – Qur’an menyebutnya dengan nama Jalut)

Melihat sosok Jalut yang ukuran tubuhnya tidak umum dengan menenteng alat perang yang tidak dimiliki orang Israel, hal itu membuat semua orang bani Israel pada mengkeret nyalinya. Tidak ada yang berani mengajukan dirinya menjadi lawan Jalut. Saul menjadi bingung apakah dirinya harus menyetakan menyerah kepada Filistin.

Pada saat sulit itu, Dawud mengajukan diri untuk melawan Jalut dengan memberikan keyakinan pada Saul bahwa dirinya pernah membunuh singa dan beruang yang menerkam domba gembalaannya.

Saul kaget dan tidak menduga sama sekali atas permintaan Dawud, namun tidak ada pilihan lagi dan menyetujuinya. Saul malah memberikan baju zirah dan pedangnya untuk digunakan Dawud. Namun pemberian itu ditolak Dawud karena dirinya tidak terbiasa dengan peralatan itu dan merasa justru tidak bisa bergerak dengan pakaian dan peralatan perang Saul.

Dawud vs Jalut

Akhirnya Dawud maju melawan Jalut dan dengan ketapelnya, batu kecil dapat menerobos bagian terbuka dari penutup kepala Jalut yang terbuat dari perunggu. Jalut langsung terjengkang tidak bergerak ketika batu kecil dengan keras memecahkan dahinya. Dawud kemudian mendatangi Jalut mengambil pedangnya Jalut yang digunakan memenggal kepala Jalut dan diserahkannya kepala Jalut kepada Saul.

Kisah diatas diceritakan secara ringkas pada Qs Al – Baqarah 246 – 251, sejak dari bani Israel minta kepada nabinya agar ditunjuk seorang raja untuk mereka hingga Dawud mengalahkan Jalut

Setelah Jalut mati, suku Filistin lari meninggalkan perkemahan perangnya. Namun perang belum usai.

Sejak itu Dawud banyak ditugaskan memimpin peperangan, dan Dawud dapat melaksanakan tugas peperangannya dengan melaksankan hukum perang Musa dengan benar.

Jika Dawud pulang dari perang, rakyat bani Israel menyambutnya dengan meriah dengan pujian yang pujiannya mengalahkan pujian terhadap Saul.

Saul marah jika mendengar pujian pujian untuk Dawud namun mulai menyadari jika Dawud adalah orang yang dikatakan Nabi Samuel kepadanya yang akan mengambil kerajaan dari tangannya.

Saul vs Dawud

Saul mulai menerapkan jerat dan perangkap agar Dawud terbunuh mati dalam peperangan. Namun akhirnya Dawud menyadari bahwa Saul menghendaki kematiannya dalam peperangan.

Saul tidak ikhlas melepaskan kedudukannya sebagai raja, dan berupaya membunuh calon penggantinya.

Akhirnya Dawud dengan beberapa ratus orang yang setia padanya pergi dari pasukannya.

Saul kemudian membentuk pasukan untuk mengejar Dawud yang dianggapnya lari dari tanggung jawab dan melakukan pembelotan. Bahkan Saul terkadang ikut mengejar pelarian Dawud.

Ketika dalam suatu pengejaran terhadap Dawud, raja Saul mendapatkan suatu peristiwa yang tak terduga. Dua kali nyawanya sudah ditangan Dawud namun Dawud tidak membunuhnya.

Saul sampai menangis mendengar perkataan Dawud, kemudian Saul berpesan bahwa jika Dawud nanti jadi raja bani Israel, agar keluarganya tidak dimusnahkan dan meminta kepada Dawud agar anak cucunya dilindungi.

Lalu, dalam suatu peperangan yang lain, Saul dan putera mahkotanya yaitu Jonathan, mati bersamaan dalam peperangan.

Kemudian bani Israel mencari pengganti Saul, dan Dawud diminta menjadi raja bani Israel pengganti Saul, yang memang tidak ada orang lain yang mampu menandingi reputasi peperangan Dawud.

amr08052021

EDITOR : SETYANEGARA







banner 468x60