Daniel M Rosyid : Sekolah Ramadhan

Daniel M Rosyid : Sekolah Ramadhan
Daniel Muhammad Rosyid




Oleh : Daniel Mohammad Rosyid

Beberapa hari mendatang, ummat Islam seluruh dunia merayakan Ramadhan dengan berpuasa dan beragam kegiatan olah bathin dan akal selama 30 hari. Ramadhan disebut sebagai syahru madrasah atau bulan belajar. Jika jantung pendidikan adalah belajar, maka pembelajaran Ramadhan ini adalah pembelajaran multi-ranah multi-cerdas berbasis keluarga dan masjid serta masyarakat. Puasa adalah perilaku yang diresepkan oleh Allah swt Sang Pencipta sejak awal peradaban. Seluruh unsur tubuh kita dirancang bekerja optimal jika cukup mengalami lapar. Our whole body and mind optimally performs when appropriately starved.

Sayang sekali banyak rezim sekuler yang menyianyiakan Ramadhan. Padahal dengan mengatur pembatasan konsumsi, dan perilaku halal jasmani dan rohani manusia melalui sebuah proses transformasi untuk lebih sehat dan cerdas, sementara planet diberi kesempatan untuk istirahat memulihkan diri dari eksploitasi besar-besaran. Masyarakat yang terbiasa berpuasa akan lebih tangguh menghadapi berbagai pembatasan, termasuk pandemi ini. Kompetensi ini disebut taqwa.

Pada saat para pelajar sedang memilih sekolah dan kampus dalam beberapa bulan ke depan ini, penting dicatat bahwa pendidikan tidak sekedar bersekolah dan kuliah di kampus. Bahkan sekolah dan kampus telah terbukti makin mengerdilkan dan menciutkan akses pada pendidikan sehingga berpotensi lebih merugikan masyarakat daripada memberi manfaat. Kelahiran sekolah, pesantren dan kampus-kampus “favorit” harus dicermati karena menunjukkan gejala komersialisasi pendidikan sekaligus kastanisasi masyarakat. Sir Ken Robinson bahkan mengatakan bahwa persekolahan sebagai inovasi kelembagaan terpenting di abad lalu merupakan satu-satunya lembaga yang paling bertanggungjawab atas krisis sumberdaya manusia.

Pandemi dan internet mestinya makin menyadarkan kita bahwa pendidikan adalah persoalan perluasan kesempatan belajar, bukan persoalan pembesaran persekolahan dengan semua birokrasi dan sumberdaya yang disedotnya. Belajar sebagai jantung dari pendidikan adalah sebuah proses yang tidak pernah mensyaratkan persekolahan dengan semua formalisme birokratiknya. Belajar merupakan siklus 4 kegiatan pokok yaitu praktek atau mengalami, membaca, berbicara dan menulis. Ini bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Bahkan mensyaratkan persekolahan untuk belajar telah menyebabkan inefisensi dan irelevansi pendidikan. Penelantaran potensi-potensi agromaritim di negeri kepulauan ini adalah akibat dari persekolahan massal paksa yang dirancang sekedar sebagai instrumen teknokratik penyiapan masyarakat buruh dalam rangka industrialisasi.

Ramadhan sebagai sekolah kehidupan massal mengajarkan bahwa pusat-pusat kecerdasan masyarakat Islam itu bisa diselenggarakan secara murah di rumah, masjid dan masyarakat. Perguruan, termasuk pondok dan sekolah, berperan untuk menambahi dan melengkapi, tidak bisa dan tidak boleh menggusur peran keluarga, masjid dan masyarakat. Adab, akhlaq dan soft skills hanya bisa dikembangkan dalam keluarga, masjid dan masyarakat melalui praktek adab, akhlaq dan _soft skills_ dalam kehidupan sehari-hari bertetangga dan bermasyarakat dalam lingkungan yang plural.

Marhaban ya Ramadhan !!!

Rosyid College of Arts, Gunung Anyar,
10/4/2021







banner 468x60