Mengapa Penentuan Awal Bulan Sering Berbeda Antara Indonesia dan Makkah?

Mengapa Penentuan Awal Bulan Sering Berbeda Antara Indonesia dan Makkah?
Ilustrasi



Oleh: Soegianto, Pengajar UNAIR

 

Perbedaan dalam penentuan awal bulan antara Indonesia dan Makkah sering menjadi topik diskusi yang menarik. Masalah utamanya terletak pada penetapan titik 0 bujur Bumi. Indonesia berada di antara 95 derajat bujur timur (BT) hingga 141 derajat bujur timur (BT), sementara Makkah berada pada 39°50′ BT. Jika titik 0 bujur Bumi berada di dekat Makkah, maka penentuan awal bulan antara Indonesia dan Makkah akan selalu sama.

Koordinat Bujur Bumi dan Standar Waktu

Titik 0 derajat bujur Bumi atau yang dikenal dengan Prime Meridian, terletak di Greenwich, London, Inggris. Penetapan titik ini dilakukan pada Konferensi Meridian Internasional tahun 1884. Pemilihan Greenwich sebagai titik 0 bujur didasarkan pada alasan historis dan praktis, terutama karena Inggris pada masa itu merupakan pusat kemaritiman dan navigasi dunia. Sementara itu, bujur 128 derajat BT melintasi beberapa wilayah, salah satunya adalah Pulau Halmahera di Indonesia. Penetapan koordinat bujur ini berdasarkan pembagian sistem geografis dunia yang dirancang untuk keperluan navigasi dan peta global.

Pengaruh Perubahan Lokasi 0 Bujur Bumi

Jika lokasi 0 bujur Bumi diubah dari Greenwich ke lokasi lain, ada beberapa dampak yang perlu dipertimbangkan:

Penyesuaian Peta dan Navigasi:

Semua peta dan sistem navigasi yang ada perlu diperbarui untuk mencerminkan perubahan ini. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan memerlukan waktu serta biaya yang signifikan untuk implementasi.
Sistem penentuan lokasi (seperti GPS) yang bergantung pada koordinat bujur dan lintang juga perlu disesuaikan.

Standar Waktu Global:

Zona waktu yang saat ini didasarkan pada Prime Meridian harus dihitung ulang. Zona waktu ditentukan dengan menggeser setiap 15 derajat bujur dari titik 0.

Negara-negara yang menggunakan waktu berdasarkan Prime Meridian (Greenwich Mean Time atau GMT) perlu mengubah referensi waktu mereka.

Perubahan Hari Internasional:

Garis Tanggal Internasional (International Date Line) yang saat ini berada di sekitar 180 derajat bujur akan mengalami pergeseran. Ini dapat mempengaruhi kapan hari dimulai dan berakhir di berbagai tempat di dunia.

Pergeseran ini dapat menyebabkan perubahan dalam penanggalan di wilayah-wilayah yang dekat dengan garis tanggal, menyebabkan hari yang lebih panjang atau lebih pendek pada saat perubahan dilakukan.

Pergantian Hari dan Posisi 0 Bujur Bumi

Pergantian hari secara konvensional dikaitkan dengan posisi 0 bujur Bumi karena sistem waktu global yang kita gunakan saat ini didasarkan pada rotasi Bumi dan penentuan waktu dari Prime Meridian. Berikut adalah beberapa aspek penting:

Prime Meridian sebagai Acuan:

Prime Meridian di Greenwich digunakan sebagai acuan untuk menentukan waktu standar di seluruh dunia, dengan setiap zona waktu bergeser 15 derajat bujur ke timur atau barat.

Pergantian hari dimulai di sekitar garis tanggal internasional, yang ditetapkan di sekitar 180 derajat bujur, berlawanan dengan Prime Meridian.

Garis Tanggal Internasional:

Garis Tanggal Internasional menentukan kapan satu hari berakhir dan hari berikutnya dimulai. Ini adalah garis imajiner yang menyimpang dari 180 derajat bujur untuk menghindari pembagian daratan dan pulau-pulau menjadi dua hari yang berbeda.
Jika posisi 0 bujur Bumi diubah, garis tanggal internasional juga harus diubah agar tetap konsisten dengan penentuan hari yang baru.
Standar Waktu yang Ditetapkan Manusia

Standar waktu yang digunakan saat ini mempengaruhi bagaimana kita memandang dan mengatur waktu. Sebagai contoh, Bali yang ingin berpindah ke waktu WIB (saat ini WITA) menunjukkan bahwa penentuan waktu ini ditentukan oleh manusia untuk kemudahan. Perjalanan matahari dari Surabaya ke Jakarta membutuhkan waktu sekitar 20 menit, namun waktu ini dibuat dalam blok-blok tertentu oleh manusia untuk mempermudah pengaturan.

Waktu sholat, misalnya, tidak lagi berdasarkan blok waktu, tetapi setiap beberapa meter bujur akan memiliki waktu sholat yang berbeda. Ini menarik ketika kita membahas tentang matlak. Jarak matlak, atau zona waktu dalam konteks ini, tidak memiliki dasar yang jelas dalam satuan kilometer menurut Imam Syafii. Rentang bujur Indonesia yang luas dianggap sebagai satu matlak oleh Kementerian Agama, namun ini menimbulkan pertanyaan, apakah jika Papua tidak melihat hilal sementara Medan melihat hilal, apakah seluruh Indonesia dianggap sudah memasuki bulan baru?

Seakan-akan Indonesia memiliki perhitungan matlak sendiri, terpisah dari Saudi Arabia. Apakah batasan matlak ini merupakan batasan administrasi negara? Jika kita kembali ke syariat Islam dalam menentukan hari, tanggal, dan bulan, harusnya sesuai syariat atau ketentuan yang ada. Sementara itu, penentuan titik 0 bujur Bumi tidak memiliki ketentuan syariat.

Batasan blok waktu juga tidak ada dalam syariat. Manusia sangat terikat dengan standar-standar yang ada: waktu dengan jam, bulan dengan kalender Masehi. Dalam Islam, kita diminta mengamati alam, bukan jam. Saat menentukan waktu sholat, kita melihat pergerakan matahari. Waktu sholat tidak bisa mengandalkan jam karena akan bergerak sesuai dengan gerakan matahari. Demikian juga dengan perubahan bulan.

Kalender Masehi yang Digunakan Saat Ini

Kalender Masehi atau kalender Gregorian adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh hampir seluruh dunia saat ini. Diperkenalkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582, kalender ini adalah reformasi dari kalender Julian yang digunakan sebelumnya. Kalender Gregorian dirancang untuk memperbaiki ketidakakuratan kalender Julian dalam menghitung tahun kabisat dan menyelaraskan kembali perhitungan hari dengan pergerakan matahari.

Kalender Gregorian terdiri dari 12 bulan dengan jumlah hari yang tetap untuk setiap bulan: 30 atau 31 hari, kecuali bulan Februari yang memiliki 28 hari, dan 29 hari pada tahun kabisat yang terjadi setiap empat tahun sekali. Tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 4, kecuali tahun-tahun yang habis dibagi 100 tetapi tidak 400 (contohnya, tahun 1900 bukan tahun kabisat, tetapi tahun 2000 adalah tahun kabisat).

Kesimpulan

Standarisasi titik 0 bujur ini adalah kesepakatan manusia, bukan dari pengamatan terhadap alam. Harusnya, jika kita melihat dinamika alam, maka kita akan memiliki jumlah hari yang sama di seluruh dunia. Awal bulan seharusnya sama di seluruh dunia jika titik 0 diambil berdasarkan pengamatan dinamika alam, bukan dari kesepakatan manusia.

Jika titik 0 bujur Bumi kita ubah ke lokasi lain yang lebih netral atau berdasarkan pengamatan alam, maka perbedaan penentuan awal bulan qomariyah di seluruh dunia dapat diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Ini karena semua wilayah akan menggunakan acuan yang sama dalam melihat dan menentukan hilal. Dengan demikian, pergantian hari akan lebih seragam dan konsisten di seluruh dunia, sesuai dengan syariat Islam yang mendasarkan penentuan bulan pada pengamatan alam, bukan kesepakatan buatan manusia.

Dengan adanya titik 0 yang lebih sesuai dengan pengamatan hilal, seluruh dunia akan lebih mudah menyepakati awal bulan qomariyah yang sama, mengurangi perbedaan dan ketidakpastian yang sering terjadi saat ini.

EDITOR: REYNA




http://www.zonasatunews.com/wp-content/uploads/2017/11/aka-printing-iklan-2.jpg></a>
</div>
<p><!--CusAds0--><!--CusAds0--></p>
<div style=